Blue Eyes

Blue Eyes
LANA TAK PERCAYA 88



Dominic menggendong Raul dibawanya masuk ke dalam kamar.Disana,Dominic berlutut di depan Raul sambil mengusap wajah anak itu.


"Sayang...kamu bilang bisa liat Ibu?Apa Ibu ada disini ??"


Raul membenarkan pertanyaan Dominic .


"Dimana??Ibu ada dimana ??"Dominic mendadak merasa dadanya sesak, apalagi saat Raul menunjuk posisi hantu Murry.Dominic tak dapat menahan tangisannya.Ia bangkit, dengan langkah terseret.Dominic mendekati jendela, tempat yang ditunjuk oleh Raul sebagai tanda keberadaan Murry.


"Kakak... maafkan aku...kau pasti sedih karena selama tiga tahun terakhir,aku berhubungan dengan Celine.Aku sungguh tidak tahu Kak, kalau ternyata dialah penyebab kenapa Kakak bisa kecelakaan bersama Mas Zola "


Dominic membelai tirai jendela yang diterpa angin.Seolah-olah ia menyentuh kulit sang Kakak.


"Aku merindukanmu Kak..aku merindukanmu"


Tirai yang berkibar lembut digenggam erat, hingga Dominic berlutut dengan wajah tertunduk.Ia menangis sesenggukan.


"Papa..."Raul memeluk Dominic dari belakang,Dominic Mengangkat wajahnya.Ia pun membalas pelukan hangat anak itu.


"Teman Ibu kemana??kenapa aku tak menemukannya di kamar ??"


Dominic tersentak..


"Caca???"Dominic segera bangkit"Raul mau ikut Papa nyari Teman Ibu??


Raul mengangguk cepat,Dominic tersenyum.Ia pun membawa Raul untuk mencari keberadaan Cahaya.


*


*


Cahaya berjalan tak tentu arah.Tak ada uang atau apapun selain beberapa helai baju dan topeng legendaris.


Ia terus melangkah mengikuti kata hatinya bersama Sanca yang melilit lehernya.


Keadaan seperti ini memancing perhatian orang-orang yang melihat Cahaya .Apalagi ia memiliki paras yang cantik ??Namun Cahaya berjalan dengan tak perduli.Sampai akhirnya sebuah mobil berhenti dan keluarlah seorang pria mendekati nya.


"Kau pengawal pribadi nya Dominic ??"sapa pria itu,Cahaya menatap lekat orang yang sama sekali tidak ia kenal.Tapi menyebut nama Dominic ,Cahaya memilih untuk pergi.


"Hay tunggu kau mau kemana ??"Lana terus mengejar.


"Bukan urusanmu"jawab Cahaya ketus.


"Kalau kamu melarikan diri dari Dominic ,aku bisa membantu mu"


Langkah kaki Cahaya tertahan mendengar ucapan Lana.Ia menoleh ke belakang.


"Masuklah..."Lana menunjuk mobil nya.Cahaya tak bergeming, meskipun ia tidak tahu apa-apa tapi bukan berarti ia harus percaya dengan semua orang.


"Aku akan mengantarmu pulang,atau kau bisa bekerja dengan ku"Lana tetap membujuk.


"Kau ingin aku menjadi pengawal mu?"


Lana tersenyum mendengar terkaan Cahaya .


"Aku tidak membutuhkan pengawal, karena aku bukan Dominic "


"Lalu kenapa kamu ingin membantu ku?"


Lana tidak segera menjawab,ia menatap anak mata gadis cantik yang berhasil menggetarkan jiwanya itu.


"Karena..aku melihat cahaya biru dalam tubuhmu.Cahaya itu mirip dengan seseorang yang aku kenal "


Cahaya terkesima, Cahaya biru??Ia ingat Ibunya Lucy pernah menjawab akan pertanyaan nya tentang Cahaya Biru dalam dirinya.Katanya itu adalah dari elemen keturunan.


"Ca?? Apakah dia mengenal Ibumu?"Tanya Sanca.Cahaya tidak menjawab,tapi untuk tahu ia harus ikut dengan pria itu.


Dengan senang hati Lana membukakan pintu untuk Cahaya .Ia mendudukkan gadis itu di kursi sebelah kemudi.


"Kau mau ikut aku ke rumah sakit??Aku seorang Dokter,jadi sekarang aku harus segera ke rumah sakit.Ada pasien membutuhkan pertolongan ku"


Cahaya mengangguk setuju,Lana tersenyum tipis.Ia pun melajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit.


*


*


Setibanya di rumah sakit, Kedatangan Lana langsung disambut oleh beberapa dokter dan perawat.Karena memang ada seorang pasien yang butuh penanganan Lana.


"Dimana pasiennya?"Tanya Lana,


"Di ruang UGD Dok"Jawab seorang wanita memakai almamater putih.


Cahaya menyimak semua itu,ia juga mengikuti langkah Lana.Karena sepertinya pria itu lupa akan Cahaya.


Cahaya turut masuk ke dalam ruang UGD,tanpa mereka sadari.Karena memang situasi saat itu tengah kalang kabut.


Seorang gadis terkapar bersimbah darah di atas ranjang pasien.Gadis itu masih memakai seragam lengkap.


"Dia korban bunuh diri Dok,dan masih hidup meskipun sekarat"Dokter wanita itu menjelaskan.Lana melihat ada sosok penampakan mengikuti gadis itu.Seragam yang dipakai juga sama.Tapi wajah hantu itu hangus seperti terbakar.


"Cepat bantu aku menangani pasien"Lana memberikan perintah,semua mengangguk sigap.


Saat sedang ditangani, Tiba-tiba gadis itu sesak nafas.Detak jantung di layar monitor mulai melemah.Lana melirik hantu itu yang berseringai mistis.


Namun tiba-tiba makhluk itu lenyap menjadi asap hitam.Lana menoleh ke belakang, rupanya Cahaya ada disana.


"Dok... pasien sudah tenang"seruan Dokter wanita itu mengalihkan perhatian Lana.


"Alhamdulillah..."Lana bergumam mengucapkan syukur,ia menoleh kembali ke belakang.


"Eh kau siapa?"seru salah satu suster yang baru menyadari kehadiran Cahaya .


"Dia temanku"Lana segera menjawab.


"Tapi Dok..."


Lana menyentuh tangan suster tersebut sambil tersenyum.


"Dok... tolong tangani ini ya.."Lana meminta kepada rekan sekerjanya,ia merasa jika gadis itu sudah melewati masa kritis.Dokter wanita itu mengangguk,ia melirik gadis asing yang diatas namakan sebagai teman oleh Lana.


Lana menghampiri Cahaya ,ia mengajak gadis itu keluar dari ruang UGD.


Keluarga pasien tengah menunggu di luar dan Begitu Lana keluar,mereka langsung berdiri.


"Bagaimana keadaan putri saya Dok?"tanya sang Ayah.


"Alhamdulillah..dia sudah melewati masa kritis.Sekarang sedang ditangani oleh para Dokter kami"Lana menjawab penuh kewibawaan.


"Alhamdulillah.. terimakasih Dok"


Seluruh keluarga nampak bahagia,ada juga yang menangis haru.


*


"Apakah kamu yang mengusir hantu yang mengikuti gadis itu ?"tanya Lana saat ia sudah masuk ke ruang kerjanya.


"Kau melihatnya ??"Cahaya mendudukkan dirinya di atas kursi yang ditarik oleh Lana.


"Seluruh keluarga ku bisa melihatnya,hanya beberapa orang saja yang tidak bisa.Kami menyebut nya sebuah kutukan"


Cahaya tersenyum tipis.


"Bagaimana cara kamu mengusir nya??"Lana duduk berhadapan dengan Cahaya ,hanya meja kerja yang menjadi jarak diantara mereka.


"Dia takut padaku "jawab Cahaya sekenanya,sontak Lana menautkan kedua alisnya.Ia merasa itu sebuah candaan yang lucu.


"Kau tidak percaya ??"Cahaya tahu jika Lana tidak mempercayai dirinya.


"Emmm tanpa melakukan apapun ??"Tanya Lana.


"Yah!!karena aku adalah penguasa hutan larangan"Cahaya mencari jawaban yang fleksibel.Lana terdiam,ia merasa kurang yakin.


"Hantu itu menginginkan gadis itu mati,tapi karena ini bukan waktunya dia mati.Jadi semua jadi terkendala "


"Apakah hantu itu akan kembali ??"


Cahaya menggelengkan kepalanya.


"Tapi si pemanggil hantu yang akan datang sendiri "


"Kenapa bisa begitu ??"Lana kurang mengerti.


"Hantu tadi... adalah iblis,bukan wujud asli dari roh itu sendiri.Ada dendam yang cukup kuat sehingga menginginkan gadis itu mati"


Lana tercengang mendengar penjelasan Cahaya.Padahal dia sendiri jika ingin menguak kasus gaib harus berinteraksi Dengan hantu yang berkaitan.Dan itu bukanlah hal yang mudah.Perlu untuk bertarung terlebih dahulu dengan iblis yang bersangkutan.Kalau menang, barulah dia bisa memaksa iblis untuk mengaku.Tapi kalau kalah,maka pekerjaan nya akan lebih berat lagi.


Sedangkan Cahaya ??hanya diam saja,Lana sama sekali tidak melihat pergerakan aneh dari Cahaya tadi.


Lalu dengan apa Cahaya mengalahkan iblis itu ??