
Lana diam berpikir,ia tidak bisa menerima tentang cerita ini dari Nisya.Instingnya mengatakan,ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis kecil ini.
Bunyi alarm dari jam tangan Nisya mengalihkan perhatian semuanya.
"Emmm Om..Aku harus masuk sekolah"
Lana dan Cahaya saling berpandangan satu sama lain.Akhirnya Cahaya membiarkan gadis itu pergi.
"Apa kamu percaya cerita gadis itu ?"tanya Lana setelah Nisya pergi,Cahaya menggeleng.
"Sama..aku juga..Tapi kita harus gimana untuk mencari kebenaran nya?"
Cahaya memperhatikan Nisya yang menghilang di pintu gerbang sekolah.
"Apa kita perlu datang ke rumah Adam?"Cahaya bertanya.
"Untuk apa ??"
"Kita cari tahu tentang Adam,dan disana mungkin kita menemukan sesuatu kebenaran"
Lana mengangguk mengerti.
"Ok!!kita ke Rumah Adam sekarang "
"Kau tahu dia tinggal dimana ?"
"Itu gampang, berita yang sudah viral pasti akan mudah mencari alamat nya..yuk"Lana mengajak Cahaya untuk segera pergi,Cahaya mengiyakan.
*
*
Ella dan Sasa yang baru saja habis sarapan di sebuah cafe,tak sengaja melihat Lana bersama seorang gadis.Kebetulan di depan cafe tersebut ada sebuah lampu merah.Namun karena lampu hijau sudah menyala, mereka tak sempat menghampiri mobil Lana untuk memastikan Dokter muda itu tengah bersama siapa.
"Kamu liat itu Lana kan?"Ella ingin memastikan,Sasa mengangguk yakin.
"Sama siapa dia??"sambung nya.
"Apa mungkin sama Luna?"Sasa berusaha berpikir positif.
"Masak sih??"Ella mulai ragu.
"Coba kamu telfon"Sasa memberikan ide,Ella setuju.Ia pun mendail nomor telepon Lana.Namun tak diangkat,Ella mencoba lagi.Tetap Sama,Lana tak merespon.Perasaan Ella jadi tidak tenang.Matanya mulai mengembun.
"Kau jangan panik dan langsung emosi,bisa jadi Lana enggan angkat telpon dari kamu karena ada Luna.Tahu sendiri kan,Luna tidak suka sama kamu"Sasa memberikan kesan positif yang membuat Ella sedikit lega.
"Semoga saja begitu,aku tidak mau kehilangan Lana.Kamu tahu kan,aku sangat mencintai nya"
Sasa merangkul pundak sahabatnya,ia berusaha menenangkan Ella.
*
*
Lana menepikan mobilnya disebuah jalan kampung yang agak sempit.Ia memperhatikan sebuah rumah berdinding bata yang belum diplaster.Terasnya hanya menggunakan semen yang sudah banyak berlubang.
Cahaya dan Lana masuk ke pekarangan rumah yang tidak di pagar itu.Bendera kuning masih menancap di sisi sudut teras.
"Assalamualaikum..."seru Lana.Ia menunggu si pemilik rumah keluar.
"Assalamualaikum.."Sekali lagi Lana mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam"
Seorang wanita paruh baya memakai jubah dan hijab hitam keluar dari dalam rumah.Wajahnya sembab dan kuyu.Wanita yang sama Cahaya lihat saat di rumah sakit.
"Iya dek..ada yang bisa saya bantu"sapa wanita itu.
"Bu.. kenalkan saya Dokter Maulana, Dokter yang ingin sekali mencari tahu tentang kematian Adam.Ini benar rumah Adam kan?"
Wanita itu menutup mulutnya,ia menangis sembari mengulurkan tangannya yang gemetaran.
"Benar..saya Ibunya Adam, panggil saja Ibu Yeni "
Keduanya berjabat tangan,Cahaya turut menyalami Ibu Yeni.
"Mari masuk Dok"Ibu Yeni mempersilahkan Lana dan Cahaya masuk.
"Terimakasih Dok,sudah Sudi ingin menelusuri kasus ini"Ibu Yeni meletakkan air gelas yang berjenama Aqua di atas meja."Saya merasa tidak puas hati dengan apa yang diputuskan oleh polisi. Entah kenapa meskipun pelakunya sudah ditangkap Saya tidak yakin mereka Salah sasaran"
Cahaya dan Lana saling bertaut pandang.
"Nisya ???"Ibu Yeni berusaha mengingat nama yang sepertinya pernah ia dengar"Oh Nisya ??Sepertinya dia pernah ke sini mencari Adam Tapi saat itu Adam tengah pergi mengaji. Adam itu anak yang sholeh setiap selesai subuh dia selalu ke masjid membaca zikir. Terus setiap habis salat ashar dia selalu mengaji di masjid ,dia juga ikut Tahfiz"
"Nisya bilang dia pacar nya Adam?"sambung Cahaya .
"Pacar???"Ibu Yeni terkejut mendengar hal itu"Rasanya tidak mungkin Adam punya pacar, kalaupun iya dia pasti cerita sama saya. Adam tuh orangnya nggak pernah berahasia apapun kepada saya"
Cahaya dan Lana semakin yakin Nisya berbohong.
*
*
Nisya baru saja akan keluar kelas untuk pergi ke kantin, tiba-tiba Yanto datang menghadang langkah nya.
"Ya-Yanto"Nisya terbelalak seperti tengah melihat hantu.
"Kenapa ??kaget lihat aku ada disini"jawab Yanto ketus.
"Bu-bukan nya kamu juga di tangkap polisi ??"
Yanto menarik sudut bibirnya dengan sinis,ia menarik tangan Nisya lalu dia seret ke atap sekolah.
Nisya panik,ia ingin melepaskan diri namun ia takut akan mengundang kecurigaan bagi yang lainnya.
Yanto melepaskan cekalan tangannya saat ia dan Nisya sudah berada di atap sekolah.
"Sakit tahu nggak"Nisya meringis sambil lalu mengusap bekas cekalan tangan Yanto.
"Nggak usah cengeng deh,tadi siapa yang mengejar mu?"
Nisya sontak kaget ,darimana Yanto tahu??
"Kamu bilang apa yang sebenarnya terjadi ?"Yanto terus mencerca Nisya dengan pertanyaan.Nisya menggeleng..
"Jangan bo-ong kamu!!"
"Nggak aku nggak bilang kok,,,aku nggak mungkin mengatakan yang sebenarnya"Nisya tertunduk ketakutan.
"Bagus...ingat baik-baik,aku dilepaskan karena Gibran mempercayakan kamu sama aku.Kalau kamu sampai buka mulut ??kamu tahu apa akibatnya,untuk kamu dan keluarga mu"
Nisya mengangguk cepat.
"Hem.. sekarang pergilah,aku akan selalu memantau mu"
Nisya patuh,ia segera pergi dengan perasaan ketar ketir.
*
*
Cahaya melirik ponsel yang tidak berhenti berbunyi,ia juga melirik Lana yang terkesan acuh.
"Om Dokter..."Cahaya memanggil yang sontak membuat Lana menoleh.
"Om Dokter ??"
"Iya...tadi anak itu memanggil kamu Om,dan kamu bilang Dokter sama Ibunya Adam.Jadi aku gabungin aja Om Dokter"Cahaya menjelaskan.
"Hah??? Apakah aku setua itu??Aku belum menikah"
"Emang Om Dokter merasa masih muda??"
"Oh my God..."Lana menyanggah kan kelapanya ke tangannya.Ia mendadak sakit kepala dengan panggilan yang digunakan Cahaya .
"Om Dokter... tuh bunyi terus, bising"
Lana melirik benda pipih itu .
"Biarkan saja,malas... nanti bisa terjadi perang dunia"
"Ohya??emang apa yang bisa dilakukan barang ini sampai terjadi perang?"
"Kamu belum pernah makek barang begini an??"
Cahaya menggeleng
"Emmm nanti aku ajarkan"
Cahaya tersenyum,ia sangat senang jika akan diajarkan hal baru.