Blue Eyes

Blue Eyes
PESTA ULANG TAHUN 25



Idris membolak-balik kartu undangan yang diserahkan Ibunya.


"Apa ini Ma??"


Nicta mengedikkan bahunya...


"Entahlah... macam-macam ide gila Ayahmu.Hanya untuk bertemu dengan gadis itu"


"Hah??Papa ngundang Soraya juga??"dua pupil mata Idris melebar.Nicta mengangguk..


"Aduh"Idris membanting pan-tatnya ke bibir kasur.Ia mulai panik, membayangkan nya saja Idris sudah mengeluarkan keringat dingin.


"Kenapa ??wajahmu shock sekali"


"Ma..Idris nggak mau ketemu dia lagi... Sebenarnya keinginan Papa itu apa?kenapa dia seperti maksa banget biar ketemu sama Soraya"


"Hemm Papa mu memang gitu...dia merasa kamu menyukai gadis itu"


"No .."Idris membantah dengan tegas"Idris sudah bilang sama Papa,ini bukan masalah perasaan..aduh Papa nih"Idris menggaruk kepalanya,ia sangat stres sekali.Nicta tersenyum lucu melihat tingkah putranya itu.


"Sudah tenang saja,kalau kamu tidak mau bertemu dengan nya,menjauh saja dari nya...Ok!!Lagi pula nanti si kembar juga datang.Bermainlah dengan Luna"


"Ah Luna lagi...males ah..."Idris semakin bete'.


"Ya terus mau gimana lagi... undangan udah sebagian disebarkan "


Idris merengut kesal,ia memeluk bantal dengan wajah manyun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari pesta ulang tahun Muhammad Idris sudah tiba.Pesta itu memang sangatlah mewah,karena di sponsori oleh kesultanan Brunei sendiri yang menghabiskan dana sekitar 10MILIYAR.


Tamu-tamu agung pun banyak yang hadir,Yas memilih rumah nya sendiri untuk dijadikan tempat pesta tersebut.Karena Yas lebih suka menyediakan makanan sendiri dari pada harus memesan catering.Karena jika membuat sendiri, akan memiliki banyak cadangan makanan jika tamu undangan yang datang melebihi kapasitas.


Yas juga mengundang para orang fuqoro' dan menyediakan tempat lain untuk mereka makan.Agar tidak tercipta rasa segan diantaranya.


Sejak pesta digelar,Idris sudah galau.Ia benar-benar panik jika sampai harus bertemu dengan Soraya.Pria itu berusaha untuk tidak terekspos dan memilih untuk duduk jauh dari keramaian.


Soraya sendiri belum tahu jika ini adalah pesta ulang tahun Idris.Ia datang dengan memakai gaun panjang berwarna bling-bling silver dan ada belahan di paha kirinya.Gaun itu benar-benar membuat kecantikan Soraya semakin terpancar.Rambutnya disanggul, dengan sedikit hiasan bunga dari emas putih.Make-upnya dibuat natural namun elegan.


Saat ia keluar dari dalam mobil,semua mata menatap takjub ke arahnya.Gadis itu gugup,ia menggenggam tangan Ibunya dengan kuat.Kartika tak pernah melepaskan putrinya itu.Ia tahu kalau Soraya sangat nervous.


Lain halnya dengan Fitri,anak bungsu Dinar dan Indra.Ia berjalan bak model,gaun merah menyala sangat kontras dengan kulitnya yang putih.Ia tersenyum menanggapi Tatapan mata orang-orang disekitarnya.


Saat kedatangan Prabu Atmajaya dan keluarga nya disambut langsung oleh Muhammad Ilyas,tanpa sengaja Sofi yang mengekori Soraya melihat sosok yang sangat dikenalnya.


"Ya'...dia berada di arah jam 11"Bisiknya.


Soraya melirik ke arah yang disebutkan.


"aku masuk ke tubuh mu ya"


Belum Soraya menjawab,Sofi main masuk aja.Kartika heran karena Soraya melepaskan genggaman tangannya.


"Ma...Aya' ke toilet dulu ya..."


Dengan terpaksa Kartika mengangguk,Ilyas baru bisa melihat dengan jelas wajah Soraya saat gadis itu memisahkan diri dari rombongan.Yas tersenyum tipis,gadis itu benar memiliki mata biru yang indah.


"Boleh saya temani Om"Sofi mulai melancarkan aksinya.


"Boleh..."Setyo Adjie bagai kucing yang dikasih makan ikan salmon,ia sangat merasa beruntung malam ini.


"Kenalin Om"Soraya mengulurkan tangannya "Soraya..."


"Jangan kau kotori tubuhku hantu gatel"Seru jiwa Soraya yang sebenarnya dan hanya Sofi yang bisa mendengarnya.


"Adjie... Setyo Adjie"pria tua itu meraih tangan Soraya lalu mengecup nya,


"Bang-sat"maki Soraya geram."Cepat keluar dari tubuh ku"


Tiba-tiba sebuah tangan menarik Soraya hingga ia berdiri dari kursinya.Soraya terbelalak, bersamaan dengan itu roh Sofi melekat di kursi berpisah dengan tubuh Soraya.


AKH..


Soraya seperti terdorong hingga menubruk tubuh Idris yang menarik nya.Idris melingkarkan tangannya di pinggang Soraya.Tubuh keduanya menempel dengan intens.


"Ini bukan tempat mu"Gumam Idris lirih yang hanya bisa didengar oleh Soraya.Tanpa meminta persetujuan dari Soraya,Idris membawa gadis itu menjauh dari kerumunan orang-orang penting berkumpul.


Setyo Adjie hanya bisa memperhatikan kepergian gadis yang baru saja berhasil menggodanya.Tapi ia tidak bisa berbuat banyak ketika secara paksa si gadis dibawa pergi oleh anak tuan rumah.


Roh Sofi menjeling tajam, amarah dendamnya berkobar.Kini ia sudah berhasil menemukan pria yang sudah membunuhnya,dan juga yang dengan kejam menahan rohnya di dalam lift yang sudah menindihnya.


Entah sudah berapa lama ia tertahan disana,Sofi dengan sabar menunggu keajaiban agar rohnya bisa terlepas dari jeratan PENUMBALAN.


Akhirnya,saat ia tanpa sengaja iseng ngerjain seorang gadis yang sendiri naik lift.Tak terduga,gadis itu bisa menyentuhnya dan melepaskan rohnya dari jeratan PENUMBALAN.Sampai akhirnya ia bisa berada dihadapan pria kejam ini,tanpa pria itu sadari.


_


"Kau mau bawa aku kemana ?"Soraya berontak,tapi tangan Idris memeluk nya erat.


Di lain tempat Luna mencari Idris,sejak ia tiba di rumah sepupunya itu.Ia belum bertemu dengan sang keponakan yang berhasil menggetarkan jiwanya.Padahal ia sangat berasumsi tinggi bisa bertemu pria itu untuk mengobati rasa rindu nya.


"RIS...."


Luna tadi sempat melihat kelibat laki-laki itu,tapi Idris tidak sendiri.Karena penasaran ia mengikutinya.


"RIS .."


Suara Luna terdengar dekat,Idris enggan untuk bertemu wanita yang disebut Bibik karena sepupu ayahnya.


Gadis itu pernah mengungkapkan rasa sukanya kepada Idris saat birthday tahun kemarin.Sejak saat itu, Idris berusaha menjaga jarak.Karena ia masih belum bisa untuk mencintai seorang wanita.Ia lebih suka berpetualang kemana-mana sesuka hati.


"RIS..."


Idris melihat bayangan gadis itu semakin mendekat.Soraya kebingungan karena wajah Idris terlihat tegang,ia mengikuti kemana arah pandang pria itu.


Tiba-tiba Idris menarik pinggang ramping miliknya,dan tanpa diduga pria itu ******* bibirnya.Pupil blue Eyes melebar sempurna.Tubuhnya bergetar hebat,kakinya lemas.


Pagutan itu begitu lembut membuat darahnya berdesir panas.Secara naluriah, Idris melakukannya dengan baik.Ia menggigit bibir itu bergantian.


Luna mengedarkan pandangannya,dan...Ia tercekat.Dadanya sesak , nafasnya tersengal-sengal.Hampir saja ia roboh kalau tangannya tidak cepat memegang sebuah pohon Pinus.Pemandangan yang tersaji benar-benar membuat hati dihujam sembilu bertubi-tubi.