
Cahaya memperhatikan dua pria itu masuk ke dalam mobil,ia melihat aura negatif itu berbentuk bayangan hitam mengikuti mobil yang perlahan menjauh.
"Non....ada apa ??"Pertanyaan Musthafa mengalihkan perhatian Cahaya .Ia tersenyum tipis..
"Tolong hubungi om Dokter, tugas ku sudah selesai.Katakan padanya agar dia membawa tubuh ku.Malam ini kita akan mengadakan ritual Ngganti awak"pinta Cahaya .
"Tapi Non...Apa Non Aurel akan kembali dalam kondisi sebelumnya setelah ritual itu??"Musthafa terlihat khawatir.
"Kita lihat saja nanti... berdoa saja...Ok!!"Cahaya menepuk pundak Musthafa seraya masuk ke dalam rumah.
*
*
Irwan menghempaskan pantat nya di kursi depan Bar mini milik Intan.Wajah Irwan terlihat lelah dan kurang semangat.
Intan menyodorkan sebuah minuman kaleng rasa buah kesukaan Irwan.Tanpa mengucapkan sepatah kata, Irwan langsung menenggak minuman itu sampai tandas.
Intan berdiri membelakangi sambil sibuk memasak untuk makan siang.
Beberapa kali Irwan terlihat menghela nafas berat.Banyak hal yang tengah dipikirkan oleh pria matang itu.
"Kau masak apa?"akhirnya Irwan buka suara.Namun Intan diam seolah-olah tidak mendengar.Yah!!sejak perdebatan semalam,Intan banyak diam.
Karena tidak menemukan jawaban yang berarti, Irwan memutuskan untuk masuk ke kamar saja.Tapi tiba-tiba dada Irwan berdenyut sakit.Sakit yang teramat sangat, Irwan merasa susah sekali untuk bernafas.Sampai ia ter-engah-engah layaknya seekor ikan yang kekurangan air.
Intan menarik sudut bibirnya,ia berputar dan mendekati Irwan yang sudah terkapar di lantai.Intan memungut botol bekas minuman yang baru saja diminum oleh Irwan.Ia meremasnya kuat lalu dilemparnya ke tong sampah.
Irwan menggapai-gapai udara kosong, seperti memberi tanda agar Intan menolongnya.Tapi justru senyuman tipis yang disuguhkan oleh Intan.
"Kenapa Mas??? Apanya yang sakit??"Intan berdiri tegak diatas tubuh Irwan yang menggelepar.
"Sakit yang kau rasakan sekarang, tidak ada apa-apanya Mas.. dibanding sakit hati yang aku rasakan Karena ucapanmu semalam"
"Ka..KA..kau..."Irwan ingin mengatakan sesuatu, namun tak sampai.
"Iya Mas... seperti apa yang kamu pikirkan? aku telah menyuntikkan beberapa tetes obat yang bisa membuat kau terkena serangan jantung"
Dua bola mata Irwan melebar, nafasnya semakin terasa sesak.Intan berjongkok, sebelah tangan nya mencengkram geraham Irwan.
"Jangan katakan aku kejam Mas,, karena kamu jauh lebih kejam. Cintaku,, pengorbananku,, yang aku lakukan selama ini untukmu. Hanya dijadikan sebagai jembatan untuk bisa mencapai semua keinginanmu . KAU psikopat cinta ,yang melakukan segalanya atas nama cinta . Padahal kau membunuh hatiku ,kau membunuh hati Aurel, hanya demi uang"
Tenggorokan Irwan terasa panas, jantung nya nyeri bagai tertusuk pisau.Irwan memukul-mukul lantai.Ia sangat kesakitan.
Intan melepas cengkraman nya,tidak lupa ia mengelap bekas sidik jarinya di wajah Irwan.
"Akan ku katakan pada Polisi,jika kamu shock sampai terkena serangan jantung akibat perceraian diantara kau dan Aurel"Intan tersenyum licik.Ia bangkit meninggalkan Irwan yang menggelepar hingga meregang nyawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti yang sudah dijanjikan,Maulana membawa tubuh Cahaya ke kediaman Aurel.Ia membaringkan tubuh Cahaya dengan dibantu oleh Musthofa.
Tapi kali ini,Cahaya meminta agar mereka meninggalkan kamar itu.Tidak seperti sebelumnya,Cahaya melakukan ritual Ngganti awak ditemani oleh Maulana .
Meskipun Maulana enggan untuk pergi,namun pada akhirnya ia terpaksa menuruti permintaan Cahaya .
Aurel berbaring di samping tubuh Cahaya ,ia melipat tangan di atas perut.Lalu memejamkan mata.Dalam hitungan menit roh Cahaya yang berada di dalam jasad Aurel bangkit,dan berpindah ke tubuh nya sendiri.
Jiwa Aurel pun kembali menampakkan diri,ia mengulum senyum manis karena Cahaya telah mengabulkan keinginannya untuk berpisah dengan Irwan.
Cahaya membuka matanya, ia bangkit disertai helaan nafas panjang.Pandangannya bergulir menatap tubuh Aurel yang tak bergeming.Cahaya mengganti posisi duduk nya dengan bersila.Kedua tangannya merentang lebar,matanya tertutup rapat.Tetiba dari kedua telapak tangannya keluar cahaya terang seperti bulan.Cahaya menyatukan kedua tangannya di dada lalu memutar nya dari sudut bawah ke atas.Setelah itu,Cahaya mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah Aurel hingga ujung kaki.
"Ku berikan kau satu kehidupan, dengan Sang Pencipta.Sebagai mana ku ambil jiwa manusia yang berdosa.Ambillah dan jagalah.. kesempatan tidak akan datang dua kali"
Secara perlahan,,,,Cahaya membuka kelopak matanya. Selang beberapa saat kemudian tiba-tiba Aurel terjaga dengan tarikan nafas panjang.Sampai terlihat cekungan di lehernya.
Cahaya tersenyum, akhirnya apa yang dilakukan nya di ridhoi oleh Yang Maha Kuasa.
Aurel terengah-engah ,ia kembali tenang setelah merasa dadanya dicukupi oleh udara.
"Welcome.."
Aurel beralih perlahan menatap seorang gadis yang seperti datang ke dalam mimpi nya.
"Ka-kau??? Apakah kau nyata??"Aurel merasa kurang yakin.Padahal dirinya merasa jika semua adalah mimpi, mimpi yang begitu panjang.
Diluar kamar, Musthafa diam mematung.Kedua tangannya saling meremas satu sama lain.Ia takut dan khawatir,jika setelah ini Aurel akan kembali ke kondisi semula.
Sebenarnya ia ingin agar Cahaya tetap berada di dalam tubuh anak majikannya.Karena meskipun ia tahu bahwa itu bukanlah Aurel,tapi setidaknya ia bisa melihat Aurel sehat kembali.
Namun saat pintu terbuka,dan Aurel keluar dari dalam.Musthofa tercengang,,,Di tambah lagi, sosok lain berdiri di belakang tubuh Aurel.
"Kau berhasil ??"Pekik Maulana tak percaya.Cahaya mengiyakan...Maulana kegirangan sampai menarik tubuh Cahaya kedalam pelukannya lalu dibawanya tubuh ramping itu berputar-putar.
"Nona???"gumam Musthafa,ia masih tidak percaya.Aurel tersenyum tipis..
"Mana Papa??"
"Hah???Tuan???Oh Tuan Ada Nona...mari.."Musthofa menunjukkan jalan yang diikuti oleh Aurel.Cahaya dan Maulana mengikuti dari belakang.
"Papa..."Seru Aurel sebak,ia berlari dan memeluk Pak Adit yang tengah duduk di kursi Roda.
"Papa...Aurel kangen sama Papa... Maafin Aurel Pa .hiks hiks hiks..."
Musthafa menemukan sesuatu yang lain,ia memeriksa denyut nadi Pak Adit.
"Tuan....Tuan....oh tidak..Tuan"Musthafa membuka kelopak mata Pak Adit lebar-lebar.
"Ke-kenapa???Papa kenapa ??"Aurel bingung dengan tindakan yang dilakukan Musthofa.Apalagi melihat kondisi Pak Adit yang diam seperti patung.
"Non...Tuan...Tuan..."Tak sanggup Musthofa mengatakan apa yang terjadi.
"Papa kenapa ?? cepat bilang!!Papa kenapa ??"
"Ayahmu meninggal "Cahaya menjawab mendahului.Pupil mata Aurel melebar, kepalanya geleng-geleng pelan.
"Apa yang kau katakan ???Kau bilang Papaku meninggal ??hah?"Aurel menyerang Cahaya hingga gadis itu terjejer kebelakang.
"Stop!!"Maulana berteriak sembari menghadang Aurel mendorong Cahaya lagi"Kau seharusnya berterima kasih karena Cahaya sudah membantu mu dan memberikan kehidupan kepada mu"
"Yah...Aku sangat berterima kasih,tapi kenapa dia sok tahu tentang Papa??Apa yang dia lakukan kepada Papaku,hah???"Bentak Aurel lantang.
"Non..tenang...Nona harus tenang "Musthafa memberanikan diri untuk menenangkan Aurel.
"Gimana aku bisa tenang??Aku sangat merindukan Papa..dan setelah aku kembali,kenapa Papa justru meninggal kan ku??kenapa Musthafa ???kenapa"Aurel mencengkram kuat kemeja Musthafa,sembari mengguncang-guncang tubuh pria itu.
"Karena...Papamu... bersedia menukar kehidupan nya agar kamu bisa hidup kembali"Jawaban Cahaya sungguh mencengangkan,tiga orang lawan bicaranya hampir bersamaan menatap dirinya dengan Nanar.