Blue Eyes

Blue Eyes
KETAHUAN ELLA 95



"Si-siapa kau ??"


Cahaya tersenyum,ia membenarkan selimut di kaki Gibran dengan lembut.


"Aku seseorang yang akan membela tentang kematian Adam"


Pupil mata Gibran melebar saat mendengar nama Adam.


"Bukankah kamu sudah tahu semua bukti yang Adam miliki ?"


Gibran menahan nafas,jadi semua yang ia lihat Bukanlah mimpi ??


"Dan lagi aku tahu,Ayahmu adalah pemuja Wewe gombel.Aku tahu Ayahmu meminta agar semua polisi percaya semua yang kamu katakan.Dan meminta hakim agung supaya mengasihani dirimu sehingga kau bisa segera bebas"


Gibran menganga mendengar hal itu.Cahaya Mengangkat dagu anak itu agar mulut nya mengatup.


"Jika semua bukti ini aku tunjukkan,maka seluruh keluarga mu akan hancur"lanjut Cahaya dengan senyuman.


"Ka-kau minta berapa ??aku akan memberikan semua yang kamu mau,kau sebut saja.Tiga digit?lima digit ??Papa ku pasti akan memberikan semua yang kamu mau"dengan berani Gibran melakukan negosiasi.


"Kau pikir aku mau uangmu setelah aku tahu bahwa kamu mendapatkan semua itu dari menyembah Wewe gombel ??"


Wajah Gibran yang percaya diri langsung berubah pias.Cahaya tersenyum...


"Aku mau kamu mengakui semuanya"


Gibran tak bergeming, Tatapan nya lurus ke anak mata lawan bicaranya.


"Kau membohongiku"Bibir Gibran gemetar berucap.Senyum Cahaya serta merta lenyap.


"Maksud mu ??"


"Aku tahu kau sedang mengintimidasiku agar aku mengaku"


"Ohya???Apa kita mau taruhan??"


"Taruhan apa?? katanya kamu tidak mau uang ??"Balas Gibran.


"Kalau aku bisa membuktikan semua yang aku katakan, termasuk kebusukan Ayahmu!!Kau harus mencium kaki Adam di depan khalayak ramai "


Gibran terkejut..


"Kau ingin aku mencium kaki mayat??hah??"Gibran berdecih sombong.


"Aku Anggap kau setuju, bersiap lah"Cahaya menarik sudut bibirnya,ia melangkah mundur.Gibran jadi risau,ia bingung harus gimana ??


Pintu bangsalnya terbuka, Kusuma Akbar Galih muncul bersama istrinya dan beberapa pengawal.Ia langsung menghampiri putranya.


Sedangkan Gibran sendiri heran,kenapa tidak ada yang menyapa ataupun menatap Cahaya saat itu.Malaj semua terkesan tidak perduli saat gadis itu melangkah keluar bangsal.


"Gibran..kamu nggak apa-apa nak Hah??"Istri Kusuma memangku wajah putranya yang justru tak perduli.


"Kau lihat apa Nak?"Ibu Gibran melihat ke arah pandangan anaknya tertuju.


"Ma...Mama lihat gadis itu kan??"Gibran menunjuk ke arah luar.


"Gadis siapa ??"tanya Kusuma heran.


"Itu Pa...Yang baru saja keluar"


"Siapa sih Nak?? tidak ada siapa-siapa di kamar mu?"ujar sang Ibu.


Gibran tercenung,nafasnya mulai tidak beraturan.Ia panik, ia cemas, tiba-tiba tantangan yang diucapkan Cahaya terngiang-ngiang di telinganya.


"Kalau aku bisa membuktikan semua yang aku katakan, termasuk kebusukan Ayahmu!!Kau harus mencium kaki Adam di depan khalayak ramai "


"Tidak!!tidak!"Gibran menggelengkan kepalanya, wajahnya pias ketakutan.


"Gibran kamu kenapa Nak??"Ibu Gibran berusaha merangkul putranya.Namun Gibran menepis tangan Ibunya.


"Pa..anak kita kenapa?"


Kusuma Akbar Galih tak bisa menjawab, ia hanya berusaha menenangkan anak bungsunya itu.


"Gibran..tenang...kamu hanya berhalusinasi"


Istri nya pun bereaksi hal serupa,ia mendadak cemas dan takut ada orang mendengar perkataan Gibran.


"Kalian jaga diluar"Kusuma memberikan perintah kepada ke dua bodyguard nya.Mereka mengangguk patuh.


Setelah pengawal itu keluar, Kusuma baru membuka mulut anaknya.


"Kau bicara jangan sembarangan, kalau ada yang denger gimana ??"


"Ini serius Pa..gadis yang baru saja keluar dari kamar Gibran tahu akan hal itu.Dan dia mengancam Gibran "


"Itu semua hanya takhayul,kau sedang di jampi-jampi orang agar mengakui semuanya"Kusuma menepis apa yang dikatakan oleh Gibran.


"Pa...dia tahu semua apa yang terjadi ??aku takut Pa, karena dia bilang akan membuka semuanya termasuk kedok Papa"


Kusuma dan istri nya saling berpandangan satu sama lain.


"Itu tidak mungkin,kau benar-benar sedang dalam pengaruh sihir.Aku akan minta ijin sipir untuk membawa mu pulang dengan alasan akan diobati ke luar negeri"


"Papa yakin bisa??"Gibran mendadak ragu.


"Tidak ada yang tidak bisa dilakukan jika kita punya uang.Tenang saja"jawab Kusuma Akbar Galih santai.


Barulah Gibran sedikit lega, meskipun ia masih rada takut.


*


"Kau dari mana?"sapa Lana saat ia baru saja menemukan keberadaan Cahaya.Cahaya kaget karena disapa dengan tiba-tiba.


"Emmm ayo ikut aku"Tanpa segan Cahaya memegang tangan Lana dan dibawanya ia pergi ke ruang kerja Maulana.


Pria itu tersenyum disebabkan Cahaya sekarang tengah melakukan kontak fisik dengan nya.


Pada saat itu tanpa mereka sadari,Ella menangkap dengan matanya pemandangan itu.Hatinya sakit,rasa cemburu membuat nya melangkah cepat menyusul dua orang yang telah menyakiti hati nya.


Maulana masuk ke ruangannya,lalu menutup pintu.Ella semakin mempercepat langkah kakinya.


"Kenapa?? sepertinya kau tengah bersemangat sekali"Tanya Maulana, wajahnya dihiasi senyuman yang menggoda.


"Gibran ada disini -?"Ucap Cahaya .


"Ohya??Apa pasien yang berasal dari lapas itu adalah Gibran ??"


Cahaya membenarkan.


"Kok bisa???di Lapas kan ada rumah sakit yang khusus untuk narapidana ??"


"Aku sengaja memancing nya kemari, karena kamu bilang aku tidak bisa menemui nya di penjara"


Lana menatap tak percaya.


"Lana..."pintu terbuka, Ella muncul dengan wajah terkejut"Ini???Ini kan bodyguard Dominic ??"


Cahaya dan Lana saling berpandangan.Mendadak Cahaya cemas ada orang yang mengenali dirinya.Ia langsung bersembunyi di balik tubuh Lana.


"Ella...kamu kok disini ??"


"Kenapa ??apa sekarang aku tidak boleh berada di sini ??dan kenapa dia ada disini ?? berduaan bersama kamu lagi?pakek pegangan tangan..Apa setelah membuat Dominic dan Celine putus ?kau juga menginginkan aku dan Lana putus ?? Sebenarnya kau siapa hah??"Ella tak dapat menahan emosi,ia hendak menarik Cahaya namun ditepis oleh Maulana.Ella terkesiap kaget.


"Kau melindungi nya??"


"Ella kau salah paham"


"Salah paham???kau tahu?berapa kali aku menelfon tapi tidak kamu angkat,dan apa kamu tahu kenapa aku menelepon mu?? Karena aku melihat kau duduk semobil dengan seorang gadis.Meskipun aku tidak tahu gadis itu dia?atau Luna..Karena aku ingin memastikan dan bertanya langsung padamu.Tapi apa yang aku lihat ??kau bergandengan tangan dengan nya Lana??"


Maulana menoleh ke belakang punggungnya,disana Cahaya bersembunyi.Entah kenapa gadis itu terlihat takut pada Ella??.


"Tolong jelaskan Lan...jangan kau diam saja"Sambung Ella yang terdengar masih ingin mendengar penjelasan dari kekasihnya.


"Ell..dia disini bukan seperti yang kamu tuduhkan.Dia kerja disini.."


"Kerja??kerja apa??Celine mengatakan dia itu kolot sekali dan sangat kampungan.Emang dia bisa kerja apa???Oh...apa kamu juga butuh penjagaan seperti Dominic ??"


"Ella... please.. percaya sama aku,dia disini untuk kerja sama aku.Dan aku yang meminta nya.."Lana tetap berusaha menjelaskan.