Blue Eyes

Blue Eyes
NGGANTI AWAK 108



"Lalu ?? sekarang keadaan nya gimana ??"tanya Cahaya berempati.


"Sebelum aku dibawa kabur dari rumah sakit tempat pertama kali aku dirawat,setahu ku..Papa sudah memberikan kepercayaan penuh kepada Mas Irwan.Beliau memfokuskan diri untuk menjaga ku.Tapi mustahil aku bisa sembuh jika bertahan disana, karena Mas Irwan telah bekerja sama dengan Intan.Dokter yang menangani diriku secara langsung,dan juga dia sepupu ku.Mereka telah menjalin hubungan di belakang ku,dan mereka juga sudah merencanakan semua nya dari awal"


"Maksud mu?? Sepupu mu berkolaborasi dengan suami mu untuk membunuh mu??"Tanya Maulana.Aurel mengiyakan.


"Mereka juga sama-sama ingin menguasai kekayaan keluarga ku"


"Jahat banget "gumam Cahaya .


"Kalian mau kan membantu ku??"Aurel sangat berharap sekali bantuan dari dua manusia yang kini berhadapan dengan nya.


"Kami akan membantu mu,tapi kami juga tidak tahu harus mengawali nya dari mana??"ujar Maulana.


"Tolong temui Papa, katakan padanya mengenai semua yang aku katakan.Agar Papa memecat Mas Irwan dan menjauhi Intan"


Maulana mengalihkan perhatiannya kepada Cahaya ,gadis itu mengangguk sebagai tanda setuju.


*


*


Siang itu, setelah mengosongkan jadwal praktek.Maulana dan Cahaya langsung meluncur ke rumah Aurel,mereka sudah mengantongi alamat rumah itu dari Aurel sendiri.


Tapi setibanya disana mereka justru diberi tahu jika Pak Adit ,ayah Aurel sedang dirawat di rumah sakit karena stroke.


Maulana dan Cahaya tidak menunggu lebih lama lagi, mereka langsung menuju ke rumah sakit tempat Pak Adit di rawat.


Di bangsal VIP ,Pak Adit ditemani seorang pria muda dengan pakaian layaknya seorang supir.


"Maaf ini benar ruangan Pak Adit dirawat ?"tanya Maulana ingin memastikan,Pria itu mengiyakan.


"Anda siapa?"tanya nya.


"Saya Dokter Maulana, Dokter dari rumah sakit tempat Nona Aurel dirawat "


"Stttt"pria itu serta merta meminta agar Maulana diam.Ia keluar bangsal, mengintip ke kanan dan ke kiri koridor.Di rasa aman, Pria itu menutup pintu rapat-rapat.


Ia mengajak Maulana dan Cahaya untuk duduk di sofa pengunjung.


"Jangan keras-keras kalau nyebut nama Nona, saat ini ada beberapa orang yang mencari keberadaan Nona. Jadi ku harap kalian pura-pura tidak tahu saja, mengerti ??"Pria itu memberi instruksi yang langsung diangguki oleh Maulana dan Cahaya .


"Aku Mustafa, supir pribadi Nona.Aku yang membawa Nona diam-diam ke rumah sakit itu.Tak ku sangka,Tuan terkena serangan jantung saat menemukan Nona hilang,hingga mengakibatkan stroke.Aku merasa sangat bersalah sekali.Sekarang aku menjaga Tuan dengan intensif agar Intan tidak bisa menyentuh Tuan.Karena aku tahu wanita itu sangat jahat sekali "


Maulana manggut-manggut tanda mengerti.


"Dokter mau apa datang kesini ?? bukankah saya sudah menyerahkan kartu kredit no limit milik nona untuk biaya kesembuhan nya"Sambung Musthafa.


"Saya datang ke sini untuk menemui Pak Adit atas permintaan Aurel"Jawab Maulana.


"Hah??Apa?? Non Aurel sudah siuman??"Bibir Musthofa nampak gemetar.Maulana menggeleng pelan, membuat Musthafa kebingungan.


"Terus kalau non Aurel belum siuman ?Kenapa Anda bilang anda ke sini atas permintaan non Aurel?"


"Saya bisa melihat roh atau jiwa manusia,dan saya juga bisa bicara dengan nya"


"Apa...??"pupil mata Musthafa melebar"Maksudnya ??Non Aurel sudah meninggal ???"


"Tidak...bukan begitu... Jika seseorang mengalami coma, dia berada diantara hidup dan mati jadi dia berada di antara dua alam sekaligus "


"Ooohhhh aku kira...."Musthafa mengusap dadanya,ia merasa lega sekali.


"Kemana Irwan ??"Cahaya yang sejak awal diam saja, akhirnya ikut bertanya.


"Dia di kantor, mengurus perusahaan..."jawab Musthafa.


"Sekarang kita harus gimana LAN?? kita diminta untuk menemui Pak Adit, tapi Pak Adit sendiri sedang sakit"Sambung Cahaya .


Cahaya mengangguk setuju dengan usul Maulana .


"Kalau begitu kami permisi dulu ya...kami harus menemui Aurel terlebih dahulu"Maulana berpamitan, Musthafa mengiyakan.


"Ohya...biar kalian tidak perlu mondar-mandir,dan agar tidak dicurigai.Nanti kalau ada apa-apa, hubungi aku saja.Ini nomor rahasia ku, karena yang lain sudah disadap"Musthafa memberikan kartu namanya.Maulana tersenyum menerima kartu itu.


"Terimakasih"ucap Maulana .


"Saya yang seharusnya berterimakasih, karena kalian jauh-jauh datang kesini untuk membantu Nona.Tolong sampai kan salam saya,Agar Nona cepat sembuh dan cepat kembali ke sini.Kasihan Tuan..."Musthafa berucap dengan mata berembun.


Maulana mengiyakan sembari menepuk pundak Musthafa.


Maulana keluar dari bangsal tempat pak Adit di rawat dengan langkah panjang dan cepat.Cahaya pun mengikuti dari belakang.


Intan yang sememangnya memata-matai kamar Pak Adit merasa curiga akan kedatangan dua orang tak dikenal.Ia pun segera menghubungi Irwan untuk melaporkan hal itu.


*


*


"Apa??Papa stroke ??"Aurel sangat kaget mendengar kabar tentang Ayahnya.


"Iya...dia terkena serangan jantung karena mendapati kamu hilang tanpa jejak"


Aurel mencengkram dadanya,rasa sesak membuatnya lemas.


"Papa..."Rintihnya parau.


"Jangan sibuk menangis,kita harus melakukan sesuatu"Timpal Cahaya .


"Apa yang harus aku lakukan sekarang ??hah???Papa sudah stroke,Mas Irwan pasti akan semakin berbuat semaunya.Sedangkan aku... sedangkan aku berada disini tanpa bisa berbuat apa-apa"


"Pria itu bilang kamu harus sembuh, karena itu adalah salah satu jalan untuk mempertahankan hak-hak mu"Tambah Cahaya .


"Bagaimana aku bisa sembuh? Kembali ke tubuh ku saja aku tidak mampu.Kalau cuma ngomong doang itu gampang,tapi sebenarnya itu sangat sulit untuk dilakukan"Aurel gusar,ia benar-benar putus asa.


Cahaya dan Maulana saling berpandangan satu sama lain.Mereka juga tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu Aurel.


"Papaaa"Aurel meluruh ke lantai,ia menangis sejadi-jadinya.


Tiba-tiba Cahaya teringat sesuatu..


"Sebenarnya...ada satu cara"


Aurel serta merta Mengangkat wajahnya mendengar ucapan Cahaya .


"Apa itu ?"tanya Maulana.


"Ngganti awak atau bisa disebut berpindah jiwa... Aku akan meminjam kan jiwaku padamu, artinya aku akan masuk ke dalam tubuh mu.Dan jiwamu akan selalu mengikuti tubuh mu sendiri,jadi nanti kamu bisa mengatakan apa yang harus aku lakukan "


Aurel tersenyum lebar..


"Itu ide yang bagus..."sambutnya.


"Lalu bagaimana dengan tubuh mu sendiri Ca?"Maulana justru khawatir.Karena jika tubuh Cahaya sudah tidak berjiwa,itu bisa menyebabkan kematian.


"Kau harus menjaga tubuh ku.."pinta Cahaya .


"Kalau kau pergi terlalu lama,kau bisa benar-benar mati Ca"entah kenapa Maulana merasa hatinya sakit sekali jika hal itu sampai terjadi.


Cahaya tersenyum tipis..


"Kau harus senantiasa bersamaku"


Permintaan Cahaya seperti menghanyutkan jiwa Maulana .Tetiba Maulana menarik Cahaya ke dalam pelukannya.Cahaya terkejut,tapi ia pun tak kuasa untuk menolak.Rasanya ada sesuatu yang menenangkan disana.