
Fajar memilih diam seribu bahasa di saat Luna bertanya, apa yang ia bicarakan dengan Nur?. Sebab Fajar sudah berjanji untuk tidak mengatakan rencana mereka kepada siapapun.
Esok paginya,, tepat hari Senin. Usai upacara, Fajar mengikuti langkah Nisya. Ia gugup serta ragu untuk memulai interogasinya,namun saat fajar mengikuti Nisya secara diam-diam,ia melihat Nisya dicegah oleh Yanto.
Fajar berpura-pura sedang memainkan ponsel nya,agar Yanto tidak curiga jika ia sebenarnya tengah memata-matai Nisya.
"Apa??!!"
Fajar mendengar Nisya memekik keras,hingga memancing perhatian semua anak-anak yang berada di sekitar nya.Melihat anak-anak mengerumuni Nisya,Fajar mengambil kesempatan itu untuk turut ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Menurut desas-desus yang beredar, rupanya terdengar kabar bahwa Gibran meninggal dunia karena tenggelam di sungai Aare.
Fajar langsung menarik diri dari kerumunan,ia mencari tempat aman untuk memberi tahu kabar ini kepada Cahaya.
"Hah??apa maksud mu Gibran mati tenggelam ??"Cahaya kurang mengerti saat Maulana bercerita apa dikatakan oleh Fajar.
"Itu yang Fajar bilang baru saja,bahwa Gibran meninggal dunia saat ia mandi di sungai Aare"
"Itu sangat mustahil,kemarin mereka baru saja pergi bukan, sekarang sudah main mati aja.Aku nggak percaya,pasti ini ada yang tidak beres.Ayo kita jemput Fajar"Cahaya bangkit tapi Maulana menahannya untuk pergi.
"Ca...tolong jangan gegabah dulu,Fajar sekarang lagi sekolah.Akan lebih baik kalau kita menyambut kedatangan mayat Gibran,mungkin besok atau lusa Mayat itu di kirim dari Swiss "
Cahaya mendengus kesal,ia berkacak pinggang,otak dan hatinya sejalan jika ini pasti ada yang tidak beres.
"Aku akan tanya Tante Wewe"
Kujang yang sedari tadi tiduran di lantai kaget.
"Tante Wewe??sejak kapan perempuan gendut itu jadi tantemu Ca..."Tegur Kujang.
"Kau akrab dengan perempuan itu Kujang?"tanya Maulana.
"Tahu aja, nggak akrab kok...idih amit-amit.."Kujang bergidik sendiri.
"Jangan menghinanya Kujang,dia yang sudah bersusah payah mencari asi untuk ku"Cahaya membela Wewe sembari dirinya sibuk menutup tirai ruang kerja Maulana.Entah kenapa, sekarang dia melakukannya secara manual.
KLIK!!
"Kau serius mau manggil dia kesini ?"Kujang celingukan karena mendadak suasana jadi gelap.
"Kapan aku pernah bercanda?"
Cahaya duduk bersila seperti biasa, Kujang langsung melompat ke atas lemari.Sedangkan Maulana mendorong kursi nya ke pojokan bersisian dengan lemari yang dinaiki oleh Kujang.
"Kau juga geli ya bertemu Wewe?"bisik Kujang kepada Maulana yang berada di bawah nya.Maulana hanya tersenyum tipis, ia sebenarnya memang geli.Apalagi sampai digoda si Wewe.
Wangi bunga kenanga memenuhi ruangan, menandakan si Wewe gombel sudah memenuhi undangan Cahaya.
Saat Cahaya membuka matanya,si Wewe nampak manyun.Pipinya yang tembem mengembung,makin menenggelamkan hidungnya.
"Eh.. kenapa Tante?"
"Ngapain kamu manggil aku lagi?mau ngorek keterangan tentang Kusuma ?hah??"
Cahaya nyengir,ia tak perduli jika harus di marahin sama Wewe gombel.
"Kenapa ??mau tahu alasannya kenapa anaknya metong?"
Cahaya senyum sambil mengiyakan.
"Hemm... kalau bukan karena kamu anak yang aku besarkan,tak Sudi aku bantu kamu Ca"
"Karena itu aku saaaayyyaaaaang sama Tante, meskipun banyak yang tidak suka sama tante, termasuk Kujang (disini Cahaya langsung menunjuk keberadaan Kujang)Aku tetap sayang sama tante"
Wewe gombel menoleh ke belakang punggungnya, Kujang terperanjat.
"Kenapa kamu nunjuk aku Ca?? percuma dong aku sembunyi disini"
"Ohhh jadi kamu menghindar dari ku Kujang...eh si tampan juga ngumpet.. ngapain disitu,nyari tikus??hem???"
Maulana menggeleng cepat,ia mendongak ke atas.Disitu Kujang juga enggan untuk menunjukkan muka.
"Ayo Tante... jelasin sama aku"Cahaya mengalihkan perhatian si Wewe.
"Hemmmffff..kau ni ya Ca...selalu memaksakan kehendak mu.Ok!!Akan aku beri tahu,,, Kusuma sendiri yang membunuh anaknya,karena ia merasa terancam dengan aksimu yang mengancam Gibran.Jadi tidak ada jalan lain selain membunuh Gibran agar nama Kusuma tetap bersih"
Maulana menakup mulutnya tak percaya jika Seorang Ayah tega membunuh anaknya sendiri.
"Sudah ku duga.."gumam Cahaya .
"Sudah tidak ada yang perlu ku jelaskan lagi...aku pergi"
"Tunggu Tante"Cahaya cepat menahan kepergian Wewe gombel.
"Ada apa lagi??"
"Ini bukan ide dari Tante kan??"
"Ya bukan lah...aku tidak sekejam itu Ca,itu memang murni dari pikiran jahat si Kusuma "
Cahaya terdiam,helaan nafas berat beberapa kali ia lakukan.
Sampai Wewe gombel itu pergi pun,Cahaya tetap tak bergeming.
"Kamu baik-baik saja?"Maulana berjongkok di depan Cahaya yang masih duduk bersila.
"Aku kalah..."Cahaya tertunduk pilu.
"Ca...kau tidak kalah,kita sudah berusaha..tapi ini adalah takdir"Maulana ingin Cahaya tidak terpuruk dalam penyesalan.
"Lalu ?? bagaimana dengan Adam??dia belum menemukan keadilan"
"Apalah artinya keadilan di dunia,nanti di akhirat Allah sendiri yang akan mengadili nya"
Kujang melompat turun.
"Iya Ca... justru sekarang Gibran sedang berhadapan dengan dua polisi yang tidak bisa ia bodohi"ucap Kujang yang membuat bingung Cahaya serta Maulana.
"Pasti Gibran akan kewalahan menghadapi malaikat Munkar dan Nakir ,dia kan tidak punya kenalan orang dalam. Dan dua polisi itu tidak bisa disuap"
Cahaya tersenyum tipis mendengar celotehan Kujang.
"Kau ini .. ada-ada aja Kujang"Maulana menepuk tubuh Kujang dengan lembut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kusuma Akbar Galih beserta istrinya kembali pulang ke Indonesia dengan akting kesedihan.Mereka tidak menyadari jika ada seorang wanita tengah membuntuti sejak mereka keluar dari hotel tempat mereka menginap.
Sampai akhirnya mereka pulang untuk beristirahat.Dan betapa kagetnya Kusuma melihat seorang wanita tengah duduk di depan cermin membelakangi.
"Siapa dia Pa?"tanya Nyonya Kusuma.
"Tidak tahu Ma"
Wanita yang berpakaian serba hitam itu memutar tubuhnya.Penampilannya sangat heroik, matanya memakai celak tebal serta lipstik berwarna hitam.
"Hay..."Si wanita misterius tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Siapa kau ??kenapa bisa masuk ke kamar ku?"tanya Kusuma,ia sama sekali tidak maju selangkah pun.
"Jangan khawatir,aku tidak berniat jahat padamu.Perbuatanmu yang sanggup membunuh anakmu sendiri lah yang memancing ku untuk mengikuti mu.Karena aku tahu,kau sedang menghadapi masalah berat "
Kusuma saling berpandangan dengan istrinya.Mereka sempat khawatir takut ada yang mendengar suara si perempuan itu.Nyonya Kusuma memeriksa keadaan di luar kamar.Ternyata aman.
"Tenang saja...aku bisa jaga rahasia "Sambung wanita itu.
"Apa yang kamu inginkan ??"tanya Kusuma yang benci dengan masalah bertele-tele.
Wanita itu tersenyum..
"Yang aku inginkan adalah sesuatu yang kamu harapkan"
Kening Kusuma mengerut.
"Musuh yang kamu hadapi sekarang tidak akan meloloskan mu meskipun kamu sudah membunuh anakmu"
"Siapa yang kamu maksud ??"
"Seorang gadis yang pernah anakmu bicarakan bahwa dia mempunyai bukti tentang kejahatan mu"
Kusuma semakin bingung..begitu juga dengan istri nya.
"Lebih tepatnya,gadis itu sangat sakti.Dan tidak akan mudah untuk dikalahkan...hanya saja,,,aku bisa membantu mu untuk mengunci kekuatan nya"
"Aku sama sekali tidak mengerti dan tidak perduli"ketus Kusuma.
"Ohya?? bagaimana jika dia berhasil membuktikan jika kamu sebenarnya penyembah Wewe gombel ??"
Kusuma Mengangkat sudut bibirnya.
"Itu mustahil..."
"Tidak ada yang mustahil,karena gadis itu sebenarnya dibesarkan oleh Wewe gombel itu sendiri.Jadi dia tahu jika kamu adalah pengikut si Wewe gombel "
Penjelasan wanita itu mulai masuk ke otak.
"Aku hanya ingin sesuatu yang dimiliki gadis itu,dan kau ..akan ku buat gadis itu tak dapat berbuat apa-apa padamu"
"Caranya ??"Kusuma mulai tertarik bernegosiasi.
"Aku ingin gadis itu meminum ramuan ini..."Wanita itu meletakkan sebuah botol kaca yang berukuran kecil di atas nakas"Setelah kau berhasil melakukannya, selebihnya serahkan padaku"
Kusuma menatap botol kecil itu dari kejauhan.
"Aku belum tahu siapa kamu sebenarnya ??"ucap Kusuma.
"Namaku Hellen, seorang penyihir dari timur yang tengah melanglang buana untuk mencari celah mendapatkan benda yang kini berada di tangan gadis itu"
"Apa keuntungan yang bisa aku dapat ??"Kusuma masih ingin hal yang lebih.
"Bukankah kau masih bernafas hari ini adalah keuntungan besar bagi mu,jangan banyak bertanya.Lakukanlah perintah ku,nanti kau akan paham apa yang kau dapatkan "
Wanita itu bangkit,lalu menutupi tubuhnya dengan jubah hitam yang dipakainya.Seketika itu juga wanita misterius itu menghilang menjadi asap yang dibawa angin.