
Halimah yang berdiri di balik dinding, menguping pembicaraan orang tuanya dan orang tua Idris ,tersenyum tipis.
Ia sangat senang sekali sejak tahu jika akan dijodohkan dengan Idris, seorang pria yang sejak kecil ia kagumi.
Dulu saat Idris tinggal di Thailand, mereka sering kali berjumpa.Karena Ilyas selalu membawa ikut serta jika pergi ke Brunei.
Idris sangat ramah dan santun,ia juga tampan menawan.Sehingga Putri Halimah terpesona.
*
Usai makan malam bersama,dua keluarga kesultanan itu berkumpul di ruang keluarga.Sebenarnya Idris enggan untuk berkumpul,karena pasti yang dibahas itu itu saja.Tapi karena Nicta memaksa, akhirnya Idris mengalah.
"RIS....apa kamu tahu kenapa Paman serta Bibik paduka Sultan datang ke gubuk kita?"Tanya Ilyas memancing percakapan.
"Tidak tahu Pa"Idris menambahkan gelengan kepala.Zubair dan Zulaikha tersenyum simpul mendapatkan Tatapan Idris yang penuh tanya.
"Mereka ingin menjodohkan mu dengan putri Halimah"Ilyas menunjuk kedudukan Halimah Tus Sa'diyah saat itu,gadis bercadar yang tertunduk begitu dalam.
"Apa?? Papa jangan bercanda ah"Idris tersenyum geli.
"Kapan Papa pernah bercanda ?"
Senyuman Idris langsung sirna begitu melihat sorot mata sang Ayah.
"Papa tahu kamu pasti akan menolak,tapi...kau tidak punya pilihan RIS.Negara kesultanan Brunei Darussalam membutuhkan mu"
"Idris orang Indonesia Pa...tidak ada hubungannya dengan negara tetangga "Bantah Idris tanpa takut.
Tak disangka, Permaisuri Zulaikha meluruh ke lantai bersimpuh di hadapan Idris.
"Nak...jika kau meminta ku untuk mencium kaki mu?maka akan aku lakukan...Karena jika tahta sampai jatuh kepada Pangeran Abdul Jailani,maka kesultanan Brunei akan runtuh.England akan menguasai Brunei Darussalam "
"Iya Nak...kami tahu kamu tidak akan semudah itu menerima perjodohan ini,tapi tolong Brunei, tolonglah masyarakat kecil yang tidak berdosa jika sampai Brunei dikendalikan oleh England ??"Zubair menambahkan.
Idris terlihat shock,ia menatap satu persatu wajah semua orang diruangan tersebut.Dan mendadak wajah Soraya tersenyum ke arahnya.
"Tidak!!aku tidak bisa "Idris menggeleng cepat.
Ilyas bertukar pandangan dengan Zubair,ia sangat khawatir melihat respon putranya.
Halimah tertunduk , ia menyembunyikan kesedihannya dibalik cadar.
Tiba-tiba Zulaikha menunduk Mencium kaki Idris, Sontak Idris langsung menarik kakinya ke atas kursi yang ia duduki.
"Aku mohon nak...aku mohon..."Zulaikha mengemis untuk pernikahan ini,ia menangis tersedu-sedu.
"Permaisuri... janganlah begitu,ayo bangun"Nicta membantu agar Zulaikha bangun.
"Tidak...Aku tidak bisa membiarkan rakyat ku menjadi korban ketidak mampuanku melahirkan seorang anak laki-laki.Hanya Idris harapan kami,hanya dia"Tubuh Zulaikha terguncang,Nicta berlutut memeluk Zulaikha.Matanya sendu menatap putranya.Ia dilema,antara mengijinkan atau melihat anaknya bebas bahagia.
Idris merunduk,ia memeluk tubuhnya melindungi kakinya agar tak disembah.
"RIS...."Ilyas mendekati putranya "Aku tahu ini berat bagimu Nak..."usapan lembut mendarat di bahu Idris.Anak itu diam tak bergeming, ia sangat tertekan dengan semua ini.Bayangan senyuman Soraya menari-nari di pelupuk matanya.
"Papa tidak pernah meminta apapun padamu,tapi kali ini?Papa memohon agar kamu bisa menolong mereka"Pujuk Ilyas,
Idris Mengangkat wajahnya, Tatapannya nanar,matanya berkaca-kaca.
"Pa...aku mencintai Aya'..dan sekarang ??Papa meminta aku untuk menikahi gadis lain??"
"Nak...kau bisa menikahi siapapun yang kamu inginkan, pernikahan mu dengan Halimah hanya untuk status memperkokoh kedudukan kesultanan"Zubair mendahului menjawab.
Nicta dan Ilyas terkejut mendengar hal itu,tapi mereka hanya bisa saling beradu pandang.
"Jadi... bisakah kamu menikahi Halimah ??"Sambung Zubair.
Idris tertunduk dengan posisi yang tidak berubah.Kedua lututnya dipeluk erat.
"Bantulah mereka..."Lagi-lagi Ilyas membujuk "Kau dengar sendiri tadi kan?? Pernikahan ini hanya sebuah status.Kau hanya menikahi nya"
Idris tak bergeming.Semua pun menjadi hening.
"Itu terserah apa mau mu Nak??Karena Singgasana masih menjadi kedudukan ku.Sekali lagi aku katakan,ini hanyalah pernikahan status saja.Agar kubu lawan tidak lagi gencar menyerang kedudukan Kesultanan"Jawab Zubair.
Tak ada tanggapan dari siapapun, Idris sendiri diam berpikir.
"Baiklah...hanya sekedar pernikahan status,jadi jangan meminta ku lebih.Dan cukup akad nikah saja,tanpa pesta atau apapun yang mengundang publik untuk tahu.Karena aku tidak ingin orang yang aku cintai sakit hati dengan pernikahan semu ini"
"Dan untuk gadis itu "Idris tak melirik sedikit pun kepada Halimah"Jangan menuntut apapun kepada ku sebagai suami"
Idris menurunkan kakinya,ia bangkit lalu pergi tanpa pamit.
"Alhamdulillah..."Zulaikha begitu bahagia,ia bersujud syukur atas keputusan Idris.Dipeluknya Nicta dengan perasaan haru.
Zubair bangkit dari duduknya,ia memeluk Ilyas dengan hangat.
Sementara Nicta dan Ilyas sendiri tak mampu berkata-kata.Karena mereka sangat shock akan permintaan Zubair mengenai pernikahan ini.
Sebuah pernikahan semu yang hanya sekedar status untuk menyelamatkan kerajaan.Apakah kelak tidak akan menimbulkan masalah ???
*
*
"Ayahanda..."
Halimah datang menemui orang tua nya di kamar mereka.Zubair dan Zulaikha saat itu tengah bercengkrama.
"Iya Putri ku...ada apa ??"
"Kenapa Ayahanda memutuskan pernikahan ini dengan caranya seperti itu ?? Apakah Ayahanda tidak perduli dengan perasaan ku???"
"Halimah..."Zulaikha merangkul bahu putrinya"Kalau kita tidak mengatakan begitu, Idris tidak mungkin menikahi mu.Kelak jika kalian sudah sah? bagaimana kalian tetap suami istri,entah itu niatnya Idris hanya untuk sebuah status.Tapi kalian tetap suami istri,Dimata Allah ataupun Dimata hukum.Kamu paham kan??"
Halimah mengangguk perlahan.
"Masalah Idris mencintai gadis lain,jangan kau ambil hati.Setelah kamu sah menjadi istri nya.Kau memiliki banyak peluang untuk bisa membuat Idris jatuh cinta.Lakukanlah sebaik mungkin "Zubair menambahkan.
Halimah mengangguk lagi.
"Sekarang persiapkan diri mu untuk pernikahan ini "sambung Zulaikha.
*
AKH!!!
Idris kesal sekali karena nomor telepon Soraya tetap tidak aktif.Ia ingin sekali memberi tahu tentang hal ini kepada gadis itu.
Kalau perlu,ia akan pergi jauh menyusul Soraya.
Tapi??? Nomornya justru tidak bisa dihubungi.
"Ya' kamu kemana??Aku butuh kamu sayang...aku menyesal saat itu tidak mempercayai mu..aku menyesal.."
Idris menelungkup kan tubuhnya ke atas tilam.Ia menangis sembari memukul-mukul tempat tidur nya.
Hatinya sakit sekali,ia tidak ingin Soraya beranggapan telah mengkhianatinya.Soraya harus tahu,tapi bagaimana caranya ia memberi tahu?.
Entah sekarang Soraya ada dibagian belah bumi mana,Idris tidak tahu itu.
Soraya sendiri masih dirundung kesedihan.Ia tidak mampu mengusir bayang-bayang wajah Idris dari matanya.
Meskipun di depan Pak Luyo dan Ahmad Soraya tersenyum dan tertawa.Tapi semua itu hanyalah usahanya untuk melupakan Idris.
Semakin ia melupakan, semakin sakit sekali hatinya.Akhirnya,Soraya menyerah.Ia mengaktifkan ponsel yang sudah beberapa hari ia matikan.
Baru saja On,sudah berapa banyak panggilan masuk dan juga pesan tak berbalas.Termasuk Idris, Hampir mencapai angka seribu kali panggilan tak terjawab.
Soraya tersenyum tipis,senyum yang bahagia dari lubuk hatinya.Ia langsung menghubungi nomor pria itu.
Tapi tak di angkat,Yah... karena pada saat itu.Idris sedang melakukan ijab qobul di sebuah masjid besar.