Blue Eyes

Blue Eyes
KESEDIHAN 123



"Ka-kar-na..kau..melu-kai anakku"istri Irawan menjawab dengan terbata-bata.


"Dia melukai dirinya sendiri ,Aku tidak berbuat apa-apa. Padahal...aku ingin menyembuhkannya. Tapi ...kau justru membunuh kekasihku"


KRETEK


Sekali tarik, leher perempuan itu langsung patah dan mati.Irawan terkesiap, sedangkan Victor berteriak memanggil Mamanya.


Cahaya menghempaskan mayat wanita yang sudah membunuh Maulana begitu saja.Ia melangkah mendekat, membuat Irawan bersusah payah menarik mundur tubuh nya sembari memeluk Victor yang menangis memanggil sang Ibu.


Dorongan kaki kerap kali terpeleset, hingga akhirnya punggung Irawan menabrak tubuh salah satu Bodyguard nya yang tak sadarkan diri.


Dengan sisa-sisa tenaganya, Irawan menggoyang-goyangkan tubuh pria kekar itu supaya sadar.


Cahaya melompat dan mendarat di depan Irawan.Ia menarik baju Victor hingga bocah itu bergelantung.


"Papa...Papa weeekkk "Ia menangis memanggil sang ayah.


"Tolong..jangan apa-apakan anakku... tolong...aku mohon..."Irawan menakupkan kedua tangannya disertai wajah memelas.


"Kau pikir aku perduli ??"


"Kau bunuh saja aku...tapi jangan anakku"


"Tanpa kau meminta,aku memang akan membinasakan mu"


Irawan terpana, ia menatap putranya yang bergelantungan di tangan Cahaya .Perlahan air matanya meleleh.


"Maafkan aku..."Rintih Irawan menyayat hati.Namun Cahaya sudah terlanjur marah dan benci.Ia menepis wajah pria itu hingga terpental jauh dan tubuhnya menancap di ujung kepala rusa yang menjadi hiasan dinding.


"PAPAAAAA!!"Victor berontak menjerit memanggil Ayahnya."Papaaaaaa"Victor terus menjerit pilu.


Irawan tersedak darah yang keluar dari mulutnya.Tangannya berusaha menggapai sang anak yang jauh dari jangkauan.Dalam hitungan detik, Irawan meregang nyawa.


Cahaya menurunkan tubuh Victor yang terus menangis.Ia menuntun anak itu keluar.


"Tidak!!Aku tidak mau,kau jahat!!kau perempuan jahat!!!"teriak Victor sambil terus menangis.Cahaya tak menggubrisnya, ia menarik paksa Victor agar mengikuti nya.


Tak lupa Cahaya memungut bayi Anies yang tergeletak di lantai.Anehnya, disaat kejadian pembantaian yang dilakukan Cahaya kepada orang tua Victor.Bayi itu sama sekali tidak menangis.


Setibanya di luar, kedatangan Cahaya disambut oleh si pocong cantik.Ia sangat bahagia melihat anaknya masih hidup dan sehat.Tapi karena ia makhluk tak kasat mata,jadi ia tidak bisa menyentuh anaknya.


"Terimakasih... Terimakasih..."ucap si pocong penuh haru.


"Apakah kamu mengucapkan terimakasih atas kematian Maulana ??"


Si pocong terhenyak,ia belum mengetahui jika pria itu sudah tiada.


"Apa?? maksud mu??"


"Kekasih ku di bunuh oleh perempuan itu"Cahaya menarik nafas dalam-dalam namun tak kuasa.Rasa sebak membuat nya susah untuk bernafas.Punggungnya berguncang hebat ,ia tertunduk sambil menangis.


"Maafkan aku..."si pocong jadi merasa bersalah,ia pun juga tidak bisa berbuat banyak.Dua anak yang berada di kedua tangan Cahaya ,ia tatap bergantian.


"Apa yang akan kamu lakukan kepada anak itu ?"


Cahaya membuka matanya,ia memperhatikan Victor yang masih diliputi kesedihan.Wajah pucat nya semakin kuyu.


Cahaya mengusap kepala Victor,dari telapak tangannya terpancar cahaya putih menyilaukan.Tetiba Victor jatuh pingsan.


Si pocong kebingungan,ingin bertanya ia segan sebab wajah Cahaya terlihat tidak baik-baik saja.


Lalu Cahaya meletakkan bayi Anies di sebelah tubuh Victor.


Si pocong cantik termangu,ia hanya melihat kelipan cahaya yang melesat jauh.Keinginannya untuk menyelamatkan anaknya sudah mengorbankan nyawa seorang pria baik hati yang telah bersedia menolong nya.


*


*


Kabar kematian seorang produser ternama IRAWAN CAHYADI cepat menyebar luas.Di tambah lagi dengan ditemukannya mayat seorang Dokter yang mempunyai nama besar MUHAMMAD MAULANA.


Hal ini menjadi tanda tanya besar,ada apa gerangan ?dan apa yang telah terjadi di tempat itu??Tak ada saksi hidup, karena para Bodyguard itu kabur sebab takut dipenjara jika sampai perbuatan Irawan di ketahui.


Pihak kepolisian pun turun tangan menyelidiki kasus ini.Dari rumah itu hanya ditemukan Victor dan seorang bayi kecil yang belum genap berumur satu bulan.


Itu pun para penyidik tidak bisa mendapatkan keterangan apapun.Victor hanya geleng-geleng kepala,dan si bayi menangis kehausan.


Keluarga besar Maulana yang berhasil dihubungi pihak kepolisian gegas datang ke rumah sakit tempat mayat Maulana di otopsi.


Luna histeris, sedangkan Fajar bingung karena tidak menemukan jejak sang Kakak.


"Apa yang sebenarnya terjadi ?"gumam Soraya, dari semalam perasaannya sudah tidak nyaman.Tapi putrinya tidak juga ditemukan.


"Bagaimana kita menemukan Kak Caca?? sedangkan dia tidak memiliki nomor telepon"Gerutu Fajar.


"Kenapa kalian sibuk dengan perempuan itu?lihat!!Kakakku tewas tanpa kita tahu apa yang sebenarnya terjadi ?"Luna menengking kuat.


"Nek... kalau kita bisa menemukan Kak Caca, setidaknya kita bisa tahu apa yang terjadi ??"Fajar menyahut.


"Sudah-sudah...jangan bikin runyam masalah, sepertinya polisi tidak tahu tentang Caca,kalau sampai polisi tahu?dia pasti akan menjadi target pencarian"Idris menengahi.Fajar mengangguk mengerti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cahaya menjerit sekuat-kuatnya,ia ingin menghilangkan kesedihan di dalam dadanya.Tapi tetap saja, jiwanya seperti terhimpit membuat nya tak berdaya.


Ia berlutut dengan wajah tertunduk, punggung nya bergetar disertai isakan pedih.Hatinya sakit,wajah Maulana melekat di pelupuk matanya.


Para makhluk hidup yang berada di lereng hutan larangan.Entah mereka yang kasat mata atau pun tidak kasat mata, bersembunyi karena takut dengan kepedihan yang diderita oleh Cahaya .Mereka segan untuk mengusik, bisa-bisa nyawa melayang sia-sia.


Sebuah tangan lembut hinggap di pundak Cahaya ,gadis itu Mengangkat wajahnya perlahan.


"Ibu...."Gumamnya,Lucy mengulum senyum lembut"Ibu..."Cahaya bingkas bangun lalu memeluk erat sang Ibu.Lucy membalas pelukan putri angkatnya dengan penuh kehangatan.


"Ibu... hatiku sakit..."Rintih Cahaya pilu.


"Ibu tahu...dan Ibu merasakan kesedihan mu"jawab Lucy.


"Caca harus bagaimana Bu?? hiks hiks hiks "


"Bersabarlah... kesedihan yang kau alami sekarang adalah bagian dari pembentukan jiwa yang kuat...Kau harus memahami bahwa apapun di dunia ini tidak ada yang kekal"


"Aku harus bagaimana Bu???"


"Jalanilah dengan ikhlas, tetap lah kuat.Karena di tangan mu akan lebih banyak orang yang membutuhkan pertolongan mu.Kembalilah sayang... kembali lah ke sisi orang tua mu"


Cahaya menggeleng lemah...


"Aku ingin disini Ibu...bersamamu"


Lucy tersenyum,ia mengecup kening putri kesayangannya itu.


"Aku senang kau selalu merindukan ku,,,tapi aku lebih senang jika apa yang aku beri padamu berguna untuk orang lain "


Cahaya bungkam,ia mengerti apa maksud dari ucapan sang Ibu.