Blue Eyes

Blue Eyes
CANGGUNG 133



"Mau apa kamu ke sini ?"tanya Cahaya penuh selidik.Ia menutup pintu di belakang punggung nya.


"Aaa emmm aku..aku ..aku"Mendadak pangeran As'ad merasa otaknya kosong saat pandangannya beradu dengan mata Cahaya yang mendelik tajam.


"Mau kemana dia?"Cahaya melirik pelayan pangeran As'ad.


"Aaaa emmmm"Si pelayan juga bingung harus menjawab apa, sehingga refleks kepalanya menggeleng.Cahaya menatap kembali Pangeran As'ad yang masih menikmati wajahnya.


"Pergi dari sini!!"


"Tidak"Pangeran As'ad spontan menggeleng, karena keinginan hatinya yang tidak ingin pergi.Cahaya mengernyitkan keningnya.


"Ini bukan tempat mu,kamar tamu di bawah! bukan disini"tegas Cahaya .


"Apa salah kalau aku ingin disini ??"


"Kamu mau Disini ??"


Pangeran As'ad mengangguk.


"Ya udah terserah kamu, tidur aja disini "ketus Cahaya seraya berbalik pergi.


"Eh ...kau mau kemana ??"seru Pangeran As'ad ,Cahaya tak menggubris.Ia terus saja pergi,tanpa membuang waktu Pangeran As'ad gegas menyusul mensejajari langkah Cahaya .Para punggawa yang mengekori pangeran As'ad hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang Pangeran.


"Sini aku bantu"Pangeran As'ad mengambil alih piring kosong yang dibawa Cahaya .Yah sudah tentu Cahaya menatap tak suka.


"Apa yang kau lakukan ??"


"Aku ingin membantu mu"


"Ya udah,,,bawa sana ke dapur"Cahaya malas untuk berdebat, ia memutar tubuhnya kembali menaiki tangga.


"Kau mau kemana ??"Pangeran As'ad jadi bingung sendiri karena Cahaya justru berputar arah.


"Katanya mau bantu aku??"Cahaya balik bertanya, Pangeran As'ad mengiyakan "Ya udah sana bawa piring kotor itu ke dapur,sekalian cuci yang bersih ya"sambung Cahaya disertai senyuman yang menahan tawa.


"Aku??"Pangeran As'ad menunjuk batang hidungnya sendiri,Cahaya mengangguk cepat "Aku kan pangeran, kenapa aku harus cuci piring ??"


"Oh jadi kamu nggak mau??"Cahaya hendak melangkah turun kembali.


"Oh iya ya...aku mau"Jawaban Pangeran As'ad otomatis menahan langkah nya."Aku akan cuci piring ini, kamu tenang saja "


"Ya udah sana cuci!"


"Ok!"


Pangeran As'ad ragu tapi ia tidak ingin kehilangan muka di depan gadis incaran nya.Ia pun melangkah ke dapur dengan tetap di iringi punggawa nya.


"Woy!!"seru Cahaya yang membuat Pangeran As'ad menoleh "Cuci sendiri ya .. jangan suruh orang lain"


Pangeran As'ad mengangguk,ia merasa senang gadis itu memanggil nya.Maka dengan penuh semangat, Pangeran As'ad pergi menuju dapur.


Fajar yang mengintip menakup mulutnya agar tawanya tidak pecah.Ia merasa geli sendiri melihat kebodohan si pangeran.


Pangeran As'ad yang awalnya sangat teruja mendadak bingung harus berbuat apa ?Ia sama sekali tidak pernah mencuci piring.Cuci tangan saja ada pelayan yang melayani nya.


"Pangeran... biarkan hamba yang melakukannya"Pinta sang pelayan penuh takzim.


"Tidak...aku akan melakukannya sendiri"jawab pangeran As'ad.Tangannya gugup hendak mengambil spon pencuci piring, dengan ragu-ragu ia mengusap piring tersebut.Tapi ia merasa aneh, kenapa tidak berbusa?


"Tuang sabunnya pangeran"ujar si pelayan yang mengerti kebingungan majikannya.


"Oh.."Pangeran As'ad memencet ujung penutup botol dan keluar lah cairan sabun meleleh ke atas piring.Pangeran As'ad tersenyum simpul, ia senang karena bisa melakukan sesuatu itu sendiri.Namun karena sabun yang keluar lumayan banyak.Jadi busa yang digosok pun melimpah ruah.Mengakibatkan piring nya jadi licin dan terlepas dari genggaman.


THAR!!


"Ada apa ??"Fajar yang sememangnya mengintip pergerakan sang Pangeran, berlari cepat menghampiri."Hah??siapa yang pecah kan piring ??"ucapnya dengan berpura-pura panik.


Tak ada yang menjawab,para utusan dari Brunei saling beradu pandang satu sama lain.


"Ada apa ribut-ribut?"Cahaya pun datang dengan setengah berlari.Sang Pangeran semakin tegang.


Cahaya memperhatikan pecahan piring di lantai.Lalu beralih menatap si Pangeran.


"CK...cuci piring saja tidak becus"ketusnya lalu memutar tubuh.


"Hey!!"Pangeran berseru lantang, membuat Cahaya berpaling.


"Ada apa ??"


"Aku tidak sengaja,aku minta maaf"


Cahaya mendengus lalu berlari pergi, pangeran ingin berseru lagi.Namun ia merasa kecil hati dengan sikap cuek yang ditampakkan oleh Cahaya .


"CK CK CK... sepertinya Pangeran melakukan ini hanya untuk menarik perhatian Kakakku"Tukas Fajar seraya melipat tangan di dada.


"Aku sarankan mending Pangeran tidak usah buang-buang waktu.Karena Kakak ku bukan perempuan biasa, nanti Pangeran menyesal "


"Aku ...Aku benar-benar menginginkannya "Pangeran As'ad berucap sejujurnya.


"Kau tidak mungkin bisa mendapatkan nya dengan status mu sebagai seorang pangeran, apalagi jika ia tahu bahwa salah satu anggota keluarga kerajaan lah yang membuat dia terbuang"


"Tapi itu bukan salah ku"


"Apa kau pikir Kakakku perduli ??ch"Fajar berlalu pergi dengan pandangan sengit.


"Pangeran...anda tidak perlu merendahkan diri seperti ini, bukankah gadis Brunei banyak yang menginginkan cinta mu.Kenapa anda perlu menjatuhkan harga diri demi cucu Muhammad Ilyas "


Seruan sang pelayan tak diindahkan, Pangeran berlalu begitu saja meninggalkan dapur menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuk nya.


Fajar menyusul sang kakak ke kamar nya.Saat itu Cahaya baru saja melepaskan pakaian nya karena hendak mandi.Sebagai seorang pria, Fajar terpaku melihat pemandangan indah di depan mata.Namun sebagai seorang adik,ia lekas sadar dan refleks menutup pintu.


Cahaya menoleh ke belakang punggungnya begitu mendengar suara pintu di tutup.Ia gegas menutup tubuhnya dan melangkah cepat mendekati pintu.


"Fajar ???"


Pria itu gelagapan, ia gugup melihat kakak nya sudah di hadapannya.


"Sedang apa kamu ??"


"Ma-maaf Kak...aku nggak sengaja"Tidak ada gunanya bagi Fajar untuk berbohong.Karena ia tahu Kakak nya seperti apa ?.


"Kenapa tidak ketuk pintu terlebih dahulu ?"


"A-a-aku pikir Kakak tidak...eeee"fajar tak mampu bertentangan mata dengan sang Kakak,ia merunduk dalam.


"Ada apa ??"


"Emmm sekedar mau bahas pangeran itu"


"Tidak ada yang penting bagi ku tentang dirinya, jadi tidak perlu membahas apapun.Aku ingin mandi..."


"I-iya Kak"


Fajar mengangguk takut,ia pun mohon diri agar lebih cepat terselamatkan dari suasana canggung.


Cahaya kembali masuk dan segera menuntaskan keinginannya untuk membersihkan tubuhnya.