
"Aku nggak mau"Cahaya melipat tangan di dada dengan wajah kesal.
"Kak..aku temenin deh,Kakak nggak perlu berbuat apa-apa.Diam saja,aku yang akan bicara dengan Pak Wahid"
"Kau bilang tadi aku suruh menggoda nya? Emang dia akan tergoda sama aku yang hanya bisa jadi patung?"
"Bisa... tenang saja, serahkan padaku Kak"Fajar menepuk dadanya dengan bangga.
"Jangan aneh-aneh deh"
"Tenang saja..."Fajar tersenyum penuh percaya diri.
Ia membawa Cahaya ke Mall besar.Disana ia membeli pakaian yang bagus untuk sang Kakak.Karena sejak Fajar bertemu dengan Cahaya ,ia tidak pernah melihat Cahaya memakai pakaian yang bagus.
Fajar juga membawa sang Kakak ke salon.Disini Cahaya benar-benar diciptakan oleh Fajar secantik dan se **** mungkin.Sampai-sampai dirinya sendiri jatuh hati kepada Kakaknya sendiri.Namun Fajar berusaha untuk sadar diri, bahwa Cahaya adalah Kakak kandung nya.
Dicintai Maulana saja ,kedua orang tuanya tidak setuju.Apalagi dicintai oleh dirinya, bisa-bisa Fajar dikutuk jadi batu kerikil.
"Hey!!kok bengong"Cahaya menyadarkan lamunan sang adik.
"Ah iya Kak.."Fajar nyengir menutupi rasa malu.
"Kenapa ??"
"Nggak.. nggak ada apa-apa..Kakak cantik sekali"
"Masak sih?"
Fajar mengangguk yakin.
"Ah yuk buruan, nanti kemalaman "Cahaya menggandeng tangan adiknya yang dingin karena nervous.
*
*
Fajar memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah Pak Wahid suami Kuntilanak.
"Ayo Kak...kita sudah sampai"
Cahaya mengangguk,mereka turun dari dalam mobil hampir bersamaan.
"Assalamualaikum..."seru Fajar memanggil si pemilik rumah.
"Wa'alaikum salam"suara seorang wanita menyahut samar-samar dari dalam.Tak berapa lama kemudian pintu terbuka.Seorang wanita muda berhijab muncul, menatap dua tamunya secara bergantian.
"Maaf anda cari siapa ya?"
"Emm ini benar kediaman Pak Wahid,guru agama dari sekolah SD TUNAS BANGSA?"Tanya Fajar yang memang sudah mengantongi identitas lengkap korbannya.
"Iya benar "
"Emmm kami suami istri yang ingin sekali bertemu dengan Pak Wahid.Apa Pak Wahid nya ada?"
"Ada... silahkan duduk "Perempuan itu yang pastinya istri sekaligus adik dari si Kuntilanak mempersilahkan Fajar dan Cahaya untuk masuk.
Seorang anak gadis perempuan yang sekitar berumur tujuh tahun keluar membawa nampan dengan dua tangan yang gemetar.Ia meletakkan dua gelas teh hangat di atas meja.
Cahaya melihat tangan anak itu lebam-lebam.Ia meremas tangan nya sendiri karena geram.Tapi Fajar berusaha menenangkan sang Kakak dengan menggenggam tangan Cahaya .
Seorang pria keluar dari dalam setelah anak gadis itu masuk.Cahaya mendengus, ia merasa ingin muntah melihat pria itu.
"Assalamualaikum.."sapa Pak Wahid santun.
"Wa'alaikum salam "Fajar bangkit menyambut sang tuan rumah,mereka berjabat tangan begitu juga dengan Cahaya .Kedua mata Pak Wahid langsung berbinar melihat kecantikan wanita yang kini ada di depannya.Di tambah lagi dengan kulit putih nan bercahaya.Paha mulus menggoda, membuat ia menelan saliva.
"Jangankan ente Pak,saya adiknya saja tergoda"batin Fajar.
"Pak..."tegur Fajar membuat Pak Wahid kaget dan menyadari jika ia masih menggenggam tangan Cahaya .
"Eh maaf.."
Fajar mengangkat alisnya sebagai kode agar Kakak nya tersenyum jangan berwajah masam.Cahaya menarik nafas dalam-dalam dan dengan terpaksa ia mengukir senyum setengah hati.
"Ini istri saya Pak"Fajar memperkenalkan Cahaya "Dia mualaf, jadi saya ingin anda mengajari nya tentang agama "
"Ohh begitu...bisa bisa bisa...bisa sekali "Jawab Pak Wahid tanpa pikir panjang.
"Emangnya rumahnya dimana?"tiba-tiba perempuan yang membukakan pintu tadi muncul langsung namplok aja.
"Di jalan Kembang Sari no 5"
Cahaya terbelalak,itu kan rumah Maulana .
"Iya agak jauh sih,tapi kami akan menyediakan alat transportasi untuk menjemput Pak Wahid"jawab Fajar tenang dan meyakinkan.
Istri Pak Wahid melirik tajam ke arah suaminya.Namun Pak Wahid cuek saja,ia justru tebar-tebar pesona kepada Cahaya .
Perempuan mana yang tidak geram,ia mencubit paha suaminya dengan kuat sekali.
"Aw AW AW.."Pak Wahid menjerit kesakitan.
"Kenapa Pak?"tanya Fajar sok polos.
"Ah tidak apa-apa..."
Istrinya bangkit,ia menghentakkan kakinya seraya masuk ke dalam.
"Ah biarkan saja dia .."Pak Wahid berusaha menyamankan suasana"emmm kapan bisa mulai kerja?"
"Terserah Bapak bisanya kapan?"
"Besok..yah besok saja..lebih cepat lebih baik bukan?"
"Oh ok...jam berapa Bapak biasanya mempunyai waktu luang?"
"Sepulang ngajar jadwal saya kosong "
"Jam berapa itu?"
"Usai sholat dhuhur "
"Ok ..besok supir saya akan menjemput Bapak jam satu siang "
"Ok!!bagus"Pak Wahid kegirangan sambil melirik manja ke arah Cahaya .
"Berapa saya harus membayar Bapak?"tanya Fajar melanjutkan.
"Ah masalah bayaran seikhlasnya saja,saya kalau hal kebaikan seperti ini tidak pernah memungut bayaran"
"Ohya??"fajar tersenyum licik.
"Iya..."
Tiba-tiba muncul seorang bocah laki-laki, usia nya sekitar 5 tahun berjalan keluar rumah.Cahaya memperhatikan keseluruhan bocah itu, keadaannya tidak jauh berbeda dengan anak gadis tadi.
"Siapa dia?"Cahaya yang semula diam akhirnya bicara.
"Oh itu..anak tetangga,dia yatim jadi kamu merawat nya bersama"jawab Pak Wahid santai.Cahaya terkesiap...
"Anak tetangga?? Yatim??"
Ia dan Fajar saling bertukar pandangan.
"Em dia yatim ??"
"Iya...saya kalau ada orang kesusahan seperti itu tak tega untuk menutup mata.Meskipun saya sendiri bukanlah orang yang berada"Ucap Pak Wahid menyombongkan diri.
"Ijinkan saya melakukan hal yang sama seperti anda"Cahaya mengucapkan sebuah gagasan yang membuat Fajar terperangah.
"Apa maksud mu sayang ??"
"Aku ingin mengadopsi anak itu"Cahaya menunjuk bocah laki-laki yang kebetulan lewat dengan membawa cucian yang sudah kering"Dan juga anak perempuan tadi"
Pak Wahid tercengang, ia seperti tak percaya Cahaya akan melakukan hal demikian.
"Bolehkan...kita kan belum punya anak"Cahaya mengisyaratkan kedipan mata kepada adiknya.
"Oh... Kalau Pak Wahid tidak keberatan ya nggak apa-apa sayang"jawab Fajar sedikit gugup.
"Mana mungkin dia keberatan, benar kan Pak Wahid ?"Cahaya mengukir senyum manis yang tak mampu di tolak pesonanya.
"Oh iya..iya.."Pak Wahid mati kutu,ia bingung harus bagaimana ?? sementara kedua anak itu memiliki tunjangan dari nenek dan kakeknya.
"Bisa panggil kan merek"pinta Cahaya yang semakin membuat Pak Wahid terpojok.
"Oh bisa-bisa.. sebentar"Pak Wahid bangkit dan masuk ke dalam rumahnya.Ia mencari kedua anaknya itu.Rupanya si bungsu sedang menyetrika baju,dan si sulung memasak di dapur.
KHEM KHEM
Pak Wahid kaget dengan suara orang berdehem,ia menoleh.Rupanya istri yang baru beberapa bulan ia nikahi.
Yati sang istri menarik lengan suaminya masuk ke dalam kamar.