Blue Eyes

Blue Eyes
IDE CAHAYA 94



"Pergilah Tante... Terimakasih telah menceritakan semuanya padaku"


Wewe gombel mengiyakan,ia beralih menatap Maulana seraya tersenyum manis.


"Namamu siapa?"


Cahaya menarik kursi yang diduduki Lana ke belakang punggungnya.


"Ihhh cemburu mu Ca..manis banget,aku nggak nyangka Caca kecil ku sudah punya rasa cemburu"Wewe menggoda Cahaya dengan centil.


"Tanteee..."


"Ok!!aku pergi,bay"Wewe gombel melambaikan jemarinya dan menghilang menjadi kepulan asap yang wangi bunga kenanga.


Bersamaan dengan itu lampu diruangan menyala dan kunci pintu terbuka.Lana menatap ke sekeliling ruangan yang sudah terang benderang.


"Emm KHEM KHEM"Lana berdehem sambil membenarkan posisi kursinya ke tempat semula.


"Emmm kamu deket banget ya sama makhluk itu?"


"Iya...dia termasuk salah makhluk yang turut merawat ku selain Ibu"


Lana manggut-manggut.


"Emmm apa benar kamu cemburu ??"Lana melirik gadis yang serta merta wajah nya berubah.


"Apa-an sih"Cahaya mengelak dengan menjauhkan diri dari Maulana ,namun pria itu justru menahan tangan Cahaya .Sudah Mirip-mirip adegan Bollywood saja.


"Kau mau kemana ??"Lana menengok wajah yang membelakanginya.


Cahaya tak menoleh sedikitpun,ia malu .Darah berdesir panas di sekitar wajahnya.


Maulana bangkit dari duduknya,ia semakin penasaran dengan gadis yang membelakanginya itu.


"Dokter..."


Pintu terbuka tanpa tanda, Dokter Sarah tercengang melihat Lana berdiri dengan posisi sangat dekat dengan Cahaya .Tangan pria itu membatu , yang awalnya hendak meraih dagu lancip Cahaya agar gadis itu menatapnya.


"Ah..iya Dokter Sarah,,,ada apa ?"Lana segera menghampiri Sarah.Menciptakan jarak yang sebentar lagi akan dekat dengan Cahaya .


"Emmm ada pasien yang harus dilakukan tindakan Cesar Dok"


"Oh ok..Ayo kita kesana"Maulana meraih mantel putih nya, sembari tersenyum manis ke arah Cahaya "Tunggu dulu ya"sambung nya lembut.


Cahaya tak bereaksi apapun, ekspresi nya datar saja hingga Lana dan Sarah keluar dari ruangan itu.


"Ini semua gara-gara Tante Wewe.. apa-apaan sih pakek bilang aku cemburu ??Aku jadi nggak nyaman saat harus bertatapan mata dengan nya.Dadaku...Hufff"Cahaya memukul ringan dadanya.Tiba-tiba degup jantungnya jadi menggema hingga menggetarkan gendang telinganya.


*


*


Gibran beserta teman-temannya yang ikut membacok Adam dikumpulkan menjadi satu sel tahanan.


Seorang petugas polisi mendatangi sel tahanan Gibran dan mengatakan jika Gibran memiliki tamu.


Karena Gibran tahanan khusus,jadi ruang pertemuan untuk nya sangat privasi.


Jujur,, Gibran penasaran siapa yang datang padanya di luar jam kunjung.Apa itu orang spesial yang dijanjikan Papanya agar ia bisa segera bebas.


Gibran menunggu di ruang pertemuan khusus dengan tangan tanpa borgol.Seseorang masuk menggunakan topi yang sedikit tenggelam menutupi wajah orang yang menarik kursi dan mendudukkan dirinya di depan Gibran.Diantara mereka hanya ada sebuah meja panjang sebagai pemisah.


"Siapa kau?"tanya Gibran acuh.


Sebelah bibir orang itu terangkat, kemudian ia membuka topinya, menunjuk kan wajah aslinya.


Rupanya tamu yang mencarinya adalah Adam.


"Ka-kau ???"gemetar tungkai kaki Gibran melihat orang yang sudah ia bunuh itu masih hidup.


"Kenapa??kaget??"Dengan santai Adam bertanya.


"Kau masih hidup ??"


"Iya ..kau pikir gampang menghilangkan nyawa seseorang ???"


Gibran memperhatikan Adam dari setiap inci tubuhnya.Tidak ada yang aneh, orang yang ada di depannya itu benar-benar Adam.


"Ma-mau apa kau??"


"Menuntut keadilan..."


"Hah??Kau tidak akan bisa melakukan itu.Tidak akan ada yang percaya padamu"


"Ohya ??? kalau aku ternyata punya bukti chat antara kau dengan Nisya ??gimana??"


"Apa???"Bola mata Gibran berputar ke kiri dan ke kanan,ia gelisah jika apa yang dikatakan oleh Adam benar adanya.Tapi...bukankah chat itu sudah di hapus.


"Ka-kau bohong"


Adam tersenyum enteng,ia menunjuk kan layar ponselnya yang mana terpampang dengan jelas isi chat dirinya dan Nisya.


"Akan ku bunuh Adam,tidak akan ada yang boleh berhubungan dengan mu Nisya.Hanya aku!!paham!!"


"Coba saja,jangan cuma bacot doang"balas Nisya di pesan itu.


"Ok!! lihat saja nanti!!"


Gibran membulatkan matanya.


"Gimana?"Adam menarik ponsel nya.


Gibran tak menjawab, ia gelisah dan khawatir.


"Kalau hukum disini bisa kau beli,maka akan ku datangi presiden untuk menuntut keadilan.Aku yakin,jika hal ini di usut tuntas oleh presiden.Maka bukan hanya kamu yang akan membusuk di penjara, Kusuma Akbar Galih pun juga akan masuk penjara atas kasus suap...Kau mengerti bukan??"


Gibran semakin panik,nafasnya memburu cepat.Ia merasa tiba-tiba dadanya kekurangan oksigen hingga ia susah bernafas.


"Gib...Gib..Gib..."Toni menepuk-nepuk pipi Gibran.Karena saat itu Gibran mengalami kejang-kejang yang membuat semua penghuni lapas jadi panik.


Polisi segera bertindak,ia membawa Gibran ke rumah sakit terdekat.Dan sangat kebetulan sekali itu adalah rumah sakit milik Maulana.


*


Cahaya tersenyum saat ia sudah berhasil membuat ilusi mimpi yang pernah diajarkan oleh Lucy.Ibunya itu memang mempersiapkan dirinya dengan baik untuk menghadapi kekejaman manusia di luar hutan Larangan.


Cahaya berjalan perlahan,ia akan menyambut sendiri kedatangan Gibran di rumah sakit.Akan ia buat Gibran mengakui kejahatannya sendiri.


Salah satu Dokter yang menangani Gibran sudah selesai menenangkan Gibran.Anak itu sudah tenang dan kejang-kejangnya mereda.


Cahaya masuk tanpa menimbulkan kecurigaan, kebetulan ruang tempat Gibran dirawat sudah tidak ada orang.


Ia mendekati ranjang pasien yang hanya satu-satunya di ruang VIP tersebut.Sekali colek, Gibran langsung membelalakkan matanya.


Ia belingsatan ketakutan.Tapi ia tak berdaya,karena kaki dan tangannya sakit saat Gibran bergerak sedikit saja.


"Hay!! Gibran"Sapa Cahaya lembut.