
Fitri memutar badannya,ia melempar senyuman kepada Idris saat mereka bertembung mata.
"Ke kantin yuk"Fitri mengajak tanpa sungkan.
"Sayang...kamu mau ke kantin ?"Idris justru bertanya kepada SORAYA,Aya' tersenyum tipis.Lirikan matanya seakan menjadi pagar yang menandakan bahwa Idris miliknya.
"Nggak...aku males mau kemana-mana"
"Aku pergi beliin yah...kita makan bareng di sini"Poppy menimpali,Soraya dan Idris mengangguk hampir bersamaan.Gadis gembul itu tersenyum disertai kerlingan mata.Ia melangkah penuh semangat keluar dari kelas.
BRAK!!
Fitri menggebrak meja, sembari bangkit dan keluar dari kelas dengan langkah yang dihentakkan.
"Hemmm mau macem-macem sama aku"gumam Soraya.
*
Luna memperhatikan Fitri,ia merasa belum pernah melihat anak murid itu sebelumnya.
"Siapa dia?"
Teman-teman ganknya melihat ke arah mata Luna memandang.
"Entah...anak baru kali"
Luna terus memperhatikan gerak-gerik Fitri yang terlihat menggerutu sendiri.
"Kenapa ??"Teman Luna penasaran dengan apa yang ada dalam pikiran gadis itu.
"Dia baru saja keluar dari kelas Idris"
"Apa kamu akan mendekati nya??"
Luna tersenyum menanggapi pemikiran teman-temannya.
"Yuk...."Luna beranjak,dan diikuti oleh teman-temannya.
*
Tanpa permisi,Luna duduk di hadapan Fitri yang tengah menikmati makanannya di kantin seorang sendiri.
Fitri merasa kurang suka dengan sikap Luna tersebut.
"Kamu anak baru ya??"sapa Luna.Fitri menautkan kedua alisnya, ia heran kenapa gadis di depannya itu bisa tahu??
"Apa kamu sekelas dengan Idris ??"
Fitri tak menjawab, ia memilih untuk menunggu apa maksud dari lawan bicaranya itu.
"Idris itu saudara jauhku"
Saat mendengar kalimat yang terakhir, Fitri langsung tersenyum lebar.
"Jadi??kamu juga termasuk keluarga sultan ??"
"Sultan itu dari pihak neneknya Idris, sedangkan aku dari pihak Kakeknya.Tapi Sultan dibesarkan oleh keluarga ku"
"Tapi kalian kan keluarga terpandang"Tanggap Fitri.
"Ya iyalah...Luna ini ketua OSIS disini,Di sekolah ini hanya keluarga ternama dan terkaya yang bisa jadi ketua OSIS "Salah satu teman Luna menjelaskan,Luna Mengangkat dagunya.Betapa girangnya hati Fitri mendengar hal itu.
"Apa kamu tahu Soraya??"Luna menyambung.
"Aya'??"
Luna mengiyakan,Fitri berdecih.
"Dia termasuk sepupu ku yang tidak jelas siapa ibunya.Hanya karena dia anak dari pamanku Prabu Atmajaya ,dia memantaskan dirinya sendiri untuk menjadi kekasihnya sultan "
Luna Mengangkat sebelah bibir nya.
"Aku sebenarnya tidak begitu menyukainya "Gumam Luna.
"Benarkah ???"Pupil mata Fitri berbinar."Apakah kamu bersedia jika aku berencana untuk membuat mereka berpisah ?"
Luna tersenyum,ini lah yang ia nanti.
"Apa kamu bisa melakukan itu?"
Fitri mengangguk yakin...
"Akan aku lakukan dengan cara apapun,tapi jika aku nanti bisa bersama dengan Idris?Apakah kamu akan mendukung ku-?"
"Kita lihat saja apa yang bisa kamu lakukan untuk membuktikan kesungguhan mu"
Fitri tersenyum lebar,ia merasa seperti mendapatkan sebuah dukungan besar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kartika menautkan kedua alisnya melihat putri kesayangan nya berjalan beriringan dengan seorang pria.Ia menutup majalah dan membuka kaca mata yang biasa ia gunakan untuk membaca.
Pupil matanya melebar saat pria itu sudah mulai kelihatan lebih jelas.Si anak sultan!!! Kartika bangkit dari duduknya.
"Mama..."Soraya menghampiri,ia mencium tangan sang Ibu Sambung penuh takzim.
"Dia???"Idris tersenyum setelah mencium tangan Kartika.
"Si anak sultan ??"
"Emmmm yah...juga si pria yang ku akui sebagai pacar saat aku kesurupan "
Idris tergelak.
"Ohhh ya...Mama baru ingat,maaf Mama lupa jika sebelum acara ulang tahunnya kita memang pernah bertemu.Karena saat itu Mama panik kamu pergi dengan seorang pria tak dikenal dan mengaku pacar"
"Emmm kalian mau pergi jalan-jalan ??"Kartika menyambung kalimat nya.
"Nggak Tante,saya mau main disini sama Aya',ada sedikit projects "Idris menjawab.
"Ohya???uh bahasanya seorang konglomerat memang lain..."Kartika jadi gemes sendiri"Ya udah... silahkan...Tante akan meminta Bibik untuk mengantar makanan kecil dan minuman "
"Makasih Ma...Yuk..."Soraya menarik tangan Idris,pria itu manut aja.
Keduanya menyusun rencana untuk menjebak Pardi agar mengakui perbuatannya.Mereka membahas semuanya di ruang belajar Soraya.
"Kita kekurangan bukti untuk bisa menginterogasi Pardi...jadi kita harus punya rencana cadangan "Ucap Idris.
"Gimana kalau kita buat dia berhalusinasi ??"Soraya mengutarakan sebuah ide.
"Caranya ??"
"Dengan ini"Soraya mengeluarkan bungkusan kecil dari dalam tasnya.
"Apa ini?"Idris mengambil alih bungkusan itu lalu memeriksanya dengan teliti.
"Serbuk buah kecubung"
"Kecubung ??bukankah kecubung itu batu sakti seperti milik ku?"
"Itu Jimat,tapi kalau ini adalah tumbuhan.Kamu mau coba?"Soraya mengerlingkan matanya dengan senyuman licik.
"Aku jadi curiga..."Idris menatap tajam dengan disertai senyuman.Soraya terkekeh...
"Kita coba cara ini?"Soraya Mengangkat bungkusan serbuk kecubung.
"Caranya ??"
"Pardi harus memakannya,aku akan meminta mang Sukri untuk memberikan makanan yang kita taburi serbuk kecubung ini kepada Pardi"
Idris mengangguk mengerti.
"Kita beli kue tart coklat,biar serbuk kecubung bisa kita taburi di atasnya"
Idris mengangguk setuju.
*
*
Dengan senang hati, Sukri menjalankan perintah dari Soraya.Ia datang ke rumah besar tempat Pardi bekerja.
"Assalamualaikum..."Sukri menghampiri Pardi yang tengah mengelap mobil sang majikan.
"Wa'alaikum salam... Sukri...ada apa?"Pardi menjawab.
"Wah kelihatannya kamu sibuk,ini aku bawakan kue.Kebetulan aku lagi ulang tahun"Jawab Sukri seperti yang sudah Soraya ajarkan.
"Ohya .. kebetulan,aku lagi laper nih"
Sukri menyerahkan bungkusan yang ia bawa,Pardi terlihat sangat senang.
"Makasih ya KRI"
Sukri mengangguk senang.
"Ya sudah aku balik dulu,jangan lupa dimakan ya kuenya"
"Pasti!!"Pardi menjawab dengan semangat.
Tanpa menaruh perasaan curiga,Pardi melahap kue yang berjenama CONATTO.Pardi sampai merem melek menikmati kue itu.
Adzan Maghrib berkumandang,Pardi hampir melupakan ritual yang selalu ia lakukan semenjak kematian rekan kerjanya,si Jamal.Ia bangkit untuk membakar dupa disertai mantra pengusir arwah.Ia membawa dupa itu mengelilingi halaman rumah.
Usai melakukan ritual itu,Pardi kembali menyantap kue yang dikasih Sukri sampai ludes.
AKHHHH
Pardi bersendawa karena kenyang,kue itu lumayan besar hingga mampu memenuhi perut si Pardi.
Usai makan,Pardi beranjak ke kamar mandi.Ia berencana setelah mandi akan langsung istirahat.
Saat menggosok tubuhnya dengan sabun sambil menghadap ke cermin di kamar mandi.Pardi kaget karena melihat pocong di dalam cermin sedang mandi.Ia menoleh ke belakang tubuhnya,tidak ada siapapun.Tapi di cermin itu tetap ada si pocong sedang beradu pandang.
Pardi mengusap wajahnya,pocong itu pun melakukan hal yang sama.Pardi bergerak seperti apapun, pocong di dalam cermin melakukan hal yang sama.Pardi melompat maju mundur, pocong juga begitu.
Ia mengguyur tubuh nya dengan air, pocong di cermin itu juga basah oleh guyuran air.
"Hey pocong!!Kamu Jamal ya??"Pardi berkacak pinggang menghadap cermin."Kamu pikir aku takut sama kamu Mal??aku nggak takut!! Meskipun ada seratus bahkan seribu pocong seperti mu,aku tidak takut!! karena aku punya penangkal!!Kau tidak akan bisa menyentuh ku,kau hanya akan diam seperti itu di dalam cermin..hahahahahaha"Pardi tertawa begitu jumawa.
Tiba-tiba entah sadar atau tidak,Pardi membentur kan kepala ke cermin.Dan ia lakukan berulang-ulang.
"Mati kau Jamal,mati kau!!mati kau"Pardi melakukannya dengan sepenuh tenaga.Hingga kepala Pardi berdarah.Darah itu mengalir menutupi wajahnya, untuk membuka matanya saja susah.Pardi meraba mengambil gayung,dan tanpa sengaja kakinya terpeleset.Kepala Pardi terbentur tepian bak mandi yang terbuat dari semen cor.Pria itu langsung mati di tempat.