
Aurel senyam-senyum melihat dua insan yang berpelukan di depan matanya.Ia jadi teringat masa-masa indah saat ia sedang kasmaran dengan Irwan.
Namun hatinya bertambah sakit ketika tahu kebenarannya.Rasa dendam kembali berkobar dalam dirinya.
"Apakah kalian melupakan aku??"
Sontak Maulana dan Cahaya melepaskan pelukannya.Mereka jadi salah tingkah dan tak mampu untuk bertatapan satu sama lain.
"Emmm ritual Ngganti awak akan dilakukan malam nanti.Kita harus bawa tubuh Aurel ke rumah.Karena jika dilakukan disini,akan sangat berbahaya "Cahaya berucap dengan wajah yang bersemu merah.
"Baiklah "
Aurel tersenyum tipis...
*
*
Malam harinya, ritual di lakukan di kamar Cahaya .Gadis itu berbaring di sebelah tubuh Aurel yang dipenuhi selang infus.Sedangkan Maulana membakar dupa di setiap penjuru kamar.Tak lupa ia membakar lilin merah,Cahaya berpesan agar menjaga lilin itu agar jangan sampai mati.Karena bisa berbahaya bagi dirinya.
Cahaya memejamkan mata,ia membutuhkan konsentrasi tinggi untuk bisa memecahkan jiwa dari raganya.Selang beberapa saat, jiwa Cahaya Keluar dari dalam tubuhnya.Lalu berpindah ke tubuh Aurel.
"Ahhhhhhhhh"
Mulut Aurel terbuka lebar dengan tarikan nafas panjang.Matanya melotot menghadap awang-awang.
Setelah sekian lama tubuh Aurel membatu,kini sudah bisa bergerak kembali.
"Syukurlah..."Roh Aurel mengusap wajahnya sebagai tanda rasa syukur yang tak terhingga.
"Ca..."panggil Maulana untuk memastikan.Bola mata Cahaya berputar,menghadap ke arah datangnya suara.Maulana tersenyum tipis, ia tenang karena Cahaya merespon.
Tubuh Aurel yang dimasuki jiwa Cahaya beringsut duduk.Maulana cepat bergerak untuk membantu.Cahaya mengeliat merenggangkan otot-ototnya.Sedangkan Maulana membantu melepaskan selang-selang yang selama ini menunjang Aurel untuk hidup.
"Mana roh gadis itu ??"tanya Cahaya .
"Hah??siapa yang kamu maksud ?"Maulana balik bertanya dengan rasa heran.
"Roh Aurel..."jawab Cahaya .Maulana menoleh ke satu titik keberadaan jiwa Aurel yang juga menatap Maulana heran.
"Dia tidak bisa melihat ku??"Aurel menunjuk batang hidungnya.
"Kau tidak bisa melihat jiwa Aurel ??"Maulana ingin memastikan,dan anggukan kepala Cahaya sangat meyakinkan.
"Astaga...terus gimana ini??"Maulana terkesiap kaget.Ia mulai panik, kalau Cahaya tidak bisa melihat jiwa Aurel ?lantas siapa yang akan menjadi petunjuk disaat Cahaya muncul di tengah-tengah keluarga Aurel.
"Kau telfon supir itu,hanya dia yang bisa membantu"Cahaya memberikan perintah,Maulana mengangguk patuh.Ia langsung menelpon Musthafa.
Dan pria itu langsung paham saat Maulana menjelaskan situasi yang sebenarnya.
"Baiklah...aku juga akan membawa Tuan untuk pulang.Aku akan merawat Tuan di rumah saja"jawab Musthafa dari seberang.
"Ok...aku akan mengantar Aurel besok ke sana"ucap Maulana .
"Saya akan tunggu... terimakasih banyak "
"Sama-sama "
Talian telfon terputus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aurel turun dari dalam mobil Maulana .Ia sedikit gugup,tapi ia akan menghadapi semuanya dengan sigap.Berbekal secuil kisah yang diceritakan oleh jiwa Aurel yang asli,Cahaya melangkah menuju ke rumah besar nya.
"Non Aurel..."Pekik seorang wanita paruh baya,ia meletakkan gunting rumput di tangan nya.Lalu bergegas menyambut kedatangan sang anak majikan.
Cahaya tersenyum kelat, wanita itu nampak terharu.Ia membelai pipi Cahaya seperti ingin memastikan bahwa yang ia lihat adalah nyata.
"Mana Musthafa ?"tanya Cahaya .
"Ada Non...ada...dia semalam baru saja datang bersama Tuan besar yang tengah sakit.Bibik tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini, semenjak kecelakaan itu.Semuanya kacau Non..."
Cahaya hanya tersenyum tipis.
"Tolong antar kan aku untuk bertemu Musthafa "pinta Cahaya .
"Baik..baik Non...mari..."
Cahaya digiring masuk ke dalam rumah.
"Kenapa tiba-tiba kamu membawa Papa pulang ??padahal Papa masih kurang sehat ??"Ujar Irwan,ia tidak suka dengan kehadiran mertuanya itu.Meskipun Pak Adit sendiri sudah kaku tak bergerak.
"Tuan lebih tenang tinggal di rumah,jadi sangat bagus untuk penyembuhannya"jawab Musthafa dingin, Irwan menarik sebelah sudut bibirnya dengan sinis.
"Nona??"
Refleks Irwan langsung menoleh,ia terperanjat melihat istrinya datang dengan tiba-tiba.Padahal terakhir ia melihat keadaan Aurel masih coma,lalu entah kenapa Aurel menghilang? Irwan tidak percaya jika istri nya itu kabur sendiri,tapi pada kenyataannya Irwan tidak bisa menemukan siapa yang telah membantu Aurel kabur dalam keadaan coma.
"Sa-sa-sayang..."tungkai kaki Irwan yang menyanggah tubuhnya terasa lemas.Ia seperti sedang melihat hantu saja.
Cahaya melemparkan senyuman,ia menghampiri Pak Adit yang duduk diam di atas kursi roda.
"Papa .."Cahaya membelai rambut yang mulai beruban itu dengan lembut "aku kembali"bisik nya lirih.
Pak Adit memang tidak bisa bergerak,namun bulir air mata yang jatuh di pipinya menandakan ia sangat bahagia melihat putrinya kembali.Cahaya mengusap pelan pipi Pak Adit.
"Terimakasih Musthafa...kau sudah menjaga Papa dengan baik"
"Sama-sama Non"Musthafa merendahkan kepalanya.
"Sa-sa-sayang..."Irwan tercekat, tenggorokannya kering seketika.
"Apa kabar Mas??? senang bisa bertemu kamu lagi"
Irwan tidak bisa menjawab,ia kalut dan takut.
"Karena aku sudah kembali, waktunya aku menyelesaikan semua masalah yang terjadi sebelum aku kecelakaan"
"Apa maksud mu sayang ??"
"Mulai sekarang,kau tidak perlu lagi bersusah payah mengurus perusahaan"
"Kenapa bisa begitu ??Papa menyerahkan hak atas perusahaan kepada ku sayang "bantah Irwan.
"Aku tahu...dan Papa melakukan hal itu karena ia tidak tahu jika kamulah yang telah mencelakai aku"
"Sa-sayang... ka-kamu kok ...bisa mengatakan itu..itu bisa jadi fitnah dan aku bisa menuntut mu atas pencemaran nama baik "
"Ya udah...tuntut aku,tapi sebelum itu...kita akan menandatangani surat perceraian "tegas Cahaya .
"Kamu tidak bisa melakukan itu Sayang...kamu lupa bahwa kita sudah menandatangani surat perjanjian saat kita menikah.Kita berjanji tidak akan pernah ada perceraian diantara kita,tanpa adanya alasan apapun.Jadi hanya kematian yang bisa memisahkan kita sayang..."Irwan menjelaskan dengan percaya diri.
Hal itu membuat Cahaya terdiam...jadi Irwan memang sudah merencanakan semua nya dengan matang.Aurel yang saat itu tidak tahu tujuan suaminya,pasti sangat bahagia dengan perjanjian itu.Sungguh licik sekali dia.
"Aku tetap dengan keputusan ku, kau diberhentikan kerja di perusahaan Papa"
"Sayang tidak bisa gitu dong...kamu tidak akan bisa menjalankan perusahaan Tanpa aku"Irwan tidak terima.
"Itu bukan masalah besar...aku bisa melakukan nya..."Cahaya menjawab dengan mantap.
"Tidak... perusahaan akan hancur jika ditangani oleh orang yang tidak berpengalaman"
"Aku tidak perduli, lebih baik hancur ku nikmati sendiri.. dari pada sukses tapi kau merampas nya dari kami!!"Cahaya menunjuk wajah Irwan tepat di depan matanya.