Blue Eyes

Blue Eyes
Blue Eyes : 13



"Kakak hebat sekali tadi" puji Zara.


"Kakak punya kekuatan super, hebat" kata Zara sambil bertepuk tangan.


"Kamu tidak takut dengan Kakak yg seperti tadi?" tanya Anna "Kamu tidak takut dengan mata biru ini?" lanjutnya sambil menunjukkan mata berwarna biru kepada Zara.


"Warnanya cantik sekali kak, kenapa harus takut?" tanya balik Zara.


Anna terkejut dengan jawaban Zara, selain Krist ada orang lain lagi yg berani memuji mata biru miliknya. Mereka bahkan tidak tahu seberapa berbahayanya mata biru yg dulu dikatakan terkutuk ini.


Sekelebat bayangan dari masa lalu menghampiri Anna.


"Ibunda tidak takut dengan mataku?"


"Tidak, kenapa harus takut dengan mata biru secantik ini. Kamu tetaplah darah daging Ibunda"


"Aku juga tidak takut"


Zara terkejut melihat mata biru yg perlahan menghitam itu, kembali normal. Tapi Anna menangis membuat Zara panik takut perkataannya tadi menyakiti perasaan Anna.


"Kakak, aku minta maaf kak" kata Zara panik.


"Tidak apa-apa, jangan beritahu hal ini pada siapa pun ya?" pinta Anna.


"Apakah Kak Krist juga tahu soal kakak?" tanya Anna.


"Dia tahu lebih banyak tentang Kakak" kata Anna. Wanita cantik itu mengambil sesuatu di kantung bajunya, kemudian memberikan cincin yg sama dengan milik Krist kepada Anna.


"Pakai ini, setelah kamu melihat mata kakak kamu akan bisa melihat mereka yg seharusnya tidak terlihat, ini akan melindungimu" katanya.


"Sekarang ayo kita pulang" kata Anna.


-


"Hei adik durhaka, kamu apakan Anna sampai matanya sembab seperti itu?" tanya Krist saat melihat Anna dan Zara yg baru pulang.


"Kakak ayo kita bicara" kata Zara langsung menarik tangan Krist meninggalkan Anna dengan Mama. Ada Papa juga disana.


"Kenapa? Kenapa Anna sampai menangis?" tanya Krist.


"Ayo jelaskan padaku semua hal tentang Kak Anna yg kakak ketahui" kata Zara.


Zara mengangkat tangan kirinya lalu menunjukkan cincin yg tersemat dijari telunjuknya.


"Ayo ceritakan, dan jangan sampai ada yg terlewat" paksa Zara membuat Krist menghela nafas berat. Kenapa harus banyak yg mengetahui tentang Anna, Krist takut itu akan menyakitinya nanti.


Krist menceritakan semuanya tentang Anna kepada Zara. Semua, Zara tahu jika masih ada yg ditutupi jadi percuma disembunyikan. Masa lalu tentang Anna, tapi yg membuat Krist heran adiknya justru terkagum kagum mendengar kisah tentang Anna.


"Apakah Kak Anna bisa memberikan uang sebanyak yg kita mau?" tanya Zara aneh.


"Bukan seperti itu bodoh, aneh sekali kamu ini Zara" kata Krist sambil menjitak kepala adik kandungnya itu.


"Tapi kak, Aku sepertinya tidak asing mendengar cerita kakak barusan. Seperti pernah mendengar, dari siapa ya?"


"Cerita ini bukan cerita sejarah, Anna bukan pahlawan yg harus dibukukan kisahnya atau dikenang. Dia hanya manusia yg menginginkan kematian diantara kehidupan kekalnya, jangan sok tahu" peringat Krist.


"Benar kak, seperti pernah mendengar tahu" kata Zara masih berusaha mengingat.


"Sudahlah, kakak mau lihat Anna dulu. Ingat, jangan beritahu siapapun soal ini Zara" kata Krist.


"Iya, kak" jawab Zara, ia melanjutkan "Kak, jatuh cintalah dengan Kak Anna tapi jangan sampai membunuhnya"


"Dasar gila"


Krist berjalan menuju ruang keluarga, ada Papa dan Mama yg sudah menunggu.


"Zara apakah Anna sampai ia menangis tadi?" kata Papa


"Tidak apa-apa, saat mereka melihat matahari terbenam ia rindu kebersamaan dengan ibunya dulu, Karena itu menangis" kata Krist sambil berbohong.


"Ibunya sudah tiada?" tanya Mama.


"Iya, sudah lama sekali" kata Krist sambil membayangkan waktu seribu tahun yg Anna lewati seorang diri.


"Aku ingin melihat dia dulu, dimana Anna?" tanya Krist.


"Di ruang tamu" kata Mama.


Krist berjalan menuju ruang tamu, mengingat kembali perkataannya dengan si perempuan tua.


Anna memang terlihat sempurna, kuat tapi ia hanyalah wanita yg rapuh. Kesepian, mengharapkan kasih sayang dan kematian disaat yg sama