Blue Eyes

Blue Eyes
LUDAH API119



Wafi membuka pintu mobil dan keluar meskipun enggan.


"Loh..kau mau kemana ??"Perempuan itu merasa tidak rela jika Wafi pergi.Ia turut turun dari mobil.


"Maaf Tante saya nggak bisa nganter,,Ayo Jar.."Wafi mengajak Fajar pergi.Fajar mengiyakan lalu mengikuti langkah temannya.


Perempuan itu tampak geram,ia menjotos telapak tangannya sendiri.


"Permisi"


Sebuah suara membuat perempuan itu menoleh.Maulana melemparkan senyuman yang automatis perempuan itu langsung menghapus kekesalannya.


"Iya Mas...ada apa?"suara perempuan itu lembut mendayu-dayu.


"Emmm saya tersesat,kalau boleh tahu ini dimana ya??"


"Ohya?? Sampean mau kemana ??"Perempuan itu lebih mendekatkan diri.


"Mau cari hotel terdekat "Maulana menjawab ngelantur.


"Ohhh..gimana kalau nginep di rumah saya saja? Rumah saya deket kok"


"Ah jangan Dek, nanti ngerepotin "


"Nggak kok Mas... nggak ngerepotin,yuk.."Perempuan itu membuka pintu mobil dan mempersilahkan Maulana untuk masuk.


Maulana mengangguk sopan,ia pun masuk ke dalam mobil itu.Dengan si perempuan yang mengemudi.


Maulana memperhatikan keadaan sekitar sepanjang perjalanan.Ia juga bisa melihat Cahaya mengikuti mereka dari kejauhan.Sehingga tanpa disadari oleh Maulana , perempuan itu berubah wujud.


Mulutnya menganga lebar hingga mencapai telinga,ia juga menjulurkan lidahnya yang semakin memanjang.Perempuan itu mengarahkan lidahnya ke batang leher Maulana .


Tapi mendadak Maulana menoleh, lidah itu refleks masuk ke dalam mulutnya dengan cepat.


"Ada apa Dek?"tanya Maulana heran karena si perempuan tengah menatapnya.


"Nggak... nggak ada apa-apa Mas.."jawabnya disertai senyuman manis.


Mobil yang ditumpangi masuk ke pekarangan sebuah rumah.Anehnya, rumah itu hanya satu-satunya.Tak ada rumah lain di sekitar nya.Tapi lampu jalan masuk ,jadi tempat itu bukanlah sebuah pelosok desa.


"Mari Mas..."perempuan itu mengajak Maulana masuk.


"Maaf kalau tempat nya hanya sebuah gubuk"perempuan itu menghaturkan minuman di atas meja.


"Iya nggak apa-apa Dek, Seharusnya saya yang minta maaf karena udah ngerepotin"


"Enggak kok Mas saya nggak merasa direpotkan .Ya sudah silahkan istirahat saja dulu, sampean bisa tidur di dipan kecil itu dan saya tidur di dalam"


Maulana mengangguk mengerti, ia pun langsung merebahkan diri.Perempuan tersebut tersenyum simpul.Kemudian ia melangkah masuk ke dalam.


Malam merambat lambat,Cahaya berdiri di dahan pohon dengan sabar.Menunggu apa yang akan dilakukan perempuan itu selanjutnya.


Maulana merasa ada sesuatu yang menggelitik di leher nya.Ia membuka matanya dengan perlahan.


"AKH"Maulana kaget saat ia menyadari bahwa tubuh nya berada dibawah seekor makhluk mengerikan.Matanya besar,namun pipinya cekungan dan tubuh nya kerempeng.Buah khuldi nya meleper hingga menyentuh tubuh Maulana . Makhluk itu juga memiliki ekor yang panjang.


"Si-siapa kau...??"pekik Maulana ,ia tidak bisa kabur karena terjebak dibawah tubuh makhluk itu.


"Hehehehehe..."Makhluk itu justru terkekeh.


"Tolooooooong"Maulana menjerit lantang membuat makhluk itu semakin tertawa lepas.


"Berteriak lah...kau tahu tadi kan??tak ada rumah penduduk disekitar sini..Jadi.. percuma kau berteriak minta tolong "jawab Si makhluk, suara nya serak seperti seorang nenek-nenek.


WUUUSSSSSS


Angin berhembus kencang, mendobrak pintu kayu gubuk itu.Makhluk jadi-jadian itu memalingkan wajahnya, ia kaget melihat seseorang datang.Ia melompat turun menghadap tamu tak diundang.


"Hey!!siapa kau!!!"teriak makhluk itu lantang"berani-beraninya kau masuk ke wilayah ku"


"Rupanya ini semua adalah ulahmu"Gumam Cahaya .


"Siapa kau ??"sekali lagi makhluk itu bertanya.


"Kau bisa saja tidak mengenaliku,tapi aku tahu siapa kamu.. dasar!! siluman gatal,apa yang telah kamu lakukan pada anak-anak itu?"


Mata yang bulat semakin melebar dikarenakan terkejut ada manusia asing yang tahu akan perbuatannya.


"Kau bukan manusia biasa"Ujarnya.


"Apa pria itu temanmu??"


"Semua incaran mu malam ini adalah temanku"Cahaya menjawab.


"Waahhhh.. rupanya kau menjebak ku"


Cahaya tersenyum kelat.


"Apa yang kau inginkan dari ku??padahal aku tidak mengganggu mu"Sambung siluman itu.


"Kau telah mengusik dunia manusia"


"Aku hanya menginginkan 41 orang perjaka saja... sesudah itu aku akan pergi"


"Berapa yang kau dapat sekarang ??"


"Baru 5"


"Berarti tidak akan pernah ada yang ke enam"


"Apa maksud mu??"


"Aku akan membinasakan mu malam ini"


"Apa????HAHAHAHAHAHAHAHAHAH meskipun kau bukan manusia biasa,tapi membinasakan ku adalah hal yang mustahil kau lakukan "Siluman itu tertawa mengejek.


"Ohya??? kalau begitu..ayo kita coba "tantang Cahaya .Tawa dari mulut lebar itu langsung hilang.Ia menjeling Cahaya dengan tajam.Cahaya melangkah ke samping,dan makhluk itu pun melangkah ke sisi lain mengikuti arah jarum jam.


Siluman itu menyerang dengan memecutkan lidahnya yang panjang,namun Cahaya berhasil menghindar.Hingga pecutan lidah siluman itu menghantam kursi hingga terbakar.


"Ohhh si ludah api"Gumam Cahaya , Makhluk itu menyeringai.Ia merasa berhasil menakuti lawannya.Sekali lagi siluman itu mencambuk Cahaya dengan lidah nya,tapi kali ini Cahaya tidak menghindar.Ia justru menangkap lidah itu dan mencengkram nya kuat.


"Akh"siluman itu memekik kuat,ia mencoba menarik lidahnya namun Cahaya lebih kuat lagi menahannya.Terjadilah tarik menarik, makhluk itu dengan cerdiknya mengikuti tarikan Cahaya . Hingga ia berhasil menendang lawan nya.


Cahaya terjungkal,membuat Maulana refleks ingin menolong.Namun Makhluk itu justru mengibaskan ekornya menghantam tubuh Maulana .


"Kurang ajar!!"Cahaya menggebrak lantai, menciptakan dorongan kuat kepada tubuh nya.Sehingga ia melompat dan berdiri kembali.


"Hehehehehe.. ternyata pria ini kelemahan mu"Makhluk itu mengarahkan lidahnya ke arah Maulana yang masih duduk di lantai.Ia mencambukkan lidahnya,Maulana refleks melindungi diri dengan kedua tangannya.Tapi aneh, tidak ada apapun yang terjadi.Perlahan Maulana membuka matanya, rupanya lidah siluman itu terikat oleh benang yang bersinar kebiruan.


Cahaya menarik ujung benang tersebut,dan siluman itu juga menarik lidahnya.Kali ini siluman itu terlihat kewalahan.Sampai berkali-kali kakinya terpeleset menahan tarikan Cahaya yang kuat.


"Kau harus mati"Cahaya bersuara geram, ia menarik sesuatu dibalik rambutnya.Sebilah samurai muncul di tangan,dan wajah Cahaya tertutup oleh sebuah topeng.


Siluman itu terkejut bukan kepalang,ia gelojotan menarik lidahnya agar terlepas dari jeratan benang putih.Namun semua sia-sia,benang itu bukan sembarang benang.Cahaya menggulung benang putih itu dengan tangan nya, menarik tubuh siluman semakin dekat padanya.Siluman semakin ketakutan,ia sekuat tenaga menahan agar tubuhnya tidak ketarik.


"Ukhhh"Siluman itu terus menahan,ia kerahkan seluruh kekuatan nya untuk bertahan.


"Ammmpuuuuuun"Ia berteriak lantang agar Cahaya berhenti menarik nya.Dan itu berhasil,Cahaya menghentikan tarikan benangnya.


Siluman itu menghela nafas lega,ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan rasa lelahnya.


Derap langkah kaki perlahan mendekat,membuat siluman itu berdiri tegak kembali.Ia panik karena Cahaya justru menghampirinya.


Tak ada pilihan lain, siluman itu bersujud memohon ampunan dari Cahaya .Ia mengeluarkan janji-janji agar Cahaya bisa mengampuni.


"Kembalikan ruh murni anak yang telah kau hisap, sehingga membuat mereka kehilangan jiwa mudanya"


"Ta-tapi.."


"Aku sama sekali tidak tertarik dengan alasan mu"Cahaya memotong kalimat dengan cepat.


"Atau??ku habisi kau sekarang juga"


"Tidak!!tidak!! Ampuni saya... ampuni saya... baiklah...akan saya kembali kan"


"Bagus!! lakukan sekarang juga"gertak Cahaya . Siluman itu mengiyakan,ia mendongak ke atas.Perutnya bergerak seperti mendorong sesuatu untuk naik ke tenggorokan.Lima gelombang berbentuk bulat terdorong ke atas lalu keluar dari mulutnya.


Rupanya beberapa bola bercahaya mengambang di udara.Cahaya menyentil satu persatu bola tersebut hingga melesat cepat terbang ke langit lepas.


Setelah mengeluarkan bola-bola itu,tubuh siluman itu terkulai lemas.Tubuhnya ringkih hingga hanya menyisakan tulang belulang saja.


"Enyahlah!!jika aku menemukan mu lagi melakukan hal yang sama,aku pastikan kau tidak akan ku ampuni"


"Ba-ba-baik "