Blue Eyes

Blue Eyes
Blue Eyes : 3



"Jadi kamu ini manusia atau bukan?" tanya Krist sewaktu mereka sedang duduk di kafe. Sadar akan banyak orang yg menatapnya aneh, siapa yg akan bertanya pertanyaan semacam itu.


Salahkan wanita didepannya itu, wujudnya memang seperti manusia tetapi jika mengingat kejadian semalam siapa yg bisa membuat hantu takut sedangkan hantunya sendiri sudah menakutkan.


"Aku... manusia?" kata Anna yg lebih seperti bertanya pada diri sendiri.


"Itu maksudku, siapa yg bisa percaya jika kamu adalah manusia jika melihat kejadian semalam. Anna aku tahu ini terdengar aneh, tapi mata birumu itu berbeda dengan yg lainnya, tingkahmu misterius" kata Krist akhirnya menyebut nama Anna pada akhirnya.


"Oke kalau begitu aku manusia"


Ya tuhan tabahkanlah Krist saat ini juga. Jika tidak mengingat pekerjaannya sebagai fotografer memiliki gaji yg lumayan sudah Krist tinggalkan juga, apalagi jika Anna adalah modelnya. Nasib Krist sangat sial.


"Dengar Krist, aku sudah menunggu sangat lama agar bisa bertemu denganmu. Bukan waktu yg sebentar, banyak hal yg telah aku lalui jadi dengarkan aku sebentar" kata Anna.


"Mari saling jatuh cinta untuk sementara waktu, mari saling mencintai" pinta Anna final.


"Aku tidak mau, kenapa kita harus saling mencintai?" tanya Krist.


"Agar aku mendapatkan kematianku" ujar Anna lirih.


Krist terdiam menatap wanita cantik didepannya itu, kenapa dia harus terjebak bersama wanita ini?


"Kamu tidak bisa mati?" tanya Krist heran "Heyy ayolah, aku tahu kamu punya kekuatan super. Tapi ketidakmampuan untuk mati? jangan bercanda Anna"


Klik...


Anna menjentikkan jarinya, dalam waktu singkat seolah dunia berhenti sejenak. Waktu seolah dibekukan.


"Aku bisa membunuh orang tanpa menyentuhnya, Aku bisa menaklukan hantu, Aku bisa menghentikan waktu. Tapi satu hal yg tidak bisa kulakukan, aku tak bisa menjemput kematianku sendiri"


"Lihat ini... "


Anna mengambil pisau untuk steaknya lalu mengiris pergelangan tangannya. Krist memekik kecil takut tapi kemudian heran tak ada darah yg keluar dan perlahan pergelangan tangan yg diiris tadi menyatu kembali.


"Ini takdirku Krist, Dewa menghukumku bahwa aku tidak akan bisa mati jika bukan karena takdirku. Cinta sejatikulah yg bisa membunuhku, dan itu kamu..." kata Anna "Mari berpacaran, menjadi sepasang kekasih lalu bunuh aku. Hidupmu akan bebas setelahnya dan aku mendapatkan kematianku"


"Kenapa? Bukankah kamu risih dengan keberadaanku?" tanya Anna.


"Aku tidak mau menjadi alasan kematian seseorang, aku tidak tahu kamu ini manusia atau bukan tapi jangan gunakan aku sebagai alatmu, Anna... "


"Krist... "


"Katamu aku takdirmu bukan?"


"...."


"Aku tidak akan mau membunuhmu" kata Krist.


Anna menghela nafas lelah, memandang Krist tajam. Tanpa Krist sadari ada satu hantu yg mendekat kearahnya.


"Lihat kebelakangmu" ujarnya.


"A-apa? Ahhhhh... " bertepatan dengan itu waktu kembali lagi, kini Krist menjadi tontonan orang-orang karena terjatuh dari tempat duduknya.


"A-anna ada hantu, tolong usir dia. Aku takut, cepatlah"


"Aku tidak mau" kata Anna singkat. Ia berdiri dari tempat duduknya, memakai tasnya lalu berbicara...


"Ayo waktu istirahat sudah selesai, kembali ke pemotretan"


Anna berjalan keluar, beberapa pasang mata menatapnya kagum. Tak ada yg tahu jika model yg dikagumi orang-orang itu adalah seorang makhluk yg entah apa kata Krist.


"Kamu sepertinya lezat untuk kumakan" ujar hantu dibelakang Krist yg membuatnya kabur saat itu juga.


"Anna, cepat usir hantunya... Ayolah"


"Tidak mau"