Blue Eyes

Blue Eyes
PENUMBALAN 23



"Idris..."Suara yang sangat disegani terdengar menyapa,Idris menghentikan langkahnya.Ia berbalik dengan canggung.


"Papa..."


Yas tersenyum, karismanya masih jelas terlihat meskipun usianya sudah tak lagi muda.


Idris mendekat, mencium telapak tangan sang Ayah dengan takzim.


"Kapan Papa datang ??"


"Duduklah..kita perlu bicara"Yas menggenggam tangan anaknya dengan hangat,Idris mengangguk patuh.


"Kau kemana saja?Apa yang telah kau lakukan ??hemm?"


"Emmm RIS mencari penculik anaknya Ibu kantin yang hilang Pa,terus RIS juga menyelidiki kasus pemecatan keponakan Mbok Zaitun di Bandung "Idris menjelaskan kepada Papanya yang tak mungkin ia berbohong padanya.Yas mengangguk mengerti.


"Lalu dimana kamu bertemu gadis itu ??"


"Gadis??"


"Yang kamu ceritakan kepada Ibumu"


"Oh..itu!!Di Bandung Pa.. kebetulan dia anak pemilik pabrik.Ris sengaja mengirim nya surel secara misterius tentang apa yang terjadi di pabrik selama ini,dan alhasil.Prabu Atmajaya datang,dia turun tangan sendiri.Mungkin jika putrinya tidak ikut,kasus didalam pabrik itu tidak akan cepat terungkap"


"Emmm"Yas mencebik sambil manggut-manggut.


"Prabu Atmajaya ... Apakah dia pemilik JAYA ABADI GROUP ??"


Idris mengangguk membenarkan.


"Rasanya Papa perlu bertemu dengan nya"


Idris tercengang..


"Mau apa Pa??"


"Papa penasaran seperti apa anak gadisnya, sehingga putraku bisa memuji-muji kecantikannya "


"Papa... pujian ku memang yang sebenarnya,bukan sesuatu yang berbeda.Bahkan aku tidak ingin bertemu dengan nya lagi"


Yas mengernyitkan keningnya..


"Kenapa ??"


"Kita kontras Pa.."


"Karena??"sambung Yas ingin anaknya menceritakan lebih detail.


"Dia merasa dibohongi,saat pertama kali bertemu.Idris menyamar sebagai buruh pabrik Pa, karena hal itu lah dia tidak suka dengan Idris.Dia ...dia benci seorang pembohong "


Yas tersenyum,lalu disusul oleh tawa yang renyah.Idris memperhatikan Papanya dengan tanda tanya besar.Tapi ia tidak berani menyela tawa itu.


"Ok...Ok..Papa paham...ya sudah... serahkan semuanya kepada Papa..ok!!"Yas menepuk pundak putranya lalu melangkah masuk.Idris masih bengong...


"Apa yang dipikirkan oleh Papa?"gumamnya dalam hati.


*


*


Soraya turun dari motor tukang ojek online.Setelah meminta satpam untuk membayar ongkos nya,ia pun berlari masuk ke dalam dengan gerutuan tak terdengar.


"Aya'..."Pak Luyo terpacak di ambang pintu melihat putrinya sudah kembali.


"Bapak .."Soraya langsung memeluk sang Bapak,ia menangis tersedu-sedu.Hati Pak Luyo sudah tidak tenang, jangan-jangan telah terjadi sesuatu.


"Tenang sayang...Bapak akan selalu ada untukmu"Pak Luyo membelai lembut punggung putri angkatnya.


"Aya'... apakah ini kamu nak?"Kartika juga turut risau tentang Aya'.


"Mama..."Soraya merenggangkan pelukannya, Kartika yakin jika sekarang yang ada di depannya adalah putrinya.


"Aya'..."Ia merentangkan kedua tangannya,Aya' langsung bertukar pelukan.


"Kamu nggak apa-apa sayang ??hemm... Laki-laki itu tidak ngapa-ngapain kamu kan hem??"Kartika membolak-balik tubuh anaknya setelah mereka berpelukan.


"Nggak Ma..tapi hantu itu gatel sekali,kesel banget,ih najis.."Soraya menggosok seluruh tubuhnya karena mengingat ia yang memeluk Idris.


"Maafin Mama sayang...Mama tidak peka kalau kamu kerasukan.."Kartika merasa sangat bersalah.


"Sebenarnya,apa yang terjadi sampai dia bisa merasuki mu Nak?"Pak Luyo bertanya.


"Aya' lupa ngasih tahu sama Bapak,saat Gerhana matahari tiba.Aya' akan berada dalam keadaan terlemah"


"Gerhana???ohya tadi ada gerhana matahari, untung tidak lama..Hanya dalam dua jam-an"sambung Kartika.


"Lalu sekarang hantu itu kemana?"tanya Pak Luyo .


Pak Luyo mengangguk,ia mengerti.Jika orang kesurupan pasti akan melemah.


"Aya' ke kamar dulu ya Ma"


Kartika mengangguk memberi ijin.Soraya gegas masuk ke dalam rumah.Ia benar-benar sangat butuh uang istirahat.


*


*


"Waaaahhhh Om...ini benar Om buat untuk Sofi??"seorang gadis begitu terpana melihat sebuah kontruksi bangunan pembuatan mall mewah.


"Iya dong..."jawab seorang pria memakai setelan jas berwarna biru.Ia membawa seorang gadis kenalan nya yang masih berumur 17tahun melihat-lihat bangunan mall miliknya.


"Tapi...om ngasih ini sama Sofi,apa om nggak mau apa-apa dari Sofi?"Gadis itu nampak malu-malu.


"Nggak lah sayang,Sofi tahu kan.Selama ini Om selalu ngasih apapun yang Sofi mau tanpa om mengambil kesempatan kepada sofi"


Sofi mengangguk membenarkan.


"Itu karena Om benar-benar ingin menjaga Sofi.Bukan karena ingin menjadi sugar Daddy"


"Makasih ya Om...udah tulus sayang sama Sofi.Kalau saja Om menginginkan sesuatu dari Sofi?Sofi mau kok melakukannya dengan sukarela "


Pria itu tersenyum penuh arti.


"Benarkah itu??"


Sofi mengangguk mantap.


"Ya udah yuk kita ke bawah.."


Sofi patuh,ia turun ke lantai bawah.Karena saat ini mereka berada di atap gedung yang masih 50% dalam pembangunan.


"Kenapa nggak naik lift om?"tanya Sofi asal nyeplak.Pria itu hanya tersenyum saja.Ia terus menuruni anak tangga yang belum di haluskan.Sofi tak begitu mengambil hati saat pertanyaannya tak di jawab.


Kini mereka sudah menginjakkan kaki di lantai 5,si pria berjas biru tak meneruskan langkahnya menuruni anak tangga.Ia justru berjalan ke arah lift.


Ia mendongak ke atas,saat ini lift berada di atas mereka.Sofi turut mendongak kan kepalanya,ia merasa penasaran apa yang tengah dilakukan pria itu?


"Coba lihat..."pria itu merangkul pundak Sofi,ia menunjuk ke bawah"Seperti gua kan?"


Sofi mengangguk dengan polosnya.


"Tadi Sofi bilang akan melakukan apapun yang Om minta??"


Sofi mengangguk tanpa curiga.


"Pembangunan Mall ini mengalami kendala,Om tidak mau rugi hanya karena hal itu.Jadi Om meminta petunjuk kepada orang pintar "


Sofi mendengar kan dengan seksama.


"Katanya...bangsa dedemit di tanah ini minta penumbalan.Mereka ingin seorang gadis yang masih perawan"


Sofi mengernyitkan keningnya...


"Sofi kan banyak sekali beban hidup,ibu sakit-sakitan.Bapak tidak tahu dimana?Adik juga harus sekolah..Om janji akan menanggung semua biaya hidup Ibu dan adik Sofi.Asalkan Sofi mau jadi tumbal disini"


Pupil mata gadis itu membesar, sekarang ia baru mengerti akan semua maksud pria yang begitu baik padanya.


"Ja-jadi...selama ini??Om memang berniat melakukan hal ini sama Sofi?"


Tanpa rasa bersalah,pria itu tersenyum dan mengangguk.


"Apakah kamu pikir aku akan sebodoh itu merawat dan menjaga kamu beberapa bulan terakhir tanpa imbalan?"


Sofi menggeleng pelan,ia menarik kakinya mundur.Tapi pria itu justru mencekal tangannya.


"Jangan Om... tolong lepasin..Sofi belum mau mati Om...Sofi belum nikah.. pacaran aja belum Om"


"Itu justru jauh lebih baik,karena tidak akan ada orang yang akan mencari mu"bantah pria itu.


"Tapi Ibu Om...ibu Sofi sakit Om"


"Nanti akan aku rawat Ibu dan adikmu, apalagi adikmu lebih cantik dari pada kamu.."


Keduanya saling tarik-menarik, hingga akhirnya pria itu berhasil menarik dengan kuat lalu mendorong tubuh Sofi ke lubang lift yang masih di produksi.


AAAAAAAAAAKKKKK


Sofi menjerit kuat...tanpa rasa ampun,pria berjas biru memutus kawat besar yang menjadi pengait Lift.Sehingga membuat lift terjun bebas dengan kuat menghantam tanah.


BOOOM