Blue Eyes

Blue Eyes
CINTA YANG TIDAK DIRESTUI 117



"Apa yang kamu bicarakan Ca?"tanya Maulana butuh kejelasan.


"Aku bisa menarik jiwa Aurel kedalam tubuh nya dengan mengambil jiwa Papanya"


"KAU KEJAM!!"Aurel berang,ia mencekik Cahaya dengan kuat.Maulana dan Mustafa bekerjasama untuk melerai.Tapi Aurel lebih kuat dari biasanya,Cahaya pun tak ada keinginan untuk melawan.Ia membiarkan saja Aurel menumpahkan emosinya.


Hingga Musthafa berhasil memeluk Aurel dari belakang dan menarik nya mundur.


"Lepaskan aku..Lepaskan aku Musthafa!!akan ku bunuh perempuan yang sudah tega mengambil jiwa Papa... Lepaskan!!"Aurel berontak,namun pelukan Musthafa di pinggang nya sangatlah kuat.


UHUK UHUK


Cahaya terbatuk-batuk akibat cekikikan itu,ia mengambil nafas banyak-banyak agar mengisi kekosongan di rongga dadanya.


"Kau tidak apa-apa ??"tanya Maulana prihatin,Cahaya mengangguk lemah."Kenapa kamu lakukan tindakan itu??hah??"


Cahaya mengontrol pernapasan agar kembali tenang.


"Itu adalah keinginan Pak Adit sendiri,dia ingin putrinya kembali dan hidup bahagia setelah perpisahan nya dengan Irwan.Dia hanya ingin memberikan sesuatu untuk putrinya disisa akhir hidupnya"


"Kau bohong!!"pekik Aurel yang masih dipeluk oleh Mustafa."Papa tidak bisa bicara, bagaimana dia bisa mengatakan hal itu kepada mu?"


"Saat ku usap air matanya,aku bisa mendengar kata hatinya.Kata hati yang penuh harapan untuk sebuah kehidupan kedua bagi putri nya.Jika aku tidak melakukan itu, semua yang aku lakukan juga akan sia-sia.Kau hanya akan menjadi seonggok tubuh yang berada antara hidup dan mati.Papamu pun juga hanya akan menjadi patung zombie "bantah Cahaya .


"Apa?? patung Zombie ?? Kurang ajar sekali kau!sini!!biar ku ro-bek mulut -mu bajin9an!!"Aurel kembali berontak untuk menyerang Cahaya .Namun semuanya sia-sia.


Tiba-tiba ponsel Musthafa berdering, Aurel sontak terdiam.


"Tenang dulu ya Non..."pinta Musthafa sebelum melepaskan pelukannya.


"Hallo...iya...iya ini saya...iya ....hah???apa itu benar ??"


Aurel mendengarkan dengan seksama,tapi belum menangkap apa yang terjadi.


"Ada apa -? Siapa yang nelfon Mus??"tanya Aurel setelah Musthafa memutuskan talian.


"Dari rumah sakit ?? Katanya...Den Irwan meninggal karena serangan jantung"


"Apa ??kok bisa??"Aurel seperti tak percaya.


"Jadi aura negatif itu adalah untuk Irwan"gumam Cahaya .


"Apa kau tahu sesuatu ?? cepat katakan padaku! kalau kamu memang tahu sesuatu "Hardik Aurel.


"Untuk apa aku katakan padamu ?? orang tidak tahu berterima kasih,yuk!! kita pulang"jawab Cahaya sengit,ia menarik tangan Maulana dan mengajaknya pulang.


"Hey tunggu!!kamu belum menjawab pertanyaan ku"seru Aurel tidak puas hati.Namun Cahaya tak mengindahkan nya sama sekali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Esok paginya,Cahaya meminta Maulana untuk mengantar nya ke rumah kedua orang tuanya.Ia ingin sekali melihat kondisi adiknya yang katanya baru saja pulang dari rumah sakit.


Kedatangan Cahaya disambut hangat, kecuali Luna.Ada rasa tak suka dihatinya karena sekarang Fajar sudah sangat dekat dengan Kakaknya.Malahan sebelum kecelakaan,Fajar sering bermain ke Villa hanya untuk bertemu Cahaya .


"Gimana keadaan mu?"Cahaya membelai lembut pucuk kepala adiknya,Fajar tersenyum lebar.


"Kak Caca kemana aja??kok baru kelihatan"tanya Fajar.


"Asyik kentilan paling"ketus Luna sengit.


"Lun...jangan sembarangan kalau bicara"Hardik Maulana .


"Lah emang iya "


"Nek...biarkan Kak Caca yang jawab"tandas Fajar jengkel.Cahaya tersenyum tipis, ia mengusap pipi sang adik.


"Kakak ada urusan, berhubungan dengan nyawa seseorang.Jadi maafkan Kakak ya, karena nggak bisa nemenin kamu selama di rumah sakit"ujar Cahaya menjelaskan,Fajar mengangguk mengerti.Soraya merangkul pundak putrinya,ia sangat terharu dengan kedekatan dua anaknya.Padahal,awal mereka bertemu.Sempat menegangkan.


"Kapan mulai sekolah lagi?"Sambung Cahaya .


"Kayaknya aku bakal pindah sekolah Kak"


Cahaya menautkan kedua alisnya mendengar jawaban sang adik.


"Kok gitu???"


"Sekolah kami terbakar,dan.."Fajar mendekat kan wajahnya ke telinga sang kakak "Rumah Gibran juga, sekarang keluarga Gibran luntang-lantung.Papanya Gibran jatuh miskin dan jadi gila"Fajar merendahkan suaranya sehingga yang mendengar hanya Cahaya saja.


Cahaya manggut-manggut..Jadi benar Ibunya sudah mengunci kekuatan Wewe gombel.


"Papa sudah menyiapkan semua urusan kepindahan sekolah kamu nak..jadi Senin ini kamu sudah bisa sekolah"ungkap Idris.


"Wah bagus itu"timpal Cahaya turut bahagia.


"Kenapa?"


"Aku mau main ke Villa "


"Ohh ok..Kakak nggak akan kemana-mana kok"


"Janji ?"Fajar mengulurkan jari kelingkingnya


"Janji!!"Cahaya menautkan jari kelingkingnya juga.Fajat tersenyum lebar.


_


"Sayang..."Idris menghampiri istrinya yang duduk menghadap cermin "Kamu mikirin apa sih??kok diam begitu lama di depan cermin"Idris memeluk leher istrinya dari belakang.


"Aku mikirin Nur,apa benar tuduhan Luna itu??"Soraya berujar.


"Soal apa??"


"Kalau Nur sama Lana??"Soraya tak mampu untuk melanjutkan.Idris terdiam... sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama.Tapi takut salah.


"Jika itu benar Mas,itu tidak boleh terjadi...Mereka berbeda jaman,dan juga...Nur itu kan pribahasa nya adalah cucu Lana"


"Iya sih...tapi mereka halal untuk menikah"tanggap Idris yang refleks mendapatkan pukulan di lengannya.


"Kamu apa-apaan sih Mas??nggak nggak nggak..aku nggak setuju"Soraya bangkit dan berputar menuju tempat tidur.


"Ya kita harus gimana sayang ??masak kita harus melukai hati putri kita yang baru saja mengecapi kebahagiaan bersama kita"Idris menyusul istrinya ke perbaringan.


"Ya kamu harus bisa membujuk Nur agar ngerti Mas"


"Gimana caranya ??Kau tahu kan, temperamen anak itu gimana ??Fajar aja salah ucap langsung dicekik "


Soraya menghela nafas dengan kasar,ia menyilangkan tangan nya di dada.


"Aku harus bicara dengan Lana!"tegas Soraya mantap.


*


*


Soraya benar-benar menemui Maulana di rumah sakit.Saat itu Cahaya juga berada di sana.Dengan ragu-ragu, Soraya meminta agar memberikan waktu untuk bicara dengan Maulana empat mata saja.


Maulana menggerakkan kepalanya,agar Cahaya bisa meninggalkan mereka berdua.Meskipun semua itu terasa aneh bagi Cahaya ,namun ia tetap menurut saja.


"Ada Apa Ya'?? sepertinya ada masalah serius ??"


"Lan...Aku ingin memastikan ,,Apakah yang dikatakan Luna itu benar atau tidak?"


"Tentang apa?"tanya Maulana yang masih belum mengerti.


"Tentang kamu dan Nur"jawab Soraya to the points.


DEGH!!!


Maulana seperti tengah duduk di kursi listrik.Ia mendadak tegang!


"Bisakah kamu menjelaskan nya?"sambung Soraya lagi.Maulana menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk bicara sejujurnya.


"Maaf kan aku,,aku tahu...kamu pasti akan berpikiran serong terhadap diri ku jika mengatakan aku mencintai Cahaya.Tapi...semuanya berjalan tanpa diduga "


"Kau tahu kan??siapa Nur??"


"Iya Ya'..aku tahu...dia cucuku...tapi masak aku pantas dipanggil Kakek,aku masih muda dan belum menikah "


"Tapi Nur masih kecil,dia belum genap dua puluh tahun "bantah Soraya.


"Dia juga mencintai ku"kilah Maulana .


"Itu bukan cinta,itu hanya perasaan ketergantungan... karena Nur sama sekali tidak dekat dengan siapapun kecuali dirimu.Tolong lah...kau seharusnya paham itu Lan..Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan"


"Ya'...aku sama sekali tidak mengambil kesempatan.Aku memang tertarik kepada Cahaya sebelum aku tahu dia anakmu"Maulana menegaskan.


"Bisakah kau mengalah??Dia cucu mu Lan... tolong pahami lah"


BRAK!!!


Daun pintu terbanting dengan keras, menghentikan perdebatan antara Maulana dan Soraya.


"Nur..."Pekik Soraya saat melihat Cahaya berdiri di ambang pintu dengan Tatapan nyalang.