Blue Eyes

Blue Eyes
166



Dalam perjalanan pulang,Cahaya tidak berhenti memanggil Ibunya,LUCY!!


Perempuan yang sebenarnya sudah berumur lebih dari seratus tahun itu bisa mendengar telepati dari anak angkatnya.Ia pun menyanggupi panggilan itu.


Cahaya melayang perlahan masuk ke dalam kamarnya.Tak berapa lama kemudian,Lucy pun datang.


"Ibu..."Cahaya berlari memeluk sang ibu setelah meletakkan tubuh Pangeran Arif .Lucy tersenyum,ia mencium kening Cahaya dengan penuh kasih.


"Kau baik-baik saja ??"


Cahaya menjawab dengan anggukan kepala.


"Tolong Pangeran Arif Bu...dia tertusuk pisau karena melindungi orang lain"


Lucy mendekati Pangeran Arif yang tergeletak di atas kasur.Ia memeriksa keadaan Pangeran Arif . Gelengan lemah membuat Cahaya terkesiap tak percaya.


"Tidak mungkin,Ibu pasti bisa"Cahaya sedikit memaksa.


"Tubuhnya sudah dingin,dia tidak bisa diselamatkan"


"Tidak Bu...itu tidak mungkin"Cahaya mencengkram dadanya,ia merasa sakit sekali.Nafasnya berat dan cepat.


"Semua manusia pasti akan mati Ca..."


Cahaya menggeleng, ia tidak bisa terima itu.Ia merasa tidak berguna karena tidak mampu menyelamatkan nyawa seseorang yang berjasa besar telah menyelamatkan Pangeran As'ad dari kematian.


Tanpa mereka sadari,Soraya mendengar semuanya.Ia seperti terpanggil untuk keluar.


"Ca..."


Lucy menoleh,dan Cahaya mengangkat wajahnya.


"Kenapa dengan pangeran Arif ??"Soraya melangkah mendekat.


"Di-dia mati..."Cahaya tak mampu menahan air matanya,Soraya langsung menarik anaknya ke dalam pelukannya.Inilah pertama kalinya ia memeluk Cahaya semenjak anak itu datang kembali.


"Tenang lah Nak...Ibu akan coba menolong"


Cahaya mendongak,ia merasa tidak percaya dengan apa yang di dengar nya barusan.


"Apa??Ibu akan menolong ??Apa Ibu bisa?"


Soraya tersenyum,ia belai lembut wajah anak perempuannya itu.Matanya bergulir menatap Lucy yang tersenyum ramah padanya.


"Ibu ingin melakukan sesuatu yang akan membuat mu bahagia selamanya.Maafkan Ibu karena tak sempat memberikan apapun padamu"


"Kenapa Ibu bicara seperti itu ???"


Soraya tak menjawab,ia berbalik menutup pintu kamar Cahaya lalu mengunci nya dari dalam.


Kemudian ia duduk di bibir kasur,mengusap tubuh Pangeran Arif.Kedua matanya terpejam pelan,Cahaya dan Lucy saling berpandangan satu sama lain.


Tiba-tiba sebuah cahaya putih kebiruan terpancar dari dalam tubuh Soraya.Cahaya mengernyitkan keningnya,cahaya apa itu.


Soraya mendongak ke atas,sinar kebiruan di dalam tubuhnya berjalan naik melewati kerontokan.


Soraya membuka matanya,kedua pupilnya seketika itu juga bersinar terang.


Cahaya kebiruan keluar dari dalam mulut Soraya,ia menahannya di ujung gigi.Kemudian Soraya menunduk, membuka mulut Pangeran Arif.Ia memberikan bola inti kehidupan kepada Pangeran Arif .


KALIAN PASTI TAHU APA YANG AKAN TERJADI JIKA BOLA ITU KELUAR DARI TUBUH SORAYA ???


Yaps!!Soraya langsung lemas di atas tubuh Pangeran Arif .Cahaya berlari mendekati ibu yang melahirkan dirinya.


Ia merangkul sang Ibu sambil menepuk-nepuk wajah Soraya.


"Ibu.. bangun lah...Ibu..."


Lucy pun mendekat,ia memeriksa urat nadi Soraya.


"Dia sudah meninggal"


Dua bola mata Cahaya membulat sempurna.Ia tidak percaya jika Ibunya meninggal, kenapa bisa jadi seperti ini ??


"Tidak mungkin,dia kan baik-baik saja.Masak bisa meninggal Bu"


"Sepertinya dia hidup karena bola inti kehidupan,dan sekarang dia mengeluarkan bola itu untuk menghidupkan pria itu"


Cahaya terus saja menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa mempercayai ini semua.Kenapa ia tidak tahu mengenai Ibu kandungnya ?Kalau saja Cahaya tahu,dia tidak mungkin mengijinkan sang Ibu menyelamatkan Pangeran Arif .


Tok tok tok tok


"Ya'..kamu di kamar ini kan??"


Cahaya tersentak mendengar suara Ayahnya diluar,Lucy langsung sigap pergi meninggalkan kamar Cahaya .Ia memang kurang suka dilihat oleh banyak manusia.


"Ya'... ayolah sayang jangan begitu,Caca akan segera pulang.Kamu tenang saja"


"Hah??Jadi ibu sering mengunjungi kamar ku??"


Cahaya menatap wajah tenang sang Ibu,ia menyesal karena tidak sempat dekat dengan beliau.


"Ya'....Kok nggak ada jawaban sih??"Idris yang berada di luar kamar tak mengerti, biasanya istrinya akan ada di kamar Cahaya jika ia tidak ada di kamar nya sendiri.


Akhirnya Cahaya membuka pintu kamarnya dari jarak jauh.Idris pun masuk tanpa curiga.


"Nah gitu dong...."tubuhnya mendadak membatu begitu melihat istrinya berada di pangkuan sang anak.


"Ca...kamu???"


"Kenapa dengan Ibumu??hah??"Idris memegang tangan sang istri,denyut nadinya sudah tak dapat dirasa.


"Kenapa dia??Apa kau membunuhnya?"Idris jadi negatif thinking.Cahaya menggeleng cepat,


"Lalu kenapa dia?? kenapa aku tidak merasakan tanda-tanda kehidupan ??"


"I-ibu....me-meno-long..."


Saat itu Pangeran Arif mengeliat, seperti orang yang baru saja bangun tidur.Kalimat yang akan disampaikan oleh Cahaya jadi tertahan.


"Menolong siapa Ca??hah???"


Cahaya menundukkan wajahnya,jika ia mengatakan yang sejujurnya pasti Pangeran Arif akan dipojokkan.


*


*


Fajar dan Pangeran As'ad baru tiba,mereka langsung berlari ke kamar Cahaya .Karena ingin tahu apa yang terjadi dengan Pangeran Arif .


Begitu melihat Pangeran Arif duduk di kasur dan terlihat baik-baik saja,Pangeran As'ad langsung merangkul nya .Ia sangat bahagia Kakaknya bisa diselamatkan.


"Mama kenapa ??"tanya Fajar kemudian.Cahaya tak menjawab, ia merunduk lebih dalam.


"Papa nggak tahu, tiba-tiba Papa menemukan Mama di peluk sama Cahaya dan dia dalam keadaan sudah tidak bernyawa "


"Apa???"Bibir Fajar merenggang, matanya menatap Cahaya seperti meminta penjelasan.


"Apa ...Ka-kak mengorbankan nyawa Mama?"


Cahaya menggeleng,ia tidak berani melawan Tatapan sang adik.


"Jawab Kak?!!Apa Kakak menukar jiwa Mama??"


"TIDAK!!"Cahaya akhirnya bersuara,"aku tidak melakukan itu"


"Lalu kenapa Mama Mati ???dan Pangeran Arif hidup??"


"Ibu yang melakukannya sendiri "


"Itu mustahil Kak,Fajar Tahu Mama paling benci dengan keluarga Kesultanan.Ini Pasti Kakak yang maksa kan??"


Cahaya diam,ia seperti tersengat aliran listrik ber volt-volt mendengar adiknya tidak mempercayai dirinya.


Fajar bergerak merebut mayat sang Ibu,ia menggendong nya dan dibawa nya keluar.Idris mengikuti Fajar ,ia terus mendampingi mayat sang istri.


"Sayang..."Pangeran As'ad merangkul bahu Cahaya ,gadis itu tak merespon.Ia masih shock dengan tuduhan Fajar terhadap dirinya.


"Jangan diambil hati,adikmu pasti sangat terpukul dengan kematian Ibunya"


Cahaya manggut-manggut..


"Jujur...aku tidak tahu kalau Ibu akan mati setelah memberi kan kehidupan untuk Pangeran Arif .Kalau aku tahu,aku takkan mengijinkan "


Pangeran As'ad mengangguk mengerti.Pangeran Arif sendiri bingung apa yang mereka bicarakan,ia tidak sadar jika dirinya baru saja melewati kematian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kemarahan dan kekecewaan Fajar terhadap Cahaya tidak bisa dipadamkan.Ia dengan tegas mengusir Cahaya dari rumah beserta dua Pangeran itu.


Idris pun tidak bisa berbuat banyak,ia juga merasa kecewa dengan anak gadisnya.Setega itu kah Cahaya , meskipun ia tidak dibesarkan oleh Soraya.Tapi Cahaya lahir dengan perjuangan Soraya.Memikirkan hal itu, Idris jadi semakin sakit hati.


Ia masuk ke dalam saat Cahaya terusir dari rumah nya.


Dengan langkah gontai Cahaya akhirnya memilih untuk pergi.Adiknya yang paling ia sayangi Setega itu menuduhnya tanpa mau mendengarkan penjelasannya.


"Lebih baik kita kembali ke Brunei saja"usul Pangeran Arif .


"Bagaimana sayang?"Pangeran As'ad bertanya apa pendapat sang kekasih.


Cahaya menggeleng...


"Aku sudah jemu dengan kehidupan yang penuh dengan kemunafikan ini.Aku akan kembali ke hutan larangan.Kalau kau ingin kembali ?? pergilah "jawab Cahaya , sorot matanya sudah tidak ada semangat sama sekali.


"Kemana pun kamu pergi?aku akan setia disisi mu sayang"Pangeran As'ad tersenyum tipis"Kanda...Kanda pulang lah,aku akan menetap disini.."


Pangeran Arif berusaha untuk mengerti..


"Baiklah..tapi kau harus ingat,jika tidak ada tempat untuk pulang ?? Rumah ku, istana ku adalah milikmu "


Pangeran As'ad mengangguk tegas.


Akhir cerita,dua pangeran berpisah.Pangeran As'ad hidup berdua di lereng gunung hutan larangan bersama Cahaya .Mereka menjauh dari kehidupan hiruk pikuk yang penuh masalah.


Menjalani kehidupan penuh cinta kasih.Tapi siapa sangka,hari cerah dikira sampai ke malam.Ternyata di tengah hari hujan melanda.


Cahaya sudah ke enam kali mengandung dan melahirkan.Tapi ke enam anaknya harus meninggal.


Rupanya, sebagai penjaga topeng legendaris adalah sebuah pantangan memiliki anak.Karena sebab itu Lucy tidak pernah memiliki anak sendiri.


Lucy tak tega melihat keputus-asaan Cahaya , akhirnya ia menghimbau kepada anak angkatnya itu.Jika kelak dia melahirkan lagi,buanglah anak itu.Dan dapatkan kembali saat ia sudah berumur tujuh tahun.


Untuk kisah selanjutnya,kita akan mengisahkan perjalanan anak Cahaya dan Pangeran As'ad .Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya.dan Bintang limanya... terimakasih sayang...By by


***TAMAT***