
"Sekarang lanjutkan kisahmu!!"Cahaya duduk bersilang kaki bersisian dengan Maulana .
"Aku pikir akan terang sampai ke petang,nyatanya ada badai hujan sebelum siang.Irawan menipuku, ternyata dia menghamiliku hanya untuk mendapatkan sumsum tulang dari bayiku untuk putra nya"
Cahaya menautkan kedua alisnya mendengar kisah yang diceritakan oleh si pocong.
"Yah..aku tahu jika sebenarnya Irawan memiliki seorang istri,tapi ku pikir selama Irawan baik padaku.Aku tidak perduli, apalagi semua kebutuhan ku selalu tercukupi.Aku hidup mewah bergelimang harta, meskipun aku sudah vakum dari dunia aktris"
"Kejadian tragis itu ku ketahui saat aku akan melahirkan,aku dibawa oleh Irawan ke sebuah rumah besar dan aku tahu itu bukan lah hospital.Rupanya itu rumah kediaman istrinya,pantas saja .... Irawan tidak mempermasalahkan saat aku meminta agar kami bisa tinggal satu atap"
{Anies heran melihat ia di dorong menggunakan kursi roda oleh bodyguard kekasihnya Irawan melewati lorong kecil yang berada di dalam rumah besar itu.Ia terus di bawa semakin masuk ke dalam.Namun Anies tidak mampu bertanya ataupun menegur.Karena sakit akibat kontraksi sangat lah menyiksa.
Akhirnya ia sampai di sebuah ruangan tertutup.Saat suis lampu ditekan, terpampang jelas nuansa kamar yang seperti sebuah klinik.
Di sana ada dua ganksal,satu sudah terisi seorang bocah laki-laki dengan kepala plontos.Dan satu lagi masih kosong.Di tubuh bocah itu menancap beberapa selang, sepertinya dia sedang sakit parah.
Anies di papah lalu dibaringkan ke atas ganksal kosong itu.Rupanya itu disediakan untuk Anies.
Tak lama kemudian,tiga orang berpakaian Dokter masuk.Dibelakang mereka turut serta Irawan yang menggandeng seorang wanita cantik.
"Mas..."seru Anies lirih.Irawan menghampiri beserta wanita itu.
"Kamu harus kuat,kamu harus bisa melahirkan anak itu dengan selamat.Aku sudah menunggu anak ini bertahun-tahun lamanya.Ku harap kau bisa berhasil melahirkan anak yang aku inginkan "
"Apa maksud mu Mas??kenapa aku merasa kau ada maksud lain??"Anies berusaha menguatkan diri menahan sakit yang luar biasa akibat kontraksi.
"Lah terus??apa kamu pikir aku sungguh-sungguh mencintai mu??Tidak Nies,aku mendekati mu karena aku ingin anak dari mu untuk menyelamatkan putraku.Dia menderita kanker darah stadium dua.Viktor harus segera menemukan donor sum-sum tulang belakang yang cocok.Dan itu sangatlah sulit, yang bisa cocok hanya saudara sedarah.Tapi istri ku sudah tidak bisa hamil,rahimnya hancur akibat kecelakaan"Irawan mempererat cengkraman di bahu istrinya yang ia rengkuh.
"Dan kini, harapan kami adalah anak yang akan kamu lahir kan"sambung nya disertai senyuman mengerikan.
"Jahat kau Mas,aku tidak akan menyerahkan bayi ku .. tidak akan!!"Anies berteriak lantang sambil mencoba untuk bangun.Tapi ia kalah tenaga dengan bodyguard Irawan yang sedari tadi mendampingi.
Kedua tangannya di ikat ke teralis yang berada di dua sisi kanan dan kiri.Kakinya di naikkan ke atas penyangga lalu di ikat.
Seorang dokter menyuntikkan sesuatu di lengan Anies.Gadis itu panik, ia terus berontak.
Irawan tersenyum simpul melihat Anies sudah mulai kontraksi.Ia saling menggenggam tangan dengan sang istri.Keduanya sudah tidak sabar menunggu kehadiran bayi yang akan menjadi penyelamat putra mereka.
Setelah hampir satu jam,Anies bertaruh nyawa melahirkan anaknya . Akhirnya tangisan bayi memecahkan keheningan.
Irawan langsung mengambil alih bayi yang masih berlumuran darah dari gendongan sang Dokter.Tali pusarnya pun masih belum terpotong.
Ia segera memberikan perintah kepada Dokter yang menangani Viktor agar segera dilakukan tes kecocokan tulang sumsum.
Dokter patuh dengan perintah Irawan.
"Bayi ku... tolong berikan bayiku"seru Anies lirih dengan sisa-sisa tenaganya.Namun tak ada seorang pun yang mengindahkan nya.
Mereka pergi meninggalkan Anies seorang diri,semua sibuk mengikuti Dokter ke ruang laboratorium dengan membawa Victor sekaligus.
Anies berusaha agar tetap sadar,ia menggerakkan tangan dan kakinya sekuat tenaga.Agar ia bisa terlepas dan mengambil anaknya.
Sayang sekali,ia mengalami pendarahan hebat.Sehingga setiap gerakan yang ia lakukan memicu darah semakin banyak keluar.
Anies tak berdaya,ia meregang nyawa tanpa ada siapa-siapa.}
***
"Kejam sekali mereka"Cahaya memberikan penilaian.Si pocong tertunduk dengan tubuh berguncang.
"Kita harus menolong nya"sahut Maulana .Cahaya mengangguk setuju.
"Dimana alamat rumah tempat kamu melahirkan ??"sambung Maulana ,si pocong menggeleng lemah.
"Aku tidak tahu... yang aku tahu hanya rumah yang aku dan Irawan tempati.Kalau rumah besar itu aku tidak tahu"
"Terus gimana cara kita menolong anakmu jika kamu tidak tahu" cecar Cahaya .
"Kita bisa lihat alamat rumah seseorang lewat google"Maulana mencadangkan ide,Cahaya mengiyakan dengan senang.
Gegas Maulana memutar kursi , menghidupkan komputer nya dan mencari alamat Irawan.
"Jalan Pamungkas?"Maulana mengalihkan perhatian kepada si pocong.
"Itu alamat yang kami tinggali berdua".
"Jadi... rumah besar itu kemungkinan rumah istrinya.Kamu tahu nama istrinya ?"tanya Maulana ,Si pocong menggeleng.Cahaya mendengus kesal.
Si pocong celingukan.
"Tenang,,aku akan cari biodata Irawan.Pasti disana tertulis artikel tentang istri nya"Maulana mengajukan sebuah gagasan.
"Ya sudah,cepat lakukan "titah Cahaya .
Maulana pun mulai mencari.
"Ini bukan ?"Maulana juga mencari letak rumah dan bentuk nya dengan bantuan maps.
"Ah Iya...itu dia"Sergah si pocong girang.
"Ya udah,ayo cepat kesana"Cahaya dan Maulana gegas pergi.
*
Cahaya mengelilingi diam-diam rumah besar mentereng tempat Anies melahirkan.Kehadirannya tidak disadari oleh siapapun karena ia terbang diantara dahan-dahan pohon.
Sedangkan Maulana diam di atas sebuah pohon mengintip dari sisi lain.Si pocong pun duduk bertengger di sebelahnya.
"Gimana ?"tanya Maulana saat Cahaya sudah datang.
"Aku sama sekali tidak mendengar tangisan bayi"
"Masak???"
Cahaya mengangguk yakin.
"Apa mungkin ???"
"Tidak!!itu tidak mungkin!! Naluri ku mengatakan,anakku masih hidup"Si pocong memotong kalimat dengan cepat.
Maulana dan Cahaya saling berpandangan satu sama lain.
"Tidak ada cara lain,kita harus menerobos masuk"ucap Cahaya .
"Itu bahaya Ca,kita sama sekali tidak tahu diruang mana tempat si bayi berada"
"Kalau kita diam terus, bisa-bisa kita akan terlambat "
Si pocong mengangguk setuju dengan ucapan Cahaya .
"Baiklah,tapi kamu harus ikuti cara aku.Ok?"
__
"Bos...ada tamu"
Irawan yang tengah menikmati makan malam bersama istrinya di datangi salah satu Bodyguard nya.
"Siapa?"
"Dia memperkenalkan diri sebagai Dokter Muhammad Maulana "
"Muhammad Maulana ??"Irawan mengulang nama yang sepertinya sangat familiar.
"Temui saja dulu Mas"Ucap istri Irawan lembut .Irawan mengiyakan,ia pun bangkit melangkah menjumpai tamunya.
"Dokter Maulana ??"sapa Irawan,Maulana tersenyum ia berdiri menyambut sang Tuan rumah.Kedua pria itu bersalaman, begitu juga dengan Cahaya .
"Kalau boleh tahu,ada kepentingan apa Dokter datang ke rumah saya?"
"Emmm saya dengar anda mencari pendonor sumsum tulang belakang "
Irawan mengernyitkan keningnya, tatapannya penuh selidik memperhatikan Maulana dan Cahaya bergantian.
"Kenapa ?Apa anda sudah menemukan pendonor ??"Maulana menutupi ketegangan nya dengan senyuman.
"Oh iya Dok...saya sudah mendapatkan pendonor,tapi masih dalam proses"
"Ohhh begitu rupanya,Ca... ternyata niat baikmu untuk menyembuhkan nak Victor tidak direstui oleh Tuhan"
Cahaya tertunduk lesu.
"Ya sudah, ayo kita pulang"Maulana mengajak Cahaya untuk pergi.Padahal ia berharap Irawan akan menahannya.