Blue Eyes

Blue Eyes
Blue Eyes : 1



"Kubunuh kalian semua"


"Mati, mati, mati"


"Engkau gadis yg telah ternoda"


"Aku tidak bersalah, salahkan mata terkutuk ini"


"Mata itu berkah untukmu"


"Atas perbuatanmu, dirimu akan menerima hukumanmu"


"Hidupmu akan diambil seluruhnya tapi tak ada kematian untukmu. Hiduplah kekal sambil meratapi kesalahanmu, jika dirimu menginginkan kematian carilah cinta sejatimu"


"Ini tidak adil"


"Terimalah takdirmu"


"Selamat tuan anaknya terlahir dengan selamat, jenis kelaminnya laki-laki"


"Anak laki-laki itu adalah takdir benang merahmu, cinta sejatimu. Berusahalah membuatnya menerimamu agar kau bisa menjemput kematianmu"


"Hatimu yg selalu terluka itu membutuhkan obat"


"Sayang, dia kecil sekali"


"Iya, ini anak kita sayang"


"Kau menginginkan kematian bukan? Aku berdoa yg terbaik untukmu"


"Dewa sialan"


"Saat usianya 25 tahun ia baru bisa melihatmu, saat itulah lindungi ia juga"


"Kalian benar-benar Dewa yg jahat"


"Jangan melakukan kesalahan yg sama"


"Kubunuh juga anak kecil itu nanti*"


-


Malam ini malam yg buruk untuk Krist Rui. Lelaki tampan itu berlarian dengan keringat yg mengalir deras dari pelipisnya.


"Tolong... Tolong saya" teriaknya frustasi, namun sia-sia seolah tak ada satu orangpun malam itu.


Didepan sana berdiri seorang wanita bergaun putih, tersenyum manis kepada Krist. Tapi Krist tahu jika wanita didepan bukanlah manusia, karena wanita itu memegang kepalanya yg putus ditangan kanannya. Bajunya berlumuran darah membuat Krist takut melihatnya.


Sial, dibelakangnya banyak sekali hantu-hantu yg mengejarnya. Krist manusia biasa, ia percaya bahwa hantu itu ada, ia juga takut melihat hantu.


Selama ini ia belum pernah melihatnya, Krist juga berharap ia tak akan pernah melihatnya. Tapi malang sekali nasibnya, diusianya yg baru saja 25 tahun tiga puluh menit yg lalu Krist harus menerima hadiah berupa kenyataan ia bisa melihat hantu. Lebih malang lagi bukan satu, dua, atau tiga melainkan segerombolan hantu yg semakin bertambah dari tadi.


Sudah tiga puluh menit Krist berlari dan hantu hantu itu masih mengejarnya, entah apa yg menarik dari Krist.


"Tolong... " Krist terjatuh, nafasnya terengah-engah. Ia ketakutan saat hantu-hantu itu kian mendekat kepadanya.


"Tolong, Jangan mendekat"


"Tolongg... "


"Ada Hantuu.... "


"Apa yg kalian cari dari saya?, tolong jangan ganggu saya" ucap Krist sambil menutup matanya.


"Ini Malam Agung, Kau adalah berkah. Sebelum Ia datang kami harus meminta berkah terlebih dahulu darimu"


Ada suara menyeramkan yg menjawab pertanyaannya tadi.


"Jangan ganggu dia"


Sebuah suara terdengar lagi disusul suara teriakan yg menyeramkan setelahnya. Krist membuka matanya dan melihat beberapa Hantu terlilit tanaman mawar berwarna biru.Apakah Krist sedang bermimpi? Apakah semua ini hanya imajinasinya? Ini tidak nyata bukan?


Hantu-hantu yg terlilit tanaman tadi terbakar menjadi debu, sangat cepat membuat Krist hanya bisa melongo tak percaya.


"Jangan ganggu calon suamiku" ucap sosok itu, Krist melihatnya. Wanita yg sangat cantik, dan sesuatu yg misterius sekaligus menyeramkan ada diwajahnya, mata yg berwarna biru.


Krist yakin sosok itu juga bukan manusia sepertinya. Melihat bagaimana hantu-hantu tadi perlahan menghilang saat melihatnya. Sosok wanita itu sangat menakutkan sepertinya.


"Kamu tidak apa-apa?" ucapnya sambil berjalan pelan kearah Krist. Krist sedikit demi sedikit mundur karena takut.


"Jangan takut denganku, Aku tidak akan menyakitimu" katanya lembut, tapi mata biru itu membuat Krist waspada.


"Siapa kamu?" tanya lelaki tampan itu membuat sosok wanita tadi itu tersenyun samar.


Ia berjongkok kemudian membersihkan kotoran yg berada dikemeja milik Krist.


"Aku akan melindungimu dari mereka, jadi jangan takut lagi jika melihat mereka"


"Kamu siapa?"


"Aku calon istrimu dan Kamu adalah calon suamiku"