Blue Eyes

Blue Eyes
WANITA YANG MALANG136



Para punggawa kesultanan Brunei heran melihat raut wajah sang Pangeran yang baru saja datang.Seperti awan hitam mengikuti langkah nya.Padahal mereka sudah sangat antusias untuk mengucapkan terimakasih atas sarapan pagi yang disajikan Pangeran As'ad .


"Pangeran..."Pelayan terdekat Pangeran menyapa.Pangeran As'ad hanya menghela nafas kasar,ia menghempaskan pantat nya ke atas bibir kasur serta menegakkan punggungnya.


"Seumur-umur aku tidak pernah menyukai wanita sampai segila ini,huhhhh"Pangeran As'ad merasa seperti ada sesuatu yang menyekat dadanya.


"Pangeran...apa yang terjadi ?"Tanya sang pelayan.Pangeran As'ad menghela nafas untuk kesekian kalinya.


"Apa masakan ku enak??"


"Oh sangat enak sekali Pangeran"Sang Pelayan menyunggingkan senyum yang lebar.


"Tapi dia tidak suka,dan dia seperti tidak terkesan sama sekali"Pangeran As'ad terlihat sangat kecewa.


"Pangeran... apakah ini mengenai cucu Muhammad Ilyas ??"


Pangeran As'ad membenarkan.


"Pangeran..."


Pangeran As'ad mengangkat tangan nya cepat, menghentikan sang pelayan untuk berkomentar.


"Aku tahu apa yang akan kamu katakan,ini masalah hati yang tidak akan mengenal apa itu aturan yang dibuat oleh Otak"


"Tapi... sultan agung tidak akan pernah menyetujui nya Pangeran.Apalagi Pangeran kalau sampai dinobatkan sebagai putra mahkota "


"Jangan memicu konflik, kalau diantara kalian ada mata-mata Pangeran Alif.Nanti aku yang akan mendapatkan masalah "


Sontak semua punggawa langsung bersujud mencium lantai.


"Ampuni kami pangeran,kami adalah pengawal setiamu"seru mereka bersamaan.Pangeran As'ad merebahkan tubuhnya, ia pandangi langit-langit di kamar itu.


"Mungkin aku lepaskan saja gelar pangeran ku,dan ku jalani hidup seperti layaknya rakyat biasa"


Para pengawal kerajaan terperangah mendengar untaian kata dari junjungan mereka.


"Pangeran... mohon jangan pernah lakukan itu"seru pelayan yang selalu berada di garda terdepan untuk kubu Pangeran As'ad .


"Aku lelah, kalian tahu sendiri bukan?aku hampir mati karena perebutan tahta"


"Tapi Gusti permaisuri akan semakin tersiksa, karena selain Pangeran, beliau tidak memiliki dukungan lain untuk bisa bertahan di istana"bantah sang pelayan lagi.


"Akan ku bawa Ibu keluar dari istana"


Para pengawal semakin panik,bukan ini yang mereka inginkan.Semua pendukung Pangeran As'ad ingin junjungan mereka naik tahta.Agar mereka tidak lagi diperlakukan semena-mena.


"Pangeran...hamba mohon pikir kan lah nasib kami,kami selalu diperlakukan tidak adil di istana.Tapi kami bertahan karena kami yakin bahwa Pangeran lah penyelamat kami.Sultan begitu mencintai pangeran, meskipun kami tahu mengutus pangeran datang kemari adalah sebagian rencana pendukung Pangeran Alif agar Pangeran tidak memiliki dukungan"Si pelayan terus membujuk Pangeran As'ad supaya tidak melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan.


Pangeran As'ad tersenyum tipis...


"Tapi dengan datang nya aku kesini, membuat ku bertemu dengan seorang gadis yang mampu mengugurkan hatiku"


"Pangeran..."Seru para pengawal memelas..mereka sungguh takut jika sampai ketakutan mereka terjadi.


*


*


Habis sholat dhuhur,Pangeran As'ad bingung karena tidak mendapati kelibat gadis pujaannya.Perasaannya jadi tak nyaman,ia berusaha mencari informasi dimana gadis itu sekarang atau pergi kemana dia.


Sedangkan Cahaya diajak Fajar jalan-jalan.Karena saat itu Fajar ingin membeli sesuatu untuk keperluan tugas di kampus.


Saat melewati jalan yang ramai ditengah kota,Cahaya melihat seorang wanita setengah baya sedang memberikan kertas kepada pejalan kaki.Ia juga menempelkan kertas itu di tiang-tiang ataupun di dinding.


Yang menarik perhatian Cahaya adalah sosok anak muda yang mengikuti langkah wanita itu.


"Fajar,aku mau turun"ucap Cahaya .


"Hah?"Fajar hampir tak mendengar suara sang Kakak.


"Oh iya sebentar lagi kita turun Kak"


"Aku mau turun disini!!"


"Ya nggak bisa Kak.. disini ada larangan parkir, sebentar ya...kita belok langsung masuk parkiran mall..Kakak sabar ya"bujuk Fajar ,Cahaya terus mengamati perempuan itu sebelum ia kehilangan jejak.


Setelah mobil berhasil di parkir,Cahaya berlari keluar mencari wanita tadi.Fajar kebingungan dengan sikap Cahaya .Ia seperti ingin melakukan sesuatu di suatu tempat.Padahal yang Fajar tahu,Cahaya tidak pernah keluar rumah.


"Kak...Kakak mau kemana ??"


Cahaya tak menggubris,ia berlari mencari keberadaan di wanita.Setelah ketemu,Cahaya datang menghampiri.Kini Fajar tahu apa yang menjadi alasan sang Kakak ingin turun tadi.


"Bu..."sapa Cahaya.Perempuan itu berpaling..


"Iya Nak"jawab perempuan itu dengan suara parau, wajahnya lusuh seperti tenggelam dalam kesedihan yang tak berkesudahan.


"Ibu sedang apa?"tanya Cahaya .


"Aku mencari Sikin, anakku..ini fotonya"Ibu itu menyerahkan selembar kertas yang terdapat gambar seorang anak muda.Dan rupanya, gambar itu sama dengan sosok yang mengikuti wanita itu.


Cahaya dan Fajar saling bertukar pandangan dengan pemikiran yang sama.


"Ibu... anakmu sudah meninggal"Cahaya yang memang tidak pandai berpura-pura langsung mendapatkan senggolan dari lengan adiknya.


Perempuan itu nampak terkejut,ia diam mematung menatap Cahaya .


"Kau..kau bohong bukan??"


"Aa..."


Fajar dengan cepat menutup mulut sang kakak agar tidak bicara lagi.


"Maaf Bu..Maaf kan Kakak saya,dia mengatakan demikian karena foto anak ibu mirip dengan teman saya yang sudah meninggal"Fajar berusaha menenangkan sang Ibu.


"Oh.. begitu rupanya.."


Cahaya marah,dia menarik kasar tangan sang adik yang menutup mulutnya.


"Kamu apa-apaan sih?? kenapa kamu berbohong??,padahal kamu bisa melihat roh anaknya ada disini kan??"


Arwah Sikin terkejut,ia baru menyadari jika dua orang yang mendatangi Ibunya bisa melihat nya.


"Kalian bisa melihat ku??"tanya Sikin.


"Iya aku bisa melihat mu, adikku juga bisa..tapi dia berbohong "sahut Cahaya masih kesal.


"Kak...jangan bicara seperti itu, kasihan ibunya "Fajar membela diri.


"Lebih kasihan lagi jika kita tidak memberi tahu nya,dia akan terus berjalan mencari sang anak yang sudah meninggal "


Wanita itu menatap bingung perseteruan dua orang di depannya.


"Iya tapi kita bisa ngasih tahunya pelan-pelan Kak.."


"Barusan aku ngasih tahu dia nggak cepet-cepet kok...Ya Bu...barusan aku bilang sama ibu begini kan..Bu..anakmu sudah meninggal "


"Gitu.. pelan-pelan kan??"Cahaya mengulang gaya bicaranya tadi.Fajar tepuk jidat,padahal bukan itu yang dimaksud.


"Stop stop stop"Arwah Sikin melerai perdebatan "Kalian bisa melihat ku ??"


"Tadi sudah aku bilang kan"sahut Cahaya .


"Ok!! tolong bilang sama dia , Muhammad Sikin bin Qodir.Dan nama Ibuku Salehah"


Cahaya dan Fajar saling berpandangan.Sedangkan Salehah masih bingung.


"Bu..namamu Salehah,dan nama anakmu Muhammad Sikin bin Qodir "Cahaya mengikuti apa yang diucapkan oleh Sikin.