
"Ca.. lepaskan dia"Dominic memberikan perintah.Cahaya membuat Gimik seolah-olah membuka resleting di bibirnya.Dengan ajaib kedua bibir Frans pun bisa terbuka.
Fans terjelopoh ke lantai, tubuhnya gemetar ketakutan.Tiga anak buahnya tercengang tak percaya.
Cahaya menyentil telinga mereka satu persatu kecuali Frans.Dan seketika itu juga mereka lupa akan semua kejadian itu.Wajah anak buah Frans kebingungan.Apalagi saat melihat Frans duduk di lantai.
"Bos???"
Tanpa menunggu perintah, ketiga nya membantu Frans bangun.Namun Frans justru semakin ketakutan.Ia melepaskan diri lalu berlari keluar dengan wajah panik.
Raul bertepuk tangan ,ia sangat senang sekali sampai melompat kegirangan.Raul Mengangkat dua ibu jarinya.Cahaya membalas dengan hal yang sama.
"Terimakasih Ca...aku pikir kamu tidak akan datang menolong ku"Dominic menggendong Raul masuk ke kamar si bocah.
"Aku menunggu nenek sihir itu keluar "
"Nenek sihir ??"Dominic kaget sampai langkahnya terhenti.
"Yah..kata Raul dia nenek sihir "
Bola mata Dominic bergulir menatap keponakannya,Raul tersenyum smrik.Ia tahu Dominic tidak suka Raul menyebut Celine sebagai nenek sihir.
"Pa...Teman Ibu ini bisa lihat Ibu loh"Raul bercerita saat Dominic menurunkan nya ke atas kasur.Dominic tersenyum,itu bukan hal yang aneh baginya.
"Tuh disana..Ibu berdiri disana"Raul menunjuk ke luar jendela.
"Iya...biarkan Ibu disana yah,jangan diusik"Dominic membelai lembut pucuk kepala Raul.
"Tapi sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu "Timpal Cahaya .
"Mengatakan apa??Apa kamu bisa bicara dengan nya??"Dominic bertanya lebih lanjut.Cahaya menatap tajam wajah Murry yang sendu.
"Ia diam,dan hanya menangis..Kau bilang dia meninggal bersamaan dengan suaminya ??"Ujar Cahaya .
"Iya... mereka meninggal dalam kecelakaan mobil yang mereka tumpangi bersama "
"Tapi kenapa hanya dia yang berada disini ??Kemana suaminya ?? seharusnya jika pasangan meninggal bersamaan, arwah mereka akan bersama.Kecuali hati mereka sudah tak sejalan"
"Maksud mu???ah itu tidak mungkin.Kakakku adalah pasangan yang sangat harmonis.Tidak pernah aku lihat mereka bertengkar.Justru mereka selalu terlihat mesra dimana pun mereka berada "
"Ohya??itu sangat aneh,,,"gumam Cahaya.Dominic melihat ke titik dimana Cahaya menatap lekat.Ia memang tidak bisa melihat makhluk tak kasat mata,namun kenapa sekarang ia bisa merasakan kehadiran MURRY.
"Aku bermimpi Ayah bertengkar sama Ibu"Celutukan Raul spontan membuat keduanya menoleh hampir bersamaan.
"Itu hanya mimpi sayang"sanggah Dominic .
"Mungkin saja itu sebuah petunjuk"
"Petunjuk apa?kau akan bermonolog bahwa Mas Zola membunuh Kak Murry ??"
"Tidak!! Kalau memang ada pembunuhan tidak mungkin pelaku juga akan masuk ke dalam mobil yang sama"bantah Cahaya .
"Lalu apa maksud mu??"
"Dom.."Celine tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu dengan sebuah koper di tangan nya.
"Oh sayang..kau sudah mau berangkat"Dominic menyongsong kedatangan Celine ,namun tangan Celine terangkat menghentikan langkah kaki Dominic ✋✋
"Stop ,kau tidak perlu berbasa-basi padaku Dom.. Pokoknya jika kamu memang mencintai ku? setelah pulang dari Bali,aku tidak mau melihat dia lagi "
"Honey.. jangan begitu, please... tolong pahami aku"Dominic berusaha merayu.
"Sudah cukup aku memahami kamu Dom, sekarang aku minta kamu juga memahami ku.Selamat tinggal.."Celine berbalik pergi,ia sama sekali tidak menghiraukan seruan Dominic yang memanggil nya.
Dominic menghela nafas kesal, ia tidak mengira jika Celine akan bertindak tegas seperti ini.Tapi Dominic tidak mungkin mengikuti kemauan nya,Cahaya sangat berguna bagi Dominic .
"Papa..."
Dominic menoleh ke balik punggungnya.
"Siapa yang akan mengusir teman Ibu??,Papa tidak akan pernah mengusir nya"
Raul tersenyum lebar.
"Janji??"Raul menyodorkan jari kelingkingnya.
"Janji!!"Dominic mengaitkan jari kelingkingnya juga.Anak itu kegirangan,Cahaya pun turut tersenyum senang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Celine duduk di cafe tepi pantai bersama rekan sesama modelnya.Ia mencurahkan segala keluh kesah nya tentang percintaan nya dengan Dominic .
"Kau salah jika mengatakan demikian Cel"ujar Ella.
"Aku yakin Dominic pasti akan mengusir gadis purba itu"ketus Celine seraya menghisap nikotin di sela jemarinya.
"Aku tidak yakin"sergah Sasa.
"Aku juga"tambah Ella.
"Kenapa ??"
"Kau dengar sendiri bahwa Dominic membutuhkan dia,dan aku rasa selama Dominic memerlukan gadis itu.Dia tidak akan mengusir nya"
"Jadi menurutmu ia akan lebih memilih gadis purba itu daripada aku?"
"Ini bukan masalah pilihan Cel, tapi keuntungan ataupun kebutuhan .Kamu harus ngerti itu"tanggap Ella.
"Apasih untungnya menampung gadis tidak tahu aturan seperti dia,,"Celine menjawab dengan nada kesal.
"Kau harus mengerti apa yang diinginkan Dominic ,kalau tidak..kau bisa kehilangan dia"ucap Sasa.
Celine tersenyum kecut.
"Itu tidak akan terjadi...Dominic mencintai ku"Celine sangat percaya diri.
"Cel...kau tahu bagaimana Dominic bukan ??"sela Ella.Celine terdiam,ia menenggak wine dalam gelasnya dalam sekali teguk.
"Aku istirahat dulu...capek"Celine mematikan puntung rokok nya,ia bangkit dan pergi.Kedua temannya hanya geleng-geleng kepala melihat keangkuhan Celine .
*
*
Dominic tengah nge Jim sebelum tidur,saat seorang asisten rumah tangganya datang tergopoh-gopoh menghampiri.
"Tuan...Tuan..."
Dominic menghentikan mesin kinetik treadmill nya.Lalu turun..
"Ada apa bik??"
"Tuan muda...saya ..saya melihat..Tuan muda...main...main.."Si Art panik sampai mengulang-ulang kata-katanya.
"Main apa???"Dominic tak sabar.
"Main...anu ..Tuan..Main..sama ular "
"Hah??"Dominic kaget,ia melemparkan handuk kecil yang ia pakai untuk mengelap keringat.Lalu berlari cepat menuju kamar Raul.
"Raul ????"Dominic langsung memanggil anak itu.
Raul yang tengah berada di balkon rumah menoleh.
"Papa..."Raul berlari mendekat.Di tangannya melilit seekor ular sanca.
"Hah??Ular.."Dominic refleks mengambil bedil yang ia gantung di dinding.