
Melihat kondisi Cahaya yang basah kuyup,Dominic mengambil kan baju almarhum Murry di lemari.Baju-baju itu masih tersimpan rapi dan bersih.
"Pakailah ini"
Cahaya menerima baju itu.
"Tapi itu gimana ??"Cahaya menunjuk ke arah kamar mandi.
"Kenapa ??"
"Kotoran ku"
"Ohhh di senderan ada tombol bulat.Kamu tekan aja..Nanti semua kotoran akan di bawah air masuk ke dalam "
Cahaya mengangguk mengerti,ia pun masuk kembali ke toilet untuk ganti baju.
Dominic masih menunggu,saat Cahaya keluar dari kamar mandi.Ia begitu terpukau melihat kecantikan Cahaya.
Apalagi di tambah Cahaya tersenyum manis ke arahnya.Membuat Dominic seperti terkena sihir menjadi patung.
"Kenapa??aneh ya aku pakai baju ini ??"
"Ah nggak kok...kamu cantik"puji Dominic jujur.
"Ohya??"Cahaya tersenyum melihat dirinya sendiri,ia berputar-putar.Nampak ia suka dengan baju yang Dominic beri.
"Aku harus menemui Raul,kau istirahat lah.. kalau kamu lapar ? turun lah..dan mintalah makanan..Anggap ini rumah mu,ok??"
Cahaya mengangguk mengerti.
Setelah Dominic keluar,Cahaya merebahkan tubuhnya.
"Ibu...Dimana aku harus menemukan Ibu yang kau maksud ??"
*
TOK TOK TOK TOK
"Hay ganteng..."Dominic mengetuk pintu yang memang terbuka,dan melongok ke dalam kamar.Seorang bocah kecil sekitar umur 5tahun menoleh.
"Papa...."Raul berlari memeluk Dominic.Pria itu berjongkok menyambut pelukan hangat keponakannya.
"Papa...kata Om Frans,Papa lompat dari pesawat dan mati"
"Tapi Papa masih hidup kan sayang..."
Raul merenggangkan pelukannya,ia membelai pipi Dominic lembut.
"Iya..Papa masih manusia"Celutuk nya yg membuat Dominic tertawa.
"Kau ada disini ternyata "Suara Celine terdengar,Dominic berdiri seraya menggendong Raul.
"Frans mana??"
"Masih ada di tempat pencarian bersama tim SAR"Jawab Celine"Tapi aku sudah menelfonnya,dan dia terdengar sangat terkejut"
"Dia memang akan sangat terkejut...Apa makanan sudah siap??Aku lapar dan harus makan banyak.Agar aku bisa memiliki tenaga untuk menghadapi semuanya"
"Aku mencari mu karena mau mengajak mu makan"
"Ok...Aku akan panggil Caca dulu"Dominic membawa Raul masuk ke kamar Ibunya.
"Papa...Ibu sudah pulang ??"
"Belum sayang,ini temannya Ibu"Dominic sengaja menjawab demikian karena pasti Raul tidak akan setuju ada orang yang tidak bersangkutan dengan Murry berada di kamarnya.
Raul mengangguk mengerti.Dominic mendorong pintu yang sedikit terbuka.Dan betapa terkejutnya ia melihat Cahaya sedang bertukar pakaian.
"UPS.. sorry"Dominic mundur teratur dan menutup pintu rapat-rapat.Ia membuang nafas panjang karena rasa sesak melihat sesuatu yang sangat indah di depan mata.
Padahal melihat gadis tak berbusana adalah hal biasa baginya.Tapi saat melihat Cahaya ,kenapa dadanya bergetar hebat.
"Papa...Apa itu teman Ibu??"
"Ah iya.."Dominic menjawab gugup.
"Dia cantik sekali Pa.. seperti bidadari, tubuhnya bercahaya..Indah sekali "
"Siapa?"Celine yang mendengar pujian Raul jadi penasaran.
"Aa emm Itu.. Cahaya.."
Celine semakin geram karena Dominic mendadak gagap menjelaskan.Ia mendorong pintu hingga terbuka lebar.Dan Raul menarik diri untuk turun dari gendongan Dominic .Anak itu sangat penasaran dengan wanita yang sekilas dilihatnya begitu indah.
"Apa yang kau lakukan ??"pekik Celine menemukan kamar yang begitu berantakan dengan pakaian yang berselera kan di lantai.
Cahaya tersenyum..
"Apakah aku cantik ??"tanpa rasa bersalah Cahaya memperlihatkan pakaian yang dikenakan nya sambil berputar.
"Apa??kau sudah gila ??Cepat lepaskan pakaian itu"Hardik Celine.
"Kenapa ??Ini kan cantik,,,"pandangan mata Cahaya tak sengaja bertemu dengan Tatapan kagum seorang Raul."Hay... apakah kamu malaikat kecil ??"Cahaya menghampiri Raul.
Namun Celine tidak mau melepaskan begitu saja,ia menarik Cahaya dan berusaha melepaskan bajunya.
"Eh kau.. Kenapa ??"
"Lepaskan...Ayo lepaskan"Dengan paksaan Celine ingin membuka pakaian Cahaya .
"Tidak aku tidak mau,,,"Cahaya menolak,ia memeluk tubuh nya dengan erat.
"Ayo lepaskan"Celine tetap memaksa.
"Tante...Tante kenapa ??biarkan saja dia memakai pakaian Ibu..Toh Ibu sudah tidak akan memakai nya lagi"Seruan Raul menghentikan aksi Celine.
"Ta-tapi"
Cahaya menjulurkan lidahnya seraya menjauhi Celine.Ia berlari keluar sembari meraih tangan Raul.Keduanya yang baru saja bertemu sudah langsung terlihat akrab.
"Dom..kenapa kau diam saja?-Lihat apa yang dilakukan nya di kamar Kak Murry ??"
"Biarkan saja...ayo cepat,aku lapar "Dominic berbalik pergi meninggalkan Celine begitu saja.Semakin marah dan benci lah Celine diperlakukan seperti itu.Ia mengepalkan tangannya dengan kuat,sampai kuku-kuku jari nya yang runcing menggores lapisan kulit nya.
Raul membimbing Cahaya menuju tempat makan, lagi-lagi Cahaya dibuat terpana melihat hidangan makanan yang bermacam-macam.
"Ini udang???"Cahaya menyentuh lobster yang dimasak saos."Waaaah ini telur ??"
"Ca... duduklah.."Pinta Dominic .
"Oh iya .."Cahaya mengerti maksud Dominic ,ia pun duduk di sebuah kursi kosong di samping Dominic .
"Hey!!itu tempat ku"Seru Celine yang baru saja datang.Namun Cahaya tak perduli,ia menaikkan kakinya ke atas kursi dan makan dengan gaya jongkok.
Celine jadi semakin ilfil dengan perilaku Cahaya yang tak sopan.Baru suaranya akan keluar,Dominic sudah menghentikan tindakan Celine dan meminta nya agar diam saja dan biarkan Cahaya melakukan apa yang ia suka.
"Ta-tapi Dom.."
"Sudah.. duduk lah"Dominic meminta Celine agar duduk di sisi sebelahnya yang lain.Untuk kesekian kalinya Celine harus menahan amarahnya.Padahal emosinya sudah hampir meledak.