Blue Eyes

Blue Eyes
TERNYATA CELINE?87



Cahaya meringkuk di atas tempat tidur,ia memeluk tubuhnya.Tangannya menggigil pucat tak berdarah.


Sanca memperhatikan gadis itu dari tempat aman.Ia takut Cahaya akan kehilangan kendali dan membunuhnya.Karena ia tahu saat ini Cahaya tengah kacau.


Sejak Sanca mengenal Cahaya ,baru kali ini Cahaya membunuh makhluk hidup.Meskipun Cahaya kerap memakai topeng legendaris,itu hanya untuk main-main saja.


Tapi kali ini,ia benar-benar menggunakan topeng legendaris sesuai fungsinya.Yaitu membunuh.


Ucapan sang Ibu,Lucy.. Terngiang-ngiang di ingatan Cahaya .


"Jangan kau gunakan topeng ini untuk membunuh sembarangan"


Hal itulah yang membuat Cahaya gemetar ketakutan.Ibunya pasti akan menghukumnya karena telah menggunakan topeng legendaris untuk membunuh.


"Ca ....Ca..."Sanca memanggil ragu-ragu.


"Aku ..aku harus gimana??Aku takut..Ibu pasti akan marah karena aku sudah membunuh orang"Cahaya merintih pilu.


"Lucy pasti ngerti Ca...kamu jangan takut, kalau Lucy tahu bagaimana hati dan perasaan mu yang tersakiti.Aku yakin dia sendiri yang akan membunuh Frans"


"Kau jangan sembarangan bicara...aku tahu kau hanya ingin menghibur ku saja"


Cahaya beringsut bangun.


"Kemari Lah Sanca.."Cahaya mengulurkan tangannya.Sanca hanya mengintip tak bergerak ,ia masih takut.


"Kemari Lah ..."Cahaya mengulang panggilan nya.


"Kau tidak akan membunuh ku kan?"


"Untuk apa membunuh mu??jangan aneh-aneh deh... cepat!!kemari lah "Cahaya sedikit memaksa.


Sanca akhirnya keluar,ia merambat pelan melilit tangan Cahaya.


"Tidak ada jalan lain,aku tidak mungkin kembali ke hutan larangan.Aku takut ibuku murka..jadi aku harus mencari Ibu kandung ku"


Sanca mengangguk setuju.


"Besok aku akan pamit"


"Kenapa harus pamit ??kita pergi saja sekarang "


Cahaya menolak ide dari Sanca.


"Kita datang baik-baik,maka pulang pun baik-baik "


"Dominic pasti tidak akan mengijinkan mu "


"Dia tidak punya alasan lagi untuk menahan ku Sanca.Orang jahat itu sudah mati"


Sanca terdiam,apa yang dikatakan oleh Cahaya ada benarnya juga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Celine mengeliat, badannya rasanya capek karena semalaman habis bercumbu dengan Dominic hingga lewat tengah malam.


Tapi bunyi ponselnya yang berdenting terus menerus membuat tidurnya terganggu.


"Ada apa ini??pagi grup chat sudah rame"Gerutunya,ia membuka kunci layar ponsel.Pupil matanya melebar saat membaca berita yang tengah menjadi topik grup tersebut.


"Dom...Dom..."Celine menggoyang-goyang tubuh Dominic "Dom bangun..."


"Emmmm ada apa sih??"


"Dom..Frans mati"


Mata Dominic langsung terbuka lebar,ia bangun serta merta dan merebut ponsel Celine . Nafasnya tertahan,bola matanya membulat sempurna.


"Kok bisa..."


"Ayo cepat kita kesana"Celine turun dari tempat tidur dan langsung masuk kamar mandi.Dominic hanya mengangguk pelan,ia terus me skrol chat yang dibacanya.Rasanya tak percaya tiba-tiba Frans mati dengan cara yang aneh.Tubuhnya terbelah menjadi dua dalam sekali tebasan.Entah setajam apa senjata yang digunakan oleh si pembunuh ??


*


*


Dominic keluar dari kamar nya setelah bersiap-siap.Tak lupa ia mengetuk pintu kamar Cahaya .Namun tak ada tanggapan dari dalam.


"Anak gadis kok susah amat sih dibangunin"Gerutu Celine "Udah lah sayang,biarin aja.Lagian cuma melayat doang kok, nggak usah bawa-bawa dia.Frans juga sudah meninggal,jadi nggak perlulah penjagaan darinya"


Dominic pun mengikuti saran dari Celine ,namun ternyata Cahaya sudah ada di ruang tamu.Ia sebenarnya sudah bersiap untuk pergi.


"Kau mau kemana -?"sambung Dominic .


"Aku mau pergi"jawab Cahaya .


"Pergi kemana ??"Perasaan Dominic bergemuruh tak nyaman.


"Oh baguslah..kau sudah tahu kalau Frans sudah meninggal bukan.Jadi kau memilih untuk pergi"Timpal Celine .


"Nggak...kamu mau pergi kemana Ca??bukankah Ibumu meminta kamu agar ikut dan tinggal bersamaku"Bantah Dominic .


"Apa??Dia punya Ibu?? katanya sebatang kara ??"pekik Celine .


"Ibu asuhnya"jawab Dominic .


"Nggak nggak nggak...aku semakin merasa kalau sebaiknya Cahaya pergi saja.Ayo Dom...kita sudah telat "Celine menarik tangan Dominic dengan paksaan.


"Cel...dia harus pergi kemana?aku nggak bisa membiarkan dia pergi sendirian"Dominic tetap menolak.


"Dom...dia sudah besar,lagian melindungi kamu saja dia bisa.Apalagi dirinya sendiri, udahlah..jangan terlalu berlebihan.Biarkan saja dia pergi.Toh itu kemauannya.."Celine tetap tidak mau merelakan Dominic melarang kepergian Cahaya .


"Cel!!!"Hardi Dominic keras, membuat Celine langsung diam.Dengan kasar Dominic melepaskan diri dari gelayutan tangan Celine .Ia mendekati Cahaya , ingin mengambil buntalan kain nya .Tapi Cahaya lebih dulu bergerak mengusap wajah Dominic .


Pria itu langsung diam tak bergerak,di kelopak matanya terpampang jelas kejadian yang menimpa Murry, Kakaknya.


~Malam itu Murry curiga dengan suaminya yang setiap hari pulang larut malam.Ia pun menitipkan Raul yang masih bayi kepada pengasuh nya.


Diam-diam Murry mencari jejak Zola melalui GPS yang diaktifkannya secara diam-diam di mobil Zola.


Dan Disanalah Murry menemukan sang suami tengah cek-in di hotel.Murry terus mengintai mobil Zola,ia menunggu pria itu keluar.


Dan ternyata benar,Zola datang dengan memeluk seorang wanita cantik yang tak lain adalah Celine .


Murry yang sudah menahan amarah sedari tadi langsung melabrak suaminya.


"Ohh jadi ini yang kau lakukan dibelakang ku Mas??"


Zola kaget,ia serta merta melepaskan pelukannya di pinggang Celine .


"Sayang...ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan"Zola berusaha menenangkan istrinya.


"Lalu ?? seperti apa yang sebenarnya terjadi ??Apa lebih dari sekedar pelukan ??"


"Sayang..dia hanya gadis penghibur yang melayani kita minum.Tidak lebih..."


"Mas!!apa maksud kamu bilang aku wanita penghibur ??"Timpal Celine tak terima.


"Udah!!kamu diam!!"Bentak Zola dengan wajah serius.


Murry malas untuk berdebat,ia memilih untuk pulang.Tapi Zola tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi.Ia mengejar istrinya,dan masuk ke dalam mobil.


Zola berusaha merayu dan meyakinkan Murry.Tapi Wanita itu sudah sangat terluka.Ia mengemudikan mobilnya dengan hati sakit dan marah.Sehingga terjadilah kecelakaan itu, yang mengakibatkan keduanya mati di tempat.~


Dominic merasa ada yang menepuk-nepuk pipinya, perlahan ia membuka matanya.Begitu melihat Celine ,Dominic langsung mendorong wanita itu hingga terjerembab ke lantai.


"Dom??apa yang kau lakukan ???"


Dominic merasa sangat jijik melihat Celine ,ia bangkit dan langsung mencari Cahaya .


"Ca...Ca...."seru Dominic keluar rumah.


"Gadis itu sudah pergi Dom"Jawab Celine dari belakang punggung Dominic .


"Dan kau membiarkan dia pergi ??"


"Lah?? untuk apa di larang.Toh dia sudah tidak berguna lagi disini"


"Kau yang tidak berguna disini!!!andai aku tahu,kau lah penyebab kecelakaan Kak Murry ?? aku tidak akan Sudi mencintai mu"


Celine tercekat, ia tidak menyangka Dominic bisa tahu akan hal ini.Padahal perkara ini hanya dia sendiri yang tahu.Tak pernah ia ceritakan kepada siapapun mengenai hubungan gelapnya dengan Zola.


BRAK!!


Celine kaget Dominic menutup pintu rumah nya.Ia segera menggedor-gedor pintu dan merayu agar Dominic membukakan pintu.Namun Dominic tak menghiraukannya.


Raul berdiri di anak tangga dengan pandangan kosong.Dominic yang melihatnya langsung memeluk anak itu dan menciumi nya.


"Maafkan Papa sayang..."