
"Sekarang juga,kau angkat kaki dari rumah ini"Cahaya Mengangkat tangannya menunjuk ke arah luar rumah.
Irwan diam seribu bahasa,namun sorot matanya begitu nyalang.
"Cepat pergi!!"gertak Cahaya .
Diraihnya kunci mobil lalu Irwan melangkah cepat keluar dari rumah sang istri.
Cahaya menghela nafas panjang, ia terjelopoh duduk di atas kursi.Melakukan sandiwara ini begitu sangat menegangkan bagi Cahaya .Jika boleh memilih, lebih baik ia melawan Iblis terhebat dari pada harus berpura-pura menjadi orang lain.
"Nona..."Musthafa menyapa tapi tangan Cahaya terangkat menghentikan pria itu untuk bicara.
"Aku bukan Nonamu.."
"Iya saya mengerti...tapi saya harus tetap bersikap bahwa anda adalah Nona saya"Musthafa menjawab dengan sopan.
Pak Adit menatap putrinya,sejak ia stroke.. Musthafa sudah menceritakan semuanya.Dan ternyata pilihan Musthafa tidak salah memindahkan Aurel secara diam-diam ke rumah sakit lain.
*
Irwan mendatangi rumah sakit,ia langsung pergi ke ruang kerja Intan.Tapi saat itu Intan tengah ada pasien,jadi Irwan memutuskan untuk menunggu.
"Masuklah..."Pinta Intan saat pasien itu sudah keluar dari ruangannya.Irwan bangkit,ia mengikuti Intan masuk ke dalam.Intan menutup tirai kaca.Setelah itu ia langsung memeluk Irwan dengan rasa penuh kerinduan.
Namun Irwan justru mendorong Intan agar menjauh.
"Sekarang bukan waktunya,ada masalah serius"
Intan menarik nafas kesal,ia menyilang kan tangan di dada.
"Masalah apa lagi?? karena Om Adit dipulangkan dari rumah sakit ??"
"Bandot tua itu sudah tidak berdaya,jadi tidak akan mendatangkan masalah.Justru sekarang masalah nya jauh lebih serius "
"Apa?"Intan bertanya.
"Aurel kembali "
Refleks Intan mengernyitkan keningnya tak percaya.
"Itu mustahil "
"Aku juga tidak percaya,tapi itu benar..aku di usir dari rumah,aku juga diberhentikan dari perusahaan "
Intan geleng-geleng kepala,ia masih tidak percaya dengan semua itu.Tapi jika semua itu benar ?-maka semua sudah berakhir.
"Aku sudah bilang kan?? bahwa lebih baik kita bunuh dia saat itu ?"tukas Intan.
"Aku juga maunya Begitu,tapi aku tidak menemukan stempel nya di dalam tas... sampai sekarang aku tidak tahu dimana Aurel menyembunyikan stempel nya"ujar Irwan.
"Terus sekarang kita harus gimana ?? Aurel sudah tahu semuanya, tentang kita... rencana kita...Kita bisa masuk penjara"Intan mulai gusar.
"Itu tidak mungkin, untuk masuk penjara pun Aurel harus punya bukti yang kuat.Sementara itu,saat kecelakaan sudah jelas karena rem blong bukan??"Irwan menjawab dengan tenang.Intan mengiyakan..
"Aurel juga tidak bisa bercerai dengan ku.. karena dia sudah menandatangani surat perjanjian pranikah..jadi sekarang..kita harus bisa mengembalikan keadaan seperti sebelumnya "
"Itu bukan hal yang mudah... Aurel tidak akan percaya lagi padamu apalagi padaku"bantah Intan.
"Kita harus mencoba dan harus lebih berhati-hati...aku takut Aurel akan menciptakan bukti baru untuk menjebloskan kita ke penjara"
Intan membenarkan hal itu.
"Nanti temui dia..."Irwan memberikan perintah.
"Secepat itu ??"
"Jangan tunda-tunda lagi"
*
*
"Kita harus gimana Musthafa ?aku tidak bisa membuat Aurel cerai dengan pria itu.. ternyata mereka mempunyai perjanjian "ucap Cahaya,mereka kini berkumpul di kamarnya Aurel.
"Saya juga baru tahu Non"jawab Musthafa.
"Aku bingung harus gimana ?? ditambah lagi aku tidak bisa melihat jiwa Aurel ketika aku berada di dalam tubuhnya.Karena Aurel tidak punya kemampuan untuk melihat makhluk tak kasat mata..hanya dia yang tahu aku harus gimana ??"
"Mungkin Tuan tahu Non.."Musthafa menunjuk Pak Adit yang duduk membisu.Cahaya mengalihkan perhatiannya.
"Apa yang bisa dia lakukan ??"ujar Cahaya .
"Mungkin Nona bisa membuat beliau untuk bergerak kembali "
"Emang aku tukang urut "kilah Cahaya .
"Itu karena Aurel berada diantara hidup dan mati,kalau Papanya kan masih hidup cuma nggak bisa gerak aja..tapi apa dia nggak pegel ya diam begitu.?"Cahaya mendekati Pak Adit,ia menarik sebelah tangan nya.
"Eh jangan Non"Musthafa melarang dengan cepat.Cahaya pun refleks melepaskan tangan Pak Adit Begitu saja.
"Eh.."Musthafa terlambat, tangan Pak Adit terlepas."Aduh Non... jangan digituin..sakit tahu"Musthafa dengan hati-hati membenarkan letak tangan sang majikan.
"Kalau dia ngerasain sakit, berarti dia bisa sembuh "
"Iya tapi kan butuh proses "jawab Musthafa.
Selang beberapa jam kemudian, Intan datang mengunjungi Aurel yang tengah rebahan di kasur.
Saat itu Pak Adit berada di kamar pribadi nya bersama Musthafa.
Tok tok tok tok
Cahaya menoleh ke arah pintu, rupanya daun pintu sudah terbuka dan Intan sudah berdiri di sana.
"Siapa lagi ini?"Cahaya bertanya dalam hati,ia belum tahu seperti apa wajah Intan.
"Boleh aku masuk??"sapa Intan.
"Masuk aja"balas Cahaya cuek.Intan tersenyum manis,ia melangkahkan kakinya dan menutup pintu serta mengunci nya dari dalam.
Cahaya stay cool,ia tetap dengan posisi nya bermalas-malasan di atas tempat tidur.
"Tadi Irwan datang ke rumah sakit.. katanya kamu mengusir nya dan memberhentikannya dari perusahaan.. Awalnya aku tidak percaya,tapi setelah melihat mu sehat wal-afiat.Barulah aku percaya.."Intan duduk di bibir kasur dengan santainya.
"Apa dia Intan?"Cahaya membatin.
"Tapi kau perlu tahu Aurel, bahwa tidak banyak yang bisa kamu lakukan untuk melepaskan diri dari Mas Irwan"sambung Intan.
"Kau yakin sekali?"ujar Cahaya .
"Karena aku tahu,Mas Irwan sudah mengikat mu dengan rantai besi"
Cahaya tersenyum sengit..
"Kalau dia mati,rantai itu akan putus dengan sendirinya "
Intan terbelalak kaget,
"Apa kau akan membunuh Mas Irwan ??"
"Kalau dia bisa membunuhku??kenapa aku tidak ??"
Intan bangkit dari duduknya, ia tidak menyangka jika Aurel akan berkata seperti itu.
"Apa yang kamu rencana kan??"pekik Intan.
"Balas dendam"jawaban yang singkat tapi mampu membuat Intan gemetar ketakutan.Wanita itu memilih untuk pergi dari pada harus berlama-lama di tempat itu.
Ia takut dengan wujud Aurel yang sekarang,tidak menye-menye ataupun ja'im.
"Kau dimana?"Intan menelfon Irwan sambil memutar kemudi.
"Di kantor.."Jawab Irwan dari seberang.
"Ngapain ??"
"Aku mengadakan rapat dadakan dengan staf kepercayaan ku.Hal ini untuk mengantisipasi jika tiba-tiba Aurel membuat keputusan yang akan merugikan diriku"
"Percuma"
"Kenapa ??"
"Aurel ingin membunuh mu..."
"Apa ???"Irwan kaget, ia gegas menjauhi keramaian.
"Apa maksud mu dengan kalimat Aurel ingin membunuh ku??"
"Tadi dia yang bilang begitu,,,jika tidak bisa terlepas dari mu dengan cara bercerai,maka dia akan membunuhmu.Dan kalau itu terjadi???ah..."Intan memukul steering mobil.
"Tenang..kau harus tenang..ok??"
"Tapi bagaimana ??"
"Nanti setelah rapat selesai,aku akan ke rumah mu"
"Baik...aku tunggu "