Blue Eyes

Blue Eyes
DUA KEMUNGKINAN 53



"Diam!!!"


Sontak semua langsung senyap saat Idris meninggikan suaranya.


"Luna... tolong jangan ikut campur masalah ini"


"RIS kamu keluarga ku"Bantah Luna"Aku tidak mungkin diam kalau benar Soraya hamil anak kamu, apalagi ??"Luna menjeling Soraya dengan tajam"Kalau ternyata kamu sebenarnya tidak menghamilinya "


PLAK!!!


Soraya sudah tidak bisa menahan amarahnya.Tangannya gemetar setelah berhasil melayangkan tamparan ke pipi Luna.


"Kau!!"Luna Mengangkat Tangannya membalas tamparan Soraya.Namun sayangnya, yang ia tampar adalah wajah Idris.


"RIS...So-sorry"Luna refleks memegang wajah Idris.


"Sudah...sudah..."Idris menepis tangan Luna."Kamu sudah puas kan meluapkan amarahmu??kalau belum puas,ayo tampar aku"


"RIS..kamu ..."


"Sudah Lun...cukup"Potong Idris cepat"Terimakasih kamu mau perduli dengan ku,tapi masalah Soraya adalah masalah pribadi ku..Jadi selama aku masih bisa menangani hal ini,kamu jangan ikut campur.Dan tolong rahasia kan semua ini dari keluarga ku"


"Dokter...maaf sudah membuat keributan "Idris membungkukkan badannya.


"Iya .. nggak apa-apa "Dokter menjawab dengan senyuman.


"Ayo..."Idris menarik tangan Soraya keluar dari ruangan UKS.Meninggalkan Luna the gank.


"Lun... gimana ?"Iko menyenggol lengan temannya itu.


"Kita lihat dari jauh bagaimana perkembangannya nanti"Jawab Luna,ia menatap tajam bayangan Soraya dan Idris yang menghilang dibalik pintu.


*


*


Idris membawa Soraya atap sekolah, karena hanya tempat itu yang paling aman dan sepi serta tidak akan menggangu aktivitas belajar.


Sesampainya di atap,Soraya masih muntah-muntah meskipun tak separah tadi.Idris hanya diam menyaksikan.


"Apakah...karena ini,,kamu menolak untuk menikah dengan ku??"


Bagai tersengat aliran listrik,tubuh Soraya kaku seketika.Cuping telinga nya panas mendengar pertanyaan Idris.


Setelah mengatur nafas,Soraya membalikkan badannya.


"Jadi kamu percaya aku hamil??"


"Mau nggak percaya gimana ??lihat kondisi mu Ya'"


"Aku nggak hamil RIS...demi Tuhan dan demi apapun,aku yakin aku nggak hamil"Soraya meyakinkan pria didepannya.


"Kalau tidak ada tes pack,aku pasti akan mengira kamu masuk angin "


"Itu bukan milik aku "


"Terus milik siapa ?? Please Ya'.. tolong jujur,jangan permainkan perasaan ku seperti ini "


"Aku udah jujur,,,,"Soraya geram sekali.Idris diam,ia menatap gadis pujaan hatinya dengan sejuta makna.


"Ya'...kau tahu?? hatiku sakit, sakit sekali"Idris menepuk dadanya yang terasa pedih.


"RIS...aku udah jujur...aku nggak hamil "Soraya merasakan sakit yang sama melihat Idris sayu menahan sebak.


"Aku ingin percaya itu... jujur aku berharap itu benar-benar hanya sebuah kebohongan.Tapi...tapi..."Idris duduk berjongkok sembari menjambak rambutnya sendiri.


"AKH..."


Soraya murka,ia mengangkat meja rusak bekas yang di simpan disana dengan kekuatan nya.Lalu ia hantamkan ke dinding pembatas.


BRAK!!!


Meja itu patah berkeping-keping.


"Aku kecewa dengan mu Ris...kau bilang sayang, cinta segala macam...tapi kamu tidak percaya kepada ku.. Sekali lagi aku tegaskan!!AKU TIDAK HAMIL!"


Soraya berbalik pergi,ia menuruni anak tangga tanpa menoleh lagi ke belakang.


Idris sendiri hanya diam,ia tidak tahu harus bagaimana? Yang jelas hatinya juga terluka sebab hal ini.


*


*


Soraya pulang ke rumah,ia memilih untuk tidak kembali ke kelas.


Setibanya di rumah,Ia langsung masuk kamar tanpa memperdulikan siapapun.


Ahmad yang melihat kelibat Soraya, langsung melapor kepada Pak Luyo .


"Apa??Soraya sudah pulang?Jam berapa ini?"Pak Luyo merasa ini tidak seperti biasanya.


"Hemmm pasti ada yang tidak beres "Pak Luyo bangkit,ia bergegas pergi ke kamar putrinya.


Pak Luyo mengetuk pintu kamar Soraya agak lama,karena tak ada sahutan dan Soraya sama sekali tidak membuka pintu kamar.


"Aya'... sayang...kamu kenapa Nak??hem??"


Tetap tak ada respon.


"Apa kita buka saja kamar Nona dengan kunci cadangan Pak"Ahmad memberikan ide.


"Jangan... sepertinya dia butuh waktu untuk sendiri.Kita Biarkan saja"


Pak Luyo pun menyerah,ia pergi dari depan kamar Soraya dan kembali ke kamar nya.


*


Idris tidak jauh berbeda,ia pulang ke rumah dan berendam di dalam kamarnya.


Kedua sejoli itu merasakan sakit yang sama namun versi berbeda.


Idris terluka karena merasa telah dikhianati, sedang kan Soraya terluka sebab Idris sudah mengecewakan nya.Tidak percaya akan kejujurannya.Cinta yang Idris agung kan rupanya sedangkal itu.


Benci,muak,dan rasa jemu untuk bertemu.Menyekat hati Soraya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nicta heran melihat wajah Idris yang sembab.Apakah anaknya habis menangis ???Tapi ia sengaja tak menegur,karena saat itu Idris tengah pergi ke Musholla untuk menunaikan shalat Maghrib.


Baru setelah anaknya Pulang,Nicta memanggil dan meminta untuk duduk bersamanya.


Idris menyanggupi panggilan Ibunya dengan malas.


"Kenapa wajah mu??kena sengat lebah?"Canda Nicta menggoda anaknya.


"Mama Apa-apaan sih"Idris melengos menutupi wajahnya.


"Hahahahahaha udah gede begini, kemarin katanya udah siap nikah.Tapi sekarang kelihatan habis nangis.Mata bengkak, hidung merah,sumbat lagi hahaahaha"Tak habis-habis Nicta menggoda anaknya.


"Kenapa... kenapa...ayo cerita sama Mama..Apa masih masalah mau married?"


Idris menggeleng lemah.


"Terus kenapa?"


Idris tertunduk pilu,hatinya semakin sakit.


"Soraya Ma..."Suara pria itu terdengar lirih,Nicta menunggu kelanjutannya"Dia hamil"


"Apa??Hamil??hamil anak kamu?"


"Ya nggak lah Ma... kalau hamil anak Idris,sumpah sujud syukur nih"


"Terus hamil anak siapa?"


Idris menggeleng dengan berat.


"Apa karena itu ya Ma,dia nolak nikah sama Idris ??"


"Kamu yakin??"


"Yakinlah,dia kan habis diperiksa sama Dokter di sekolah.Soraya muntah-muntah,terus Idris bawa ke UKS.Habis diperiksa,eh Dokter malah nemuin hasil tes pack yang menyatakan Soraya positif hamil "


Nicta terdiam,ia berusaha memikirkan sesuatu hal yang bisa saja tersembunyi.


"Apa Soraya sudah diperiksa secara menyeluruh ??"


"Maksud Mama?"Idris jadi bingung.


"Ya di cek ke Dokter kandungan gitu"


"Tapi kan udah pasti hasilnya positif Ma,aku lihat garis dua kok"Idris tetap yakin dengan pendiriannya.


"Emmm gini ya sayang, Mama kan perempuan jadi otomatis Mama tahu sedikitlah antara sesama wanita. Tanda garis dua dalam tespek itu belum tentu Hamil Sayang, itu ada dua perkara loh. Yang pertama itu positif hamil, yang kedua dia dalam masa kesuburan. Jadi tespek bisa juga digunakan untuk mengecek waktu yang tepat untuk membuat anak"


"Untuk memastikan dia hamil Apa nggak, kamu harus bawa Soraya ke dokter kandungan"sambung Nicta.


"Serius Ma?ada begituan??"Idris seperti tak percaya,Nicta mengangguk yakin.


Wajah Idris langsung tersungging senyuman.


"Makasih ya Ma...Idris akan menemui Soraya sekarang juga.Pasti dia sedang bersedih karena sikap Idris yang tidak mempercayai dirinya"


Nicta mengangguk sembari tersenyum.Idris jadi kalang kabut.Ia bingung mencari kontak motor nya.Akhirnya ia putuskan untuk membawa mobil Ibunya.


"Idris pinjam mobilnya ya Ma"Idris berseru seraya berlari ke luar rumah.


"Hati-hati RIS...."Balas Nicta.