
Maulana beserta tim Dokter yang lain telah berhasil melakukan pertolongan pertama untuk Fajar.Anak itu telah melewati masa kritis.
Maulana sama sekali tidak menyangka jika Cahaya juga berada di dalam ruangan UGD.Meskipun tubuhnya telah berubah menjadi kucing,namun kekuatan Cahaya tak berubah sedikitpun.
Ia menyalurkan tenaga dalamnya kepada sang adik agar adiknya itu bisa diselamatkan.
Setelah keluar dari ruang UGD, Maulana segera menghubungi Idris dan juga Luna.Dan seperti yang sudah diduga, kepanikan langsung mencecar Lana dengan segala pertanyaan.
Maulana menghela nafas usai memutus talian,ia celingukan mencari Cahaya .
"Kemana perginya Cahaya ??"gumam Lana bertanya pada diri sendiri.
"Woy...aku disini"Cahaya mengeluarkan suara meong-meong untuk menarik perhatian Maulana.Namun pria itu justru meninggalkan nya.
"Eh kok malah pergi ??"Cahaya berlari mengejar.
Di tempat lain, Hellen berhasil masuk ke kamar Cahaya .Ia membuka semua lemari untuk menemukan Topeng iblis pencabut nyawa.Namun Hellen tidak menemukan nya.
"Dimana dia menyimpan topeng itu??"Hellen berkacak pinggang, pandangan nya mengedar ke sekeliling.
Karena sudah lelah mencari, akhirnya Hellen menggunakan kekuatannya untuk mengangkat semua barang secara bersamaan.Alhasil...semua barang di kamar Cahaya melayang di udara.
Hellen terus mencari,tapi tidak juga ketemu.Ia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan topeng legendaris itu.
Padahal,Di sudut ruangan.Batu kecubung melakukan tugasnya dengan baik.Ia melindungi topeng legendaris dari pandangan Hellen.
Sayangnya, seekor cecak berbunyi seperti memberikan kode tentang keberadaan topeng legendaris.
Niat Hellen yang hendak pergi dengan hati putus asa kembali tertahan.Ia menoleh serta menajamkan pendengarannya.
Tatapan matanya tertuju kepada satu sudut ruangan yang sangat aneh.Seekor cecak berjalan,pada awalnya Hellen bisa melihat cecak itu.Tapi saat ia melewati satu titik yang dilindungi oleh Kecubung,Cecak itu hilang.
Helen menarik garis sudut bibirnya,ia sekarang tahu apa maksud Cecak yang berbunyi lantang itu.Tangan Hellen membentuk cengkraman,dalam genggamannya ada bola hitam sebesar bola sepak takraw.Ia menghantamnya ke sudut ruangan, Alhasil bola tersebut terpental kuat menghantam tubuh Hellen hingga terlempar jauh ke luar ruangan.
Batu kecubung berhasil melindungi topeng legendaris.
Tubuh Hellen terpental hingga berkilo-kilo meter, Sampai ia terhempas ke batu besar di kaki gunung.Dari mulutnya menyembur darah segar sampai berkali-kali.Dadanya remuk, sekujur badannya dipenuhi luka-luka.Ia tidak pernah mengira jika Cahaya memiliki jimat tersembunyi.
"Aku...ter-la-lu..me-re-meh..kan--mu"
Hellen sudah tak bisa bertahan lagi,ia meregang nyawa di sana.
...----------------...
Maulana heran karena tidak menemukan Cahaya dimana-mana.
"Hugfff pergi kemana sih??"Maulana berkacak pinggang,ia lelah mencari keberadaan gadis itu.
"Eh ini kucing siapa yang punya sih?? dari tadi ngikuuuut aja...hus hus..sana pergi"Maulana mengusir Cahaya si kucing.
"Meoooong... meoooong..."Cahaya tetap saja berusaha agar Maulana bisa mengenali nya.
"Woy...ini aku lah,masak kucing semanis aku tidak kau sadari bahwa bukan kucing biasa.Lihat nih..ekor ku warna putih kebiruan, seluruh bulu di tubuh ku berwarna putih kebiruan.Apa kamu masih tidak mengenali ku??"
Maulana tersenyum tipis melihat kucing yang diusirnya malah meliuk-liuk mengibaskan ekornya.
"Kamu kok lucu sih,aku usir malah kamu menggoda ku"Maulana duduk berjongkok memungut si kucing.
"Siapa yang menggoda mu??aku memperlihatkan bulu ku..."seru Cahaya yang jelas tidak didengar oleh Maulana.
"Eh eh.. apa-apaan kamu"Cahaya mengelak dengan menerajang mulut Maulana menggunakan kaki depannya.
"Em..kok nggak mau dicium sih?? jual mahal kau ya"Maulana menggosok tubuh Cahaya ke pipinya.Bulu yang lembut membuat Maulana merasa nyaman.
Berbeda dengan Cahaya ,ia justru bergidik geli karena harus menerima perlakuan yang terlalu intens.
"Lan..."
Luna Tetiba masuk dan menemukan sang Kakak tengah bermain dengan kucing.
"Eh kau sudah datang rupanya,yang lain mana?"
"Di bangsal nya Fajar,males aku harus ngeliat Idris dan Soraya yang mesraan terus"Luna memanyunkan bibirnya,ia duduk di kursi depan meja kerja sang Kakak.
Maulana meletakkan Cahaya di atas meja,lalu duduk di kursi kerjanya.
"Sejak kapan kamu suka kucing ??"Luna melirik kucing yang termasuk unik sekali.
"Baru aja,dia ngikutin aku...dan lagi dia lucu banget tahu nggak sih"Maulana membelai lembut tubuh Cahaya .Luna cuek saja,ia menatap ke sekeliling ruangan.
"Mana Cahaya ?? tumben nggak ngintilin kamu?"
"Nah itu dia,tadi pas aku menangani Fajar.Aku nyuruh dia untuk tunggu di luar.Seingatku tadi dia bawa tas Fajar,terus ngilang.Tapi tas Fajar ada disini...entah pergi kemana tu anak"
"Dia sudah mulai dekat dengan Fajar.."komentar Luna.
"Mangkanya...jangan terlalu berpikir negatif sama dia,malah Fajar sangat sayang sekarang sama Cahaya "
"Iya...dia sudah jarang mengunjungi aku di rumah... sekarang tahu-tahu dia kecelakaan "Luna jadi sedih mengingat cucu kesayangannya si Fajar.
*
*
Maulana pulang dari rumah sakit dengan tergesa-gesa.Karena dia belum menemukan Cahaya sejak siang tadi.Ia berasumsi bahwa Cahaya mungkin pulang lebih dulu.
Namun sesampainya di rumah,Maulana harus menelan kekecewaan karena Cahaya tidak juga ada di rumah.
Anehnya lagi,kamar Cahaya sangat berantakan.
"Apa yang terjadi di sini??"gumam Lana,Cahaya bernafas lega melihat topengnya mengambang di sudut ruangan bersama batu kecubung.
Cahaya yang berujud seekor kucing melompat ke atas tempat tidur.
"Eh..eh..ini tempat tidur Cahaya ,jangan kamu tidur di situ.Ayo ikut aku..."
Cahaya menggaruk kepalanya, ia bingung bagaimana caranya untuk memberi tahu Maulana bahwa dialah Cahaya .
"Ih malah garuk kepala... tambah gemesin aja sih kamu"
"Aaaaaaaaaa... gimana nih??dia malah mengira aku adalah kucing beneran "Cahaya merengek manja sambil lalu menelentangkan tubuhnya.Ia meronta-ronta namun yang terlihat oleh Maulana, kucing itu mengeliat manja.
Maulana terkesima menyaksikan ulah kucing itu,ia lalu menggendong nya dan menciumi tubuh nya.
"Makin lama kamu makin gemesin aja ihhhh"Pria itu geregetan sendiri.Seperti ingin menelan bulat-bulat si kucing.Ia membawa Cahaya keluar kamar,mencoba mencari keberadaan gadis yang disangka hilang.