Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
99| My Iron Man



AMARA baru menyadari sikap Emir yang agresif. Pria didepannya itu begitu mudah melakukan kontak fisik padanya.


Dulu, Emir, tak seperti ini. Emir yang Amara kenal adalah tipe lelaki canggung dengan lawan jenisnya.


Pernah sih, pria itu bertingkah manis. Salah satunya dengan memberi coklat dan bunga saat Amara kecewa dengan kakak kelas incarannya yang ternyata sudah punya pacar -- Leon namanya. Ah! Amara merasa malu jika mengingat cinta monyetnya di SMP.


Emir juga pernah beberapa kali bersikap; usil, protektif dan sok ngatur -- hal itu membuat Amara risih.


Sikap menyebalkan juga pernah Emir lakukan -- tanpa sengaja sih pastinya. Dan hal itu membuat Amara sakit hati, bahkan sampai membuatnya trauma. Emir pernah melupakan janjinya pada Amara. Dan itulah awal mula hubungan antara keduanya merenggang.


Pria itu lebih memilih bersama Helma ketimbang menunaikan janji untuk membantu persiapan pesta ulangtahunnya, begitulah yang Amara tahu. Saat kembali mengingat hal ini Amara hanya menggelengkan kepala.


Ternyata hal se-sepele itu bisa membuat Amara murka. Mungkin pengaruh usia. Masa remaja memang masa yang berapi-api.


"Jangan senyum-senyum sendiri, Non," bisik Emir ditelingan Amara yang masih terpaku dikumpulan bunga mawarnya.


Kaget


Geli


Malu


Itu yang Amara rasakan. Amara jadi salah tingkah dibuatnya.


"Papa punya kejutan juga buat Aidan. Mau lihat sekarang?" tanya Emir kemudian -- pada Aidan.


"Mau, Pa!" seru Aidan antusias.


Kemudian Emirpun menggandeng keduanya menuju pintu utama.


Deg!


Kembali jantung Amara dibuat berdentum kala Emir berusaha mendorong pintu besar dan kokoh itu. Rasanya seperti membuka sebuah kado.


Benar saja!


Memasuki ruang tamu, yang pertama kali Amara lihat adalah bingkai foto besar yang terpajang didinding. Sudah lama dia tak melihatnya.


Dalam foto itu terlihat Amara yang masih berusia 5 tahun sedang berdiri didekat sang Mama, sedangkan Papa nya berdiri di belakang Mamanya.


Pasalnya bingkai foto yang besar-besar tak dia bawa saat sudah menjual rumah ini, dulu. Kondisi ibunya yang harus segera mendapat perawatan, membuat Amara hanya membawa barang-barang secukupnya. Karena dia bingung akan ditaruh dimana.


"Pembeli rumah itu, belum sempat menempati rumah ini. Dan nggak lama pemiliknya kena kasus dan akhirnya rumah ini disita Bank,:" ungkap Emir.


"Dan saat aku kembali mengambil alih rumah ini, ternyata oleh pembeli yang dulu semua barang-barang itu tidak dijamah. Dan ada digudang" beritahu Emir lagi.


Amara menoleh ke arah Emir, wanita itu menatap sayu ke arah pria itu. Wajahnya seolah menggambarkan 'rasa berterimakasih seperti apalagi untuk membalas kebaikan pria dihadapannya', Amara tak mampu berkata-kata lagi.


Peluk?


Terbesit pikiran itu secara tiba-tiba, tapi Amara malu -- ada Aidan diantara mereka.


"Mau ikut kedalam ... apa mau disini dulu? Aku mau nunjukin kamar Aidan," ujar Emir.


"Kamar Aidan?" tanya Amara.


Emir mengangguk cepat dengan senyum. Lelaki itu pun tak sabar ingin menunjukkan hasil karyanya.


"Ayo, Pa! Aku mau lihat!" Aidan berseru sambil menarik-narik lengan Emir.


Amara hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah Aidan yang begitu manja dan tak ada canggungnya pada Emir. Padahal mereka baru satu bulan lalu bertemu, tapi terlihat sudah sangat akrab.


Sebenarnya Amara juga penasaran, kamar seperti apa yang disediakan untuk putranya itu. Semoga saja Aidan tak merepotkan Emir. Amara benar-benar tak bisa berhutang budi. Begitulah kekhawatiran Amara.


Emir membawa mereka ke lantai dua. Dilantai ini terdapat 4 kamar. Kamar utama yang dulu ditempati orang tua Amara. Lalu kamar Amara yang menghadap teras taman depan. Dan dua kamar lainnya ditempati orang tua Emir dan juga sebagai kamar tamu. Itu yang Amara ingat.


Emir sendiri dulu menempati kamar dilantai satu. Pria itu enggan menempati kamar dilantai dua saat Andar -- Papa Amara menyuruhnya tidur terpisah dari orangtuanya saat dia beranjak dewasa.


Emir beralibi karena lebih nyaman dibawah sekalian berjaga-jaga. Padahal alasan utamanya adalah karena dia takut salah masuk kamar -- ke kamar Amara maksudnya.


Dasar Emir!


Pikiran usil Emir yang seperti itulah yang tak Amara ketahui tentang Emir -- teman masa kecilnya yang selalu terlihat bersikap alim didepannya.


...Bersambung...