Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
34| Pergi 'tuk Kembali



...Pergi 'tuk Kembali...


HAMPIR Tiga Belas tahun lelaki itu tinggal di Rumah besar nan mewah milik keluarga dari kenalan dekat Sang Ayah.


Datang kerumah itu dengan harapan dapat mengubah kehidupannya yang lebih baik, kini telah tercapai olehnya.


Emir hampir tak pernah hidup susah. Semua berkat Andar--Ayah dari gadis yang sekarang sedang menikmati liburan bersama kedua sahabatnya.


Ada guratan pedih dihati Emir kala gadis manja dan ceria itu tak mengantar kepergiannya. Sepenuhnya Emir sadar, dia bukan siapa-siapa.


Lelaki yang kini tumbuh menjadi pria dewasa itu kembali mengenang saat pertama kali bertemu dengan Amara kecil yang menyambutnya penuh kehangatan. Bahkan uluran tangan kecil dari gadis itu masih begitu terasa dalam ingatannya--hangat dan menyenangkan.


Emir masih duduk terpaku memandang kosong ke arah lantai. Ketidakhadiran gadis itu yang tak mengantar kepergiannya membuat Emir semakin rendah diri--bukan sifat Emir sebenarnya.


Tapi entah mengapa dihadapan Amara, seorang Emir merasa begitu rendah, oleh karenanya dia butuh melanjutkan studinya ke Jepang.


Demi merubah nasib agar dirinya pantas bersanding untuk gadis yang sudah lama ia inginkan.


Aku akan secepatnya kembali! Batin Emir penuh tekad.


Emir sudah merencanakan semuanya dengan matang, dan dia berniat akan lulus secepatnya untuk kembali disamping Amara.


Berkali-kali Emir meminta waktu untuk menjelaskan semua. Namun gadis itu seolah menolak apa yang akan Emir ungkapkan.


Oleh karenanya, Emir bertekad akan membuktikan pada gadis itu. Bahwa Emir tak pernah mempermainkan dirinya.


"Yuk, Bun, mereka sudah sampai" ucap Emir pada Orangtuanya yang sedari tadi duduk disampingnya.


Sayangnya kepergian Emir tak di hadiri Orangtua Amara. Tadi malam Andar dan Liana berangkat ke Bandung untuk jadwal yang tak bisa ditunda lagi. Dan hal itu sangat di maklumi Emir dan juga orangtuanya. Lagipula Andar dan Liana sudah panjang lebar berbicara pada anak lelaki itu di hari Amara pergi ke Puncak.


Akhirnya gadis cantik yang bernama Helma itu terlihat ditempat yang sudah gadis itu beritahu lewat pesan teks tadi.


Dan dia datang bersama Pria yang selama ini telah membantu Emir untuk mendapatkan beasiswa di Jepang.


"Hai, Emir," sapaan Helma disahuti Emir dengan senyuman.


Saat melihat Pria yang bersama Helma, Emir buru-buru mengenalkannya pada Ahmad. "Ayah ... Ini adalah Om Reza. Beliau yang sudah membantu Emir untuk beasiswa itu" ujar Emir.


Ahmad mengulurkan tangan menyambut Pria muda itu. "Saya ucapkan terimakasih atas bantuan Anda pada Emir, Pak Reza" ucap Ahmad tulus.


Reza membalas uluran tangan itu. "Panggil saya Reza saja, Pak. Emir memang berbakat, sayang sekali jika tidak memanfaatkan kesempatan yang ada. Saya tidak banyak membantu" Senyum tulus terbingkai di wajah Pria yang kini berusia sekitar 28 tahunan.


"Kami titip Emir ya selama berada di sana?" ucap Fatma yang menimpali.


"Tenang Tante, Asrama yang akan ditempati Emir, dekat dengan tempat tinggal Helma kok" ujar gadis itu seraya menggenggam jemari Fatma.


Fatma sudah mendengar sekilas tentang gadis yang kini sedang menggenggam lengannya. Gadis yang terlihat seumuran dengan Amara itu memang terlihat dewasa dan terlihat cantik. Sikap santun gadis itu pun membuat Fatma merasa tenang jika putranya menempuh pendidikan bersamanya.


...Bersambung...