Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
96| Safe Flight My Baby



EMIR tahu apa yang dirasakan Amara. Melahirkan anak dari hasil pelecehan seksual bukanlah prihal sepele. Segala sesuatunya penuh dengan pertimbangan akan dampak mental kedepannya.


Benar kata Fahri--adik Papa Amara yang beberapa hari lalu Emir kunjungi. Bahwa Aidan adalah anugerah yang terlahir dari sebuah malapetaka. Hal itu akan beresiko tinggi untuk kestabilan dari psikis Amara jika sewaktu-waktu wanita itu kembali terbayang kejadian pelecehan dimasalalu saat melihat Aidan.


Emir kemudian memeluk Amara dari belakang. Membawa wanita itu dalam dekapan penuh dari kedua lengan kekarnya yang melingkari perut wanita yang amat dicintainya itu. Dia rengkuh dengan lembut tubuh ringkih yang kini terasa kurus. Emir mencoba memberi kekuatan dalam pelukannya.


"Kamu adalah ibu terhebat di dunia. Dan Aidan akan bangga memiliki ibu sepertimu. Dan aku akan selalu bersamamu mendampingi Aidan. Kita akan melihat Aidan tumbuh menjadi anak yang membanggakan," bisik Emir.


...▪︎▪︎▪︎...


Keesokan harinya, Kediaman Melani tengah sibuk membenahi koper milik Amara dan Aidan ke bagasi Mobil milik Beryl--suami Melani.


Karena memutuskan akan tinggal di Jakarta, maka Amara mengemasi semua barang-barang putranya--pakaian, mainan, dan juga perlengkapan sekolah. Tak ada satupun yang terlewat.


Setelah dipastikan semua siap. Mereka pun bersama-sama pergi ke Bandara untuk melepas kepergian Aidan yang kini akan tinggal dan hidup di Indonesia bersama sang Mama.


Menempuh perjalanan kurang lebih selama 20 menit dari Surry Hills menuju Bandara Kingsford di Sydney, akhirnya mereka pun tiba.


Sebelum melakukan check in, mereka terlihat berbincang-bincang. Beryl yang tampak serius mengobrol dengan Emir. Dan juga Aidan yang tengah asik bercanda dengan Rossie--didekat Melani yang sedang berbicara dengan Amara.


"Cukup pikirkan kebahagiaan kamu dan Aidan," pesan Melani. Wanita itu menggenggam jemari Amara.


"Jangan terlalu rumit memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Kamu nggak sendiri!" tegas Melani untuk kesekian kalinya.


Kemudian Melani memeluk tubuh Amara. "Aku akan datang menjelang pernikahanmu," ujarnya dalam pelukan itu sambil mengusap punggung sahabatnya.


Kini Melani beralih memeluk Aidan. Lumayan lama pelukan itu terjadi. Melani yang sudah menganggap Aidan seperti anaknya sendiri itu sebenarnya merasa sangat kehilangan.


Melani ingat betul dimana kejadian saat Aidan dinyatakan telah aman tanpa bantuan inkubator--tak ada pelukan hangat yang menyambut bayi merah itu saat sudah ditempatkan di ruangan perawatan bayi. Wanita yang juga berprofesi sebagai Psikiater itu merasa miris dan kasihan melihat bayi dari sahabatnya.


Amara saat itu masih belum bisa menerima kehadiran bayi yang baru saja dilahirkannya--walaupun wanita itu sendiri yang memutuskan untuk mempertahankan bayi yang dikandungnya.


Melani paham betul perasaan Amara, karena dialah yang mendampingi Amara dalam proses pemulihan psikisnya setelah kejadian tragis yang menimpa sahabatnya itu hingga kini.


Disaat Melani melihat bayi malang yang menggeliat sendirian tanpa orang dewasa disekitarnya. Dia pun melangkah mendekati bayi lelaki merah itu.


Melani lah orang pertama yang memberi kehangatan pada bayi mungil itu. Sentuhan dan belaian hangatnya membuat bayi merah itu tersenyum. Benar-benar tersenyum.


"Thank you for everything, Mom" kata Aidan dalam pelukan itu.


Melani melepas pelukannya setelah menerawang kemasalalu. Dia pandangi wajah Aidan yang memiliki pipi gembul merona--menggemaskan.


"Tidak. Mommy yang berterimakasih. Karena kamu sudah tumbuh dengan baik," ujar Melani. Lalu dia kecup pipi Aidan di kanan dan kiri. "Aku akan sangat merindukanmu,"


Melepas Aidan bersama Amara dan didampingi Emir, adalah hal yang paling dia syukuri selama ini.


Melani percaya. Emir adalah sosok pelindung yang dikirm Tuhan untuk melengkapi hidup Amara dan juga Aidan.


"Safe flight, my Baby ...," gumam Melani sambil memandang ke arah pesawat yang telah membawa terbang Aidan di langit Sydney yang begitu cerah.


...Bersambung...