
KAMAR yang dulu ditempati mendiang orangtua Amara tak banyak berubah. Emir hanya mengganti gorden dan mengecat ulang ruangan itu, serta menambah beberapa perabotan. Salah satunya adalah badcover bergambar tweety -- burung kecil berkepala besar berwarna kuning dengan bulu mata lentik yang bertengger di mata besar binatang itu. Itu adalah salahsatu tokoh kartun pavorit Amara sewaktu wanita itu masih remaja.
"Kamu yang belikan ini?" tanya Amara. Menunjuk pada selimut tweety yang menutupi tubuhnya dan juga Emir.
Amara berbaring di kasur besar dan empuk menghadap ke arah Emir dengan jarak lumayan jauh. Mengingat ukuran ranjang itu sangat besar.
Emir mengangguk dengan wajah lelahnya.
"Aku kan udah ibu-ibu, masa masih pake barang begini" gumam Amara.
Dia merasa aneh memakai barang-barang yang sepertinya tidak cocok lagi dia gunakan diusianya yang akan menginjak kepala tiga.
"Tapi kamu masih terlihat seperti anak SMA" celetuk Emir yang sepertinya bicara tanpa berpikir.
Mungkin karena Emir lelah dan sudah mengantuk, ucapan pria itu jadi terdengar ngawur.
PUK! PUK!
"Sini,"
Emir menepuk tempat kosong yang ada didepannya.
"Aku mau peluk kamu aja," ucapnya lagi sambil kembali Menepuk kasur itu.
"Sikapmu banyak berubah, Mir," ucap Amara penuh selidik.
Emir tersenyum sendu. Dia tahu apa yang Amara bicarakan mengarah pada prilakunya. Jujur saja, apa yang Emir lakukan hanya agar Amara terbiasa dengan dirinya dan tak bersikap canggung layaknya orang asing.
"Aku nggak pernah berubah, Amara. Dulu aku hanya menahan untuk tidak bersikap seperti ini. Kemarilah!"
Dan pria itu menarik tubuh Amara yang seringan kapas -- perlahan untuk lebih dekat dengannya, sehingga mereka kini berhadapan.
"Nah begini, kan nyaman," ucap Emir yang merengkuh pinggang Amara yang hanya berjarak dua jengkal dari tubuhnya.
Amara hanya diam dan menerima saja yang dilakukan pria didepannya. Dan kini wanita itu mulai menelisik lebih dalam paras Emir yang berubah dari terakhir kali saat mereka masih bersama. Saat sepuluh tahun yang lalu.
Kulit wajah Emir sangat bersih untuk seorang pria. Emir memang mendapatkan gen terbaik dari wajah orangtuanya yang terbilang enak dipandang. Dan kini tatapan Amara tertumbuk pada bibir Emir yang sering menciumnya dengan lembut belakangan ini -- Amara tak keberatan jika itu Emir -- pria yang selalu memperlakukannya dengan baik sedari dulu.
Seketika Amara gugup dan menelan ludahnya susah payah.
"Selama di Jepang apa kamu pernah dekat dengan perempuan, Mir?" celetuk Amara dengan wajah datar.
Pertanyaan impulsif Amara yang mengalir begitu saja membuat Emir terkejut. Pria itu tak menyangka Amara akan bertanya tentang masa lalu Emir saat dirinya mengais ilmu di Negri Sakura itu.
"Pernah," sahut Emir singkat.
Pria itu pun tak menampik rasa penasaran akan reaksi Amara selanjutnya.
"Sejauh apa?" tanya Amara yang terlihat biasa saja. Perempuan itu benar-benar bisa menjaga emosinya.
Lelaki dengan paras rupawan dan otak encer seperti Emir mana mungkin tak dikejar-kejar kaum hawa, kan?. Amara hanya sebatas penasaran.
"Hanya menemani ke festival musik. Itu pun cuma sekali. Hanya untuk refresing," terang Emir setenang mungkin.
Emir masih lah lelaki normal. Tapi dia masih waras untuk tidak merusak anak gadis orang. Sentuhan fisik atau kebablasan mencium teman perempuannya memang pernah Emir lakukan. Iman-nya tipis sekali saat dia tinggal jauh dari orangtuanya. Tapi Emir termasuk lelaki yang bisa menahan hasratnya.
Amara hanya mengangguk dengan senyum simpul. Tapi Amara tak berani bertanya lebih jauh tentang perempuan yang pernah dekat dengan Emir itu. Terutama nama Helma. Amara belum siap jika luka-nya kembali terbuka.
"Kamu sendiri, apa pernah dekat dengan seseorang? Berkencan atau sekedar nonton, mungkin?" Emir begitu hati-hati saat menanyakan ini. Dia penasaran setengah mati.
Amara menggeleng. "Aku menghabiskan waktuku untuk bekerja dan merawat Mama" lirih Amara tersenyum.
Perasaan Emir mencelos saat mendengar penuturan Amara. Mengurus Mama nya yang terkena kanker selama dua tahun bukanlah perkara mudah bagi wanita yang tak pernah merasakan susah sedari kecil.
Tak lama setelah kepergian Emir ke Jepang. Andar -- Papa dari Amara meninggal. Setelah itu, dua tahun kemudian disusul Liana -- Mama Amara yang menyerah dalam pengobatannya dan meninggalkan Amara sebatangkara.
Dampak dari kepergian orangtuanya seolah mengular -- mulai dari berhenti berkuliah, bekerja dibanyak tempat, melakukan pekerjaan kasar yang tak pernah Amara lakukan sejak kecil, dan juga perlakuan asusila yang merenggut segalanya dari wanita yang Emir sayangi itu.
Bodohnya Emir dengan rasa penasarannya itu. Sudah jelas dia tahu perjuangan Amara dari cerita Melani saat mereka bertemu di Sydney.
Emir benar-benar menyesal dan tak berhenti merutuki dirinya sendiri sebagai lelaki tak tahu diri.
Emir sedikit bangkit dari tidurnya. Lalu dia menangkup wajah Amara yang kini ada dibawahnya. Tatapan Emir begitu sendu melihat kedalam bola mata Amara yang kecokelatan.
"Maafkan aku," ucap Emir. Lalu dia mengecup kening, hidung, dan terakhir bibir Amara dengan lembut dan penuh perasaan.
...Bersambung...