Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
75| Loyalitas Tanpa Batas



SAAT ini Emir sedang berada di Apartemen pribadinya. Dia masih terduduk di atas sofa bed pada kamarnya. Hampir dua jam pria itu dalam posisinya yang sambil menggenggam sebuah amplop besar yang tadi Helma berikan.


Pandangan mata Emir berpindah-pindah ke arah pas foto yang terdapat wajah Amara lalu ke arah amplop di genggamannya.


Foto itu menampilkan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi Amara yang diambil disebuah studio foto saat gadis itu akan mengakhiri sekolahnya di SMP.


Sebenarnya banyak sekali foto Amara yang Emir ambil secara diam-diam, dulu dia juga pernah berniat untuk mencetak semua foto yang telah diambilnya, lalu memajangnya di sepanjang dinding maupun bufet di Apartemennya, tapi hal itu ia urungkan, karena hanya membuatnya sesak saat orang yang ada difoto itu tak tau dimana keberadaanya.


Emir memutus tatapannya dari foto didepannya dan juga amplop yang ada di genggamannya, pria itu kini mulai menarik nafas dan mejamkan matanya. Dalam benaknya kini sedang berkelana mencari dimana keberadaan Amara.


"Melani Atmajaya"


Tiba-tiba saja sebuah nama terlintas dibenaknya. Nama Melani yang dia kenal sejak mereka duduk di SMP yang juga salah satu teman terdekat dari Amara pasti bisa menjadi jalan keluar dari kebuntuannya dalam mencari jejak wanita itu.


Kemudian Emir meraih ponselnya yang tadi dia letakkan begitu saja di atas tempat tidurnya. Saat dia men-slide layar pipih itu, dia mulai mencari nama kontak Melani, dengan helaan nafas Emir mencoba menekan nomor itu dan memulai panggilan.


"Hai, Mel. Kau masih di Sidney?"


[ ... ]


Tak ada basa-basi yang diucapkan Emir, pria itu langsung pada pembicaraan yang mengarahkan tempat tinggal Melani yang kini ikut kewarganegaraan sang suami di Australia.


"Bisa kita bertemu?" pinta Emir.


[ ... ]


"Baiklah, jika sudah sampai, aku akan menghubungimu." ujar Emir, lalu dia menutup sambungan telpon itu sesudah Melani yang lebih dulu menutupnya.


Kini Emir mulai melakukan panggilan pada Asistennya--Edo.


Saat ini Edo baru saja memejamkan matanya, perjalanan bisnis menemani Bos nya itu ke Jepang sungguh membuatnya ingin merebahkan diri dan bergelung di kasur empuknya. Namun nahas, sebuah panggilan telpon yang tidak bisa dia tolak membuat Edo putus asa untuk beristirahat.


[ ... ]


"S-sekarang, Pak?"


[ ... ]


"Baik, Pak. Saya akan segera mencari Penerbangan tercepat"


"Apa saya perlu ikut, Pak?" tanya Edo yang harap-harap cemas.


[ ... ]


"Aah ... syuk, eh maksud saya b-baik, Pak"


Edo terlihat menghela nafas lega dengan senyum yang hampir melebar saat sebuah kalimat kembali terdengar dari seberang telpon.


[ ... ]


"A-apa, Pak? Saya yang mewakili Anda sampai urusan anda selesai?" tanya Edo yang mengulang ucapan Emir dibalik telpon itu.


[ ... ]


"Ah. Tidak, Pak. Saya siap kapan pun dan dimana pun. Itulah gunanya Asisten pribadi kan, Pak?" ujar Edo dengan senyum paling masam.


Ya. Inilah yang dinamakan loyalitas. Kerja keras tanpa batas adalah pengabdian tertinggi untuk Atasan sebaik Emir. Edo memang kesal hari liburnya diganggu, akan tetapi dia berusaha mahami posisi Bos nya itu yang masih menata potongan-potangan hidupnya yang belum lengkap.


Edo masih bersyukur, dia tak punya kisah masa lalu yang rumit sampai belum kelar seperti Emir. Hidup Edo termasuk yang lurus-lurus saja. Walau pernah satu kali dia mengalami penolakan saat menjalankan perjodohan. Perempuan yang dijodohkannya itu malah kabur saat Keluarga Edo sedang bertandang kerumah calon tunangan gagalnya. Ya, tapi itu kan masa lalu. Edo sudah tak peduli.


...Bersambung...