Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
Lengket Kaya Perangko



...Lengket Kaya Perangko...


HARI demi hari Amara menjalani status barunya menjadi anak SMP. Gadis yang mulai bertumbuh itu begitu senang bersekolah disana.


Namun sedikit berbeda dengan Emir, anak lelaki itu sungguh terganggu dengan sekumpulan geng cewek yang dibentuk teman-teman baru Amara.


"Emir, kamu mau kan tunggu aku latihan?" pinta Amara pada Emir yang sedang memasukan buku pelajarannya ke tas.


Emir terdiam, lalu memandang wajah Amara yang memelas manja.


"Kamu sudah bilang sama Papa kamu tentang kegiatan ini?" tanya Emir.


"Aku sudah ijin. Papah bolehin aku kok, asalkan kamu ikut, " sahut Amara diakhiri cengengesan. "Pulangnya nanti pesan taksi" imbuhnya lagi.


"Ya sudah kalau memang diijinkan" Emir tak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan gadis itu.


"Yeeeey! Makasih Emir" pekik Amara senang sambil memeluk Emir dari samping.


Awalnya Emir ingin fokus membaca saja saat menemani Amara berlatih. Namun wajahnya jadi panik saat Amara dilempar keatas seperti gerakan akrobat.


Jantung Emir menderu kencang saat melihat Amara mengapung diudara tepat didalam Aula sekolah.


"Latihan macam apa ini?" Emir hanya bisa membatin keheranan.


...----------------...


Melihat Putrinya melangkah ke meja makan sambil bersenandung, Liana tak kuasa untuk bertanya, "Gimana latihannya, Sayang ...,?" Ibunya bertanya sambil menata piring di meja makan.


"Seru banget, Mah!" Amara kini sudah duduk dimeja makan sambil mengunyah apel merah.


Dari arah dapur terlihat Emir sedang membawa panci berukuran sedang yang berisi sup yang baru saja matang. Dia berjalan dengan hati-hati sekali.


"Ya ampun Emir, ini panas, Nak! Biar Tante aja yang bawa. Kamu duduk aja sama Amara," Melihat itu, Lianan merasa ngeri sendiri. Emir memang anak rajin menurutnya.


Dengan menautkan sepasang alisnya, wanita yang memiliki kemiripan dengan Amara itu mengalihkan pandangan pada Emir yang sedang ikut menata piring. "Masa lelaki ikutan kaya gitu. Iya nggak Mir?" ucap Ibu Amara.


Emir hanya tersenyum saja saat ditanya.


"Kegiatan cheers itu juga ada anak laki-lakinya kok Mah," sahut Amara saat melihat raut wajah Liana.


Anak lelaki seperti Emir itu cocoknya ikut kegiatan eskul kerohanian dan sejenisnya. Dia tipe lelaki yang lumayan pemalu. Daripada disuruh joget atau goyang-goyang. Emir lebih memilih menguras kolam renang saja.


Jika bukan karena Amara, tidaklah mungkin untuk Emir ikut hadir di acara yang menurutnya lumayan ekstrim dan cukup menguras malu.


"Emir pasti punya kegiatan yang mau dia ikuti, Sayang. Kamu jangan paksa Emir untuk buntutin kamu terus. Nggak baik," tukas Mama Amara.


"Abisnya kalo nggak sama Emir, Papa nggak kasih ijin Ma" Amara bersungut-sungut manja.


Emir merasa merinding melihatnya. Kenapa Amara suka sekali sih mengubah wajahnya jadi seperti bebek. Pikir Emir yang tanpa sadar terkikik.


"Aw!" Emir mengaduh dengan suara tertahan. Dibawah sana, sendal Amara menginjak kuat Kaki Emir. Sontak Emir melirik ke arah Amara yang sedang melotot ke arahnya sambil berbisik 'Jangan mikir jorok'.


Papa Amara sangat mempercayakan putrinya pada Emir, walau pun usia kedua bocah itu hanya berjarak satu tahun lebih tua , namun Andar merasa Emir bisa dipercaya. Itulah sebabnya mengapa hingga saat ini Emir tak pernah lepas dari Amara. Mereka terlihat lengket seperti perangko.


"Kamu nggak ada niat buat ikutan kegiatan disekolah, Mir?" tanya Mama Amara.


"Aduh ... Ma! Tau nggak? Emir itu anak kutu buku, nggak di kelas, nggak di kantin dia itu kerjanya bacaaaa mulu!" Amara bergidik saat mengatakan itu. "Bisa jadi di kamar mandi juga gitu, sambil buang air, ya sambil baca". celetuk Amara dalam batin sambil cengengesan.


"Jangan mikir yang aneh-aneh," bisik Emir saat melihat Amara yang cengar cengir sendirian.


Sedangkan Ibu Emir hanya tersenyum ringan saat menyaksikan obrolan di ruang makan itu.


Tak berselang lama Andar dan Ahmad masuk keruangan yang sedang ramai dengan pembicaraan seputar kegiatan sekolah dari anak-anak mereka.


...Bersambung...