
SEORANG pria tengah berjalan dengan langkah sedikit terseret dilantai rumah sakit, kedua pergelangan tangannya diikat kebelakang menggunakan borgol pelastik yang diikat kencang di kedua jari jempol kanan dan kiri pada tangan pria itu. Sedangkan kedua kakinya dirantai borgol tepat diatas mata kakinya.
Saat itu waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Keberadaan kedua pria berseragam polisi yang berjalan dengan mengapit pria berbaju oren ditengahnya itu, cukup menarik perhatian dari sebagian penghuni rumah sakit yang berlalu lalang.
Tak sedikit dari para pekerja rumah sakit maupun kerabat pasien yang berbisik-bisik dengan kehadiran pria berbaju narapidana itu. Terlalu mencolok.
Fahri dan juga seorang pria yang dikenal adalah pengacara, kini berjalan menuntun mereka untuk dibawa menuju ruangan perawat dimana beberapa tenaga medis tengah menunggu.
Sesampainya didepan pintu ruangan, Fahri membalikan tubuhnya ke arah dimana kedua polisi itu berdiri sambil mengapit pria yang pernah Fahri berikan bogem mentah beberapa tahun silam.
Tatapan pria berbaju oren yang dilapisi rompi hitam itu tertumbuk pada mata Fahri yang menatap tajam kearahnya. Kemudian pria berbaju oren itu menyeringai. "Halo, Pak, kita ketemu lagi" ujarnya selengean dengan senyum mengejek.
Jika saja tak ada kedua polisi saat ini, sudah dipastikan bahwa lelaki yang telah menghancurkan kehidupan keponakannya itu akan dia hajar sampai babak belur, seperti waktu dulu.
Ketika pintu terbuka, sudah ada dua orang perawat yang terdiri dari satu pria dan wanita yang sudah bersiap-siap.
Polisi menggiring tahanan itu menuju brangkar. Namun langkahnya berhenti saat dia melihat berbagai macam jatum suntik dan peralatan lainnya yang diletakkan di atas meja.
"Loe semua mau apa?!" pekik pria itu, panik.
Kemudian seorang pria yang dikenal adalah sebagai pengacara berkata, "Saya harap, kamu tenang dulu. Ini hanya pengambilan sampel darah," terangnya.
"Tapi buat apa?" ketus pria tadi.
Semua orang yang ada disana termasuk Fahri hanya diam.
"Darah ini adalah hak gue, sekalipun gue penjahat, tapi gue punya hak buat tau apa yang bakal lo lakuin ke gue!" tukas lelaki itu dengan ketus.
Apa yang dibicarakannya memang benar, tubuhnya adalah miliknya. Dan tak ada satupun yang dapat berlaku seenaknya tanpa ijin si pemilik. Namun, segala perbuatan bejatnya yang merenggut kesucian seorang gadis beberpa tahun silam adalah bukti bahwa apa yang dia ucapkan hanya sebuah omong kosong.
Pria itu tak memiliki hak lagi semenjak membuat kehidupan seorang Amara Salim hancur berantakan. Dan kehadirannya malam ini pun untuk mendonorkan darah bukanlah hal yang bisa dia tolak. Sudah sukur tidak dibius sampai pingsan.
Emir yang baru pertama kali melihat sosok bajingan yang telah mengambil keperawanan Amara sungguh geram.
Dengan menahan amarah, Emir mencoba tenang dan masuk kedalam. Kemudian dia membisikan sesuatu pada Fahri, dan Fahri mengangguk mengerti.
"Bisakah dia ditinggalkan didalam bersama para rekan medis, Pak?" Fahri mengatakan itu pada kedua pria berseragam polisi dan juga pengacaranya.
"Agar proses dapat segera dilakukan, kami tak punya banyak waktu," kata Fahri lagi dengan sedikit memohon.
Akhirnya kedua polisi itu bersama dengan pengacara tadi keluar ruangan.
Kini tinggal lah Emir, dua tenaga medis dan juga pria berbaju oren itu.
Emir memberi kode untuk menyiapkan peralatan donor.
Rencananya transfusi darah itu dilakukan terpisah. Emir tak ingin bajingan itu satu ruangan dengan Aidan, terlebih bersebelahan dengan anak malang yang masih koma.
"Loe dokter?" pekik pria itu saat melihat Emir berjalan mendekat kearahnya.
"Loe nggak punya hak buat maksa gue, bangsat!" sekali lagi pria itu memekik saat melihat Emir semakin berjalan mendekatinya, bahkan tatapan mata Emir terlihat ingin menelannya hidup-hidup.
Dengan gerakan cepat, Emir meraih rahang pria didepannya lalu dia dorong hingga mengehentak keras ke sisi dinding.
"Nggak usah banyak mulut, bajingan!" geram Emir sambil mencengkram keras rahang pria itu, sedangkan satu tangannya menekan dada pria itu agar tak bergerak maju.
"K-kayanya l-loe b-butuh banget darah gue, heh?!" ujarnya susah payah karena rahangnya ditekan kuat oleh Emir. Bahkan saat dia berbicara, terlihat samar sebuah senyuman yang mengejek.
Emir hanya terdiam dengan tatapan nanar serta deretan giginya yang mengerat. Pria yang kini terlihat acak-acakkan dan sudah pasti kelelahan itu tak sedikitpun kehilangan stamina saat melihat bajingan didepannya untuk pertama kalinya.
"Kita lihat nanti," ujar Emir. Kemudian dia meminta perawat pria mendekat ke arahnya.
"Ambil sekarang," titah Emir.
Perawat lelaki itu agak takut-takut saat melakukannya. "Saya butuh bagian lengan --"
Belum sempat perawat lelaki tadi menyelesaikan bicaranya, Emir langsung membalikan tubuh lelaki itu menghadap tembok. Dengan gerakan cepat dan kasar sampai lelaki tadi memaki dengan berkata, "Anjing!! Sakit! tolol!" maki lelaki itu pada Emir.
"Bahkan ini belum ada apa-apanya, bajingan!" desis Emir menekan kepala lelaki itu hingga wajahnya benar-benar menekan dinding.
Secepat kilat perawat tadi mencari titik nadi pada pergelangan tangan pria yang sedang dalam kuasa Emir. Setelah dapat, perawat itu pun mundur.
"Sepuluh menit untuk mengetahui hasilnya, Pak," kata perawat wanita itu menatap Emir. Emir mengangguk.
Setelah melihat kedua perawat itu melakukan serangkaian tes yang masih didalam ruangan yang sama, Emir kembali menarik paksa rambut lelaki tadi, lalu dengan sekuat tenaga dia melempar tubuh kurus lelaki itu hingga terpelanting ke lantai.
"Loe punya masalah apa hah, sama gua?!" pekiknya dengan napas terengah-engah pada Emir yang berdiri menjulang dihadapannya.
Melihat muka menantang lelaki itu, kemudian Emir berjongkok, sebelah tangannya kembali meraih rahang lelaki tadi untuk dia tarik sedikit keatas, dan dengan tatapan tajam, Emir berkata, "Loe yang udah cari masalah sama gua, Bangsat!" desis Emir penuh geram, lalu mengehempaskan rahang lelaki itu sampai dia terjungkal kebelakang.
...Bersambung...