Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
142| Membawa Ke Planet Lain



MELIHAT wanita yang sudah beberpa hari ini sadarkan diri dengan tak mengenali wajahnya, Emir panik.


"Aku, Emir!" tegasnya. Amara terlihat memindai wajah Emir dalam ingatannya.


Tanpa diduga Amara meraih wajah Emir dengan sentuhan lembut dari tangan kirinya, ke arah rahang pria itu, dan berkata, "Emir?" Amara membeo. Dan Emir mengangguk cepat.


Emir begitu was-was saat melihat reaksi Amara yang seperti tak mengenalinya.


Mungkinkah Amara mengalami ...


"Sejak kapan kamu menumbuhkan kumis dan ... ini?" tunjuk Amara pada deretan rambut yang terlihat baru tumbuh yang bersarang di bagian atas rahang wajah pria itu.


Seketika Emir menyentuh lengan Amara yang masih menempel diwajahnya.


Ah. Emir merasa lega, ternyata kecemasanya hanya prasangka belaka. Jelas ingatan Amara baik-baik saja.


Sejak kepulangannya dari Tokyo dua hari yang lalu, Emir begitu sibuk mengurus kondisi Aidan dan juga bolak-balik melihat perkembangan Amara. Dia tidak memiliki kesempatan untuk bercukur. Dan dia baru sadar, ternyata rambut pada wajahnya muncul ke permukaan minta di belai.


Oh, dan satu lagi. Selama di rumah sakit, Emir hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk mandi. Padahal kegiatan untuk bersih-bersih tubuhnya itu, Emir biasanya bisa menghabiskan waktu sampai dua puluh lima menit.


Apa saja yang Emir lakukan selama itu di kamar mandi.


"Kamu mengingatkanku pada Om Ahmad," ujar Amara dengan senyum. Sepertinya wanita itu merindukan orangtua Emir yang kini menetap di kampung halaman Emir. Majalengka.


Emir terkekeh seketika mendengar penuturan Amara. Emir jadi rindu pada sosok ayahnya itu. Banyak yang ingin dia diskusikan. Termasuk keputusannya untuk fokus membesarkan bisnis lainnya setelah dia melepaskan Izekai -- Perusahaan yang pernah dia bangun mati-matian.


"Nanti akan Aku bersihkan," ujar Emir. Lalu dia mengelus wajah Amara. Dan Amara menyambut lengan Emir, kemudian dikecupnya.


"Aku mau bantu kamu bersihin, tapi tanganku kananku masih sulit bergerak," ujar Amara yang sadar bahwa ada bebatan perban pada pergelangan tangan kanannya. Dokter bilang pergelangan pada tangan kanannya juga retak.


"Kalau gitu aku nunggu kamu sampai sembuh aja untuk bersihkan ini," ujar Emir dengan senyum mengembang.


"Kamu pasti lelah mengurus kami, sampai kamu nggak sempat merawat diri," lirih Amara. Emir menggeleng cepat.


"Dokter tadi bilang, sejak kecelakaan itu aku tidak sadarkan diri selama dua hari. Dan kamu nggak beranjak sedikitpun dari sini," kata Amara. "Makasih ya, Mir," lanjutnya.


Emir hanya menggeleng lemah, kemudian dia mendekatkan kursi yang dia duduki agar lebih dekat pada wajah Amara.


CUP!


Dan sebuah kecupan singkat tapi dalam, dilakukan Emir pada bibir pucat Amara.


Ah, Emir benar-benar merasa lega melihat kondisi Amara yang semakin membaik. Bahkan wajah pucat wanita itu terlihat merona sekarang.


"Aku yang harusnya berterimakasih. Karena kamu sadar lebih cepat," aku Emir.


"Dimana Aidan?" tanya Amara tiba-tiba.


Emir menatap sendu ke arah wanita yang baru saja menanyakan anak mereka.


Ya. Bagi Emir, Aidan adalah putranya. Apalagi setelah dua hari yang lalu saat dirinya pertama kali melihat sosok lelaki yang sialnya adalah ayah biologis Aidan. Emir tak rela. Dan dia berharap, malam itu adalah malam terakhir mereka bertemu. Tentu saja dia berharap sosok Deny tidak pernah muncul lagi, apalagi dihadapan dua orang yang sangat dia cintai dan sayangi.


"Aidan masih dalam masa observasi, dokter bilang kalau semua tak ada masalah, besok Aidan akan langsung dipindahkan ke ruangan ini bersamamu," kata Emir.


Tentu saja Emir tak akan menceritakan secara detil apa yang dialami Aidan. Dan dia pun sudah meminta pada seluruh staf rumah sakit yang menangani Aidan untuk tidak mengungkapkan kebenarannya dihadapan Amara.


Terlebih saat kejadian dimana bajingan bernama Deny itu kembali dibuat babak belur oleh Emir sesaat setelah mendonorkan darahnya pada Aidan.


Jika ingat hal terakhir yang lelaki itu katakan, rasanya Emir ingin membawa Amara dan Aidan pindah ke planet lain.


...Bersambung...