
KINI mereka telah tiba di sebuah kamar yang diperuntukkan bagi Aidan.
Kamar itu adalah kamar yang dulu ditempati kedua orangtua Emir saat mereka tinggal disana. Letak kamarnya tepat disebelah kamar Amara -- saat wanita itu masih remaja.
Aidan terlihat sudah sangat tak sabar saat Emir akan membuka pintu kamar itu. Wajah mungilnya seolah mengatakan 'ayo Papa, i can't wait anymore!'. (ayo Papa, aku nggak sabar lagi!)
Klak!
Saat engsel pintu kamar itu mengayun dan membuka dengan perlahan -- seketika kepala Aidan langsung menyembul kedalamnya. Bocah itu benar-benar sudah tak sabar. Dan dia langsung menerobos masuk kedalamnya.
"Wah! Ini keren, Pa!" seru Aidan kegirangan. "Aku suka -- aku suka! Terimakasih Papa!" pekik bocah itu dengan tatapan yang masih fokus mengarah pada interior kamar yang akan menjadi markasnya. Lalu anak itu mulai menjelajah.
"Enggak masalah kan kalau aku pakai kamar ini untuk, Aidan?" tanya Emir menoleh pada Amara yang juga sedang terpukau memandangi interior kamar putranya.
Toh itu sudah terjadi bukan?
Wallpaper tiga dimensi dengan gambar ruang angkasa yang mendominasi membuat ruangan itu disulap seperti aslinya. Belum lagi tempat tidur Aidan yang mirip seperti pesawat luar angkasa. Dan juga lampu-lampu tidur yang bergelantung menyerupai bintang dan planet. Benar-benar terlihat seperti nyata.
"Ini terlalu berlebihan untuk kamar seorang anak, Mir" ucap Amara yang matanya masih berkeliling menatap interior seisi kamar itu.
"Aku ingin, Aidan tumbuh dengan imajinasinya," kata Emir.
Amara mengalihkan tatapannya ke wajah Emir yang sedang memperhatikan Aidan, lalu Amara mengikuti tatapan pria itu ke arah anaknya.
Ya. Bocah yang bulan depan akan menginjak usia 6 tahun itu terlihat bahagia. Bingkai tawa diwajahnya tak pernah lepas. Bahkan mulutnya terus merapalkan kata 'amazing' setiap kali menemukan sesuatu yang keren untuk interior kamarnya.
Aidan akan tumbuh menjadi anak paling bahagia. Itulah yang Amara pikir jika mereka hidup bersama pria disebelahnya.
"Terimakasih, Mir," ucap Amara yang kini berdiri menghadap Emir. Raut wajah Amara menatap sendu pada pria itu.
"Tak ada pelukan buatku?" celetuk Emir dengan senyum yang terkesan usil.
Benarkan! Emir terlihat lebih agresif.
Amara mengulum bibirnya, lalu mengembuskan napasnya perlahan.
Baiklah! Kali ini Amara akan melakukannya. Emir sudah sejauh ini membuat Aidan bahagia. Dan Amara akan mulai yakin untuk percaya pada pria itu. Dan bersama Emir, hidupnya perlahan akan pulih -- harap Amara.
Entah mengapa belakangan ini Emir terlihat semakin tampan. Paras Emir dalam balutan versi dewasa membuat jantung Amara seolah berpacu tak karuan.
Benarkah pria ini yang melamarnya bulan lalu?
Yang menginginkan menikahi dirinya yang tak menarik ini?
Ditambah sudah melahirkan seorang anak pula.
Emir tak waras. Amara mulai cemas dengan pikirannya sendiri.
Emir lebih dulu merentangkan kedua tangannya -- menatap Amara dengan tatapan mengiba seperti bocah yang minta dipeluk.
Melihat pergerakan Emir, kontan kedua tangan Amara menelusup kebalik punggung Emir yang terasa keras dan berotot. Setelah itu mereka pun saling merapatkan tubuh.
"Terimakasih, Emir," gumam Amara dipelukan pria itu.
Amara mengendus kuat aroma Emir yang mulai membuatnya terbiasa. Dan wanita itupun menyandarkan kepalanya ke dada bidang Emir -- mencari kenyamanan ditubuh pria yang kini terasa lebih kekar. Emir benar-benar menjaga performa -- Amara pikir begitu.
Sama halnya dengan Amara. Kini Emir benar-benar terkejut dengan pergerakan wanita yang ada didalam pelukannya. Seperti kucing yang minta disayang. Refleks tangan Emir mengelus punggung Amara, berkali-kali pula Emir mengecup puncak kepala wanita itu. Emir benar-benar merasa telah diterima.
"Aku benar-benar senang kamu bersikap seperti ini padaku, Amara," bisik Emir disela-sela kecupannya pada puncak kepala wanita itu.
Amara meremang saat Emir berbisik sensual padanya. Ditambah kecupan-kecupan pria itu dikepalanya yang semakin intens.
"Aku merasa dibutuhkan sama kamu," bisik Emir dengan semakin memeluk tubuh ringkih Amara. "Aku menginginkan ini sedari dulu," ungkapnya lagi.
Saat kedunya tengah tenggelam dalam rasa yang mulai bergelanyar.
Tiba-tiba ...
"Papa membingkainya?!"
...Bersambung...