Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
146| Gurauan Emir



MENDENGAR kembali ucapan Emir yang akan memboyong dirinya dan juga Aidan ke kota dimana lelaki itu pernah dilahirkan, tentu saja membuat Amara berbinar. Tapi ...


"Aku dan Aidan cuma akan menjadi beban lagi nanti," lirih Amara.


Emir berpindah duduk dari posisinya disebelah Amara, kini beralih ke bawah. Lelaki itu memegangi lutut Amara sambil menempelkan dagunya. Amara sedikit berjingkat geli. Jambang Emir yang kembali tumbuh begitu tajam menusuk kulit lutut atasnya. Sebab Amara masih mengenakan baju handuknya yang hanya sebatas atas lutut saat duduk.


"Kamu anggap hubungan kita ini apa, Tweety?" tanya Emir sambil menggesek-gesekan dagunya dengan sengaja ke kulit lutut Amara. Lelaki itu tau Amara kegelian.


Dan benar, Amara terkikik geli dengan perlakuan Emir. Dia memegang kepala Emir untuk menahan agar pria itu berhenti menggodanya.


"Jangan panggil Aku Tweety, Aku sudah terlalu tua untuk dipanggil seperti itu," keluh Amara.


Saat Emir akan menyela ucapannya, Amara kembali berkata, "lagi pula Tweety itu burung berjenis kelamin lelaki," tukasnya.


"Biar begitu kamu tetap memburu semua koleksinya, kan?" sanggah Emir. "bahkan kamu rela membeli semua koleksi pernak-pernik burung itu dari yang termurah sampai edisi yang terbatas," Emir kembali mengingat bagaimana wanita dihadapannya dulu memiliki kamar khusus untuk menyimpan semuanya.


Amara hanya menghela nafas. "Itu masa lalu,"


"Oh!" seolah baru ingat, Emir beseru. "Kemana semua barang-barang itu? Aku hanya melihat koper saja," tanyanya.


Dari sekian ratus jenis koleksi yang dulu dibeli Amara, hanya tersisa satu saja, yaitu koper kecil bergambar kepala tweety yang dulu Emir ingat saat pertama kali dia melihatnya teronggok dikamar pembantu. Dan siapa yang mengira bahwa pembantu yang dia sewa adalah Amara. Wanita yang selama ini dicarinya.


"Sebagian besar aku jual, dan sisanya aku bagi-bagikan," beritahu Amara.


Emir mengernyit. "Menjualnya?" tanyanya seolah tak yakin.


Amara mengangguk. "Sandrina mengikutsertakan Aku saat ada Jakarta Fair," terangnya. Dan Emir sudah bisa membayangkan hal itu jika seorang Sandrina yang ikut turun tangan. Pasti ludes dalam sekejap.


Menyebut nama Sandrina seketika Amara jadi teringat dengan salah satu sahabatnya. Satu minggu sebelum Amara keluar dari rumah sakit. Sandrina dibawa oleh keluarganya menuju Singapura. Dan sampai detik ini, dirinya baru sekali berkomunikasi lewat sambungan telpon dengan sahabatnya itu.


"Apa Sandrina akan baik-baik saja?" tanya Amara khawatir. Sebab bahu sebelah kiri wanita itu cedera parah akibat terkena himpitan pintu mobil yang tertabrak keras oleh mobil dari arah kiri.


Dan satu hal lagi yang membuat Emir harus gigit jari. Lelaki itu terpaksa harus menunda niatnya untuk mempersunting Amara. Tanpa sadar Emir menghembuskan nafasnya berat.


Musibah yang terjadi adalah kehendak takdir. Emir hanya berharap bahwa kejadian ini dapat membuat Amara semakin yakin padanya. Karena Emir tahu betul. Perasaan Amara tidak sama sepertinya.


Melihat wajah Emir yang tiba-tiba murung, Amara memiliki sebuah ide.


"Tanganku sudah pulih. Gimana kalau aku yang cukur jambang kamu?" Dan benar saja, seketika wajah Emir bersemangat. Tanpa basa-basi Emir membawa Amara dalam gendongannya, dan wanita itu spontan melingkarkan kedua lengannya di leher Emir. Kemudian Emir membawanya untuk keluar dari kamar wanita itu.


"Mir, Turunin! Nanti Bunda liat" pekik Amara dengan suara tertahan saat Emir membawanya ke arah kamar yang pernah Emir tempati.


"Bunda lagi di taman sama Aidan," tukas Emir dengan santai.


Sesampainya mereka dikamar yang Emir tempati, lelaki itu langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mendudukan wanita itu di wastafel. Lalu dia meraih peralatan cukur yang ditaruh di lemari kaca tepat di belakang Amara.


"Ayo mulai," pinta Emir setelah dia memberikan sebuah botol shaving foam dan juga alat cukur ke tangan Amara.


Amara hanya berdecak sambil menggeleng dengan tingkah Emir yang tak terduga.


Perlahan Amara menyemprotkan busa disekitar wajah Emir yang berdiri diantara himpitan kedua paha Amara. Lalu dia mulai mengeriknya secara perlahan dan hati-hati.


Pandangan Emir tak lepas memperhatikan wajah Amara yang begitu fokus dalam pekerjaanya. Sudah lama dirinya tak memandang Amara sedekat dan se-intens ini. Garis wajah wanita itu semakin matang dan terlihat dewasa. Membuat jantung Emir semakin berdebar tak karuan dan membuat dirinya tiba-tiba menelan saliva, sampai jakunnya naik turun. Tentu saja hal itu tak lepas dari perhatian Amara. Dan wanita itu tiba-tiba berdeham.


"Apa warga disana nggak masalah kalau orangtua kamu tiba-tiba membawa dua orang asing untuk tinggal satu rumah?" tanya Amara tanpa menatap Emir. Dia sedang memiringkan kepalanya ke kanan untuk menjangkau ke arah rahang Emir agar mata pisau bisa sempurna membersihkan bulu-bulu diwajah pria itu.


Emir menahan tangan Amara untuk berhenti. Lelaki itu tau arah pembicaraan Amara. Dan sepertinya Emir terpaksa akan mengatakan sesuatu yang sebenarnya bertolak belakang dengan dirinya. Namun, ini adalah solusi yang tepat, pikir Emir.


"Kalau Aku melakukan ijab kabul dulu, apa kamu nggak keberatan?"


...Bersambung...