
...Hai, Apakabar?...
SUDAH lewat beberapa hari dari rencana yang Edo usulkan. Akhirnya hari itu datang juga. Sesuai yang di katakan Edo, Emir harus memberi jeda beberapa hari dari hari terakhir mereka bertemu--untuk kembali menemui Amara
Hari ini Emir hanya mengenakan celana jeans warna abu, dan kemeja putih yang bagian lengannya di lipat hingga hampir mencapai siku--hingga menampilkan otot keras pada lengannya yang putih bersih.
Emir yang duduk disebelah kemudi--terlihat gugup, dan Edo menyadari hal itu dari sikap sang Bos yang sedari tadi menghela nafasnya berkali-kali.
Kendaraan milik Edo sudah memasuki area perumahan megah itu. Perasaan Emir makin tak karuan--bahagia yang bercampur menjadi satu dengan kekhawatiran. Semoga wanita itu bisa menerimanya kali ini.
Sesampainya di depan rumah, gerbang hitam kokoh yang menjulang tinggi itu langsung dibuka oleh Satpam penjaga. Edo pun langsung memarkirkan kendaraannya yang lumayan jauh dari pintu utama.
Edo menoleh ke Emir tepat setelah dia melepaskan seatbelt-nya. "Anda siap, Pak?" ujar Edo seolah ingin memastikan.
Kembali Emir menghela nafasnya perlahan. "Tentu!" tegas Emir yang kemudian membuka pintu mobil.
Didalam rumah itu, Amara sedang meletakkan beberapa pajangan keramik di atas meja kayu jati diruang tengah. Keramik-keramik itu adalah koleksi dari milik almarhumah ibunya.
Jenis keramik kokoh yang dihiasi pernak pernik berlian imitasi itu sangat cantik dan beraneka ragam bentuknya--menyerupai binatang-binatang kecil seperti kelinci, kucing, dan binatang lucu lainnya. Dia membersihkan dengan sangat hati-hati, menggunakan sikat berbahan halus, Amara menggosok dan menyapunya dengan teliti.
Saat Amara sedang asik dengan kegiatannya itu, tiba-tiba suara bell pintu terdengar. Amara tau, itu adalah Edo.
Kemarin, Edo menghubungi Amara guna memberitahukan kedatangannya ke rumah ini untuk memperbaharui kontrak kerja sekaligus mengenalkan seseorang yang Edo bilang adalah Atasannya.
Amara yang memang tidak tahu bahwa Edo adalah Asisten pribadi Emir, tentu saja tak ada rasa curiga. Amara hanya berpikir bahwa Atasan yang akan dikenalkan pria itu mungkin adalah pemilik rumah ini.
"Selamat siang, Tuan Edo ...," sapa Amara saat melihat Edo berdiri dengan mimik wajah yang berbeda. Baru pertama kali Amara melihat senyum yang dipancarkan dari wajah pria itu, bahkan garis mata sipitnya ikut melengkung membentuk senyuman juga.
Suasana terlihat hening sesaat, sampai akhirnya Amara membuka pintu itu lebih lebar agar Edo segera masuk.
"Silahkan, Pak," ujar Edo yang seketika menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan Atasannya lebih dulu masuk.
Tentu saja Amara sempat melihat sepasang sepatu lain tadi. Dengan mengikuti gerakan Edo, Amara pun menggeser tubuhnya agar Bos dari Edo itu dapat masuk.
"Sila--," Amara tak dapat melanjutkan kalimatnya saat melihat sosok itu.
Jantung Amara berdetak hebat, darahnya seolah berdesir sampai menimbulkan rasa panas luar biasa disekujur tubuh ringkihnya.
"Hai, Amara. Apakabar?" suara tertekan yang begitu kontras dengan senyumnya yang mengembang perlahan, Emir menyapa wanita pujaanya yang hampir seumur hidup ia nantikan.
Amara tak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Pria itu--Emir, akhirnya mereka bertemu lagi.
Ya... ini juga harapan yang Amara nantikan--bertemu dengan Pria yang berdiri tegak dengan tatapan sendu kearahnya. Wanita itu mencoba meredam semua ego dimasa remaja yang menjadikan dirinya jauh dari Pria ini bertahun-tahun lamanya. Amara tak boleh lari.
Ingin sekali Amara memeluknya, dan mengadukan semua perasaan tentang kehidupan yang selama ini terjadi padanya. Tapi ... Amara takut.
...Bersambung...