
...Titik Terendah...
HARI-hari terus berlalu, tak terasa satu semester sudah dilewati Amara untuk berkuliah disalah satu Universitas Negeri yang ada di Jakarta.
Gadis itu akhirnya mengambil fakultas yang memang dia minati. Olahraga.
Hari ini Amara sedang berada di Gelora Bung Karno, gadis itu sedang mengikuti seleksi tahap akhir untuk pemilihan calon Atlit yang akan dikirim sebagai perwakilan untuk Pekan Olahraga Tingkat Nasional.
Saat Amara akan mulai bersiap, tiba-tiba seorang Pria berkumis datang menghampiri gadis itu.
"Amara, ada yang sedang menunggu kamu" ujar Pak Rudi. Salah satu pengurus dari Tim seleksi.
Amara mengerutkan keningnya. Dia ingin bertanya, tapi niat itu ia urungkan. Kemudian gadis itu berjalan ke arah yang Pak Rudi katakan.
"Amara!" panggilnya. "Sebaiknya semua barangmu dibawa saja dulu" Pak Rudi menunjuk beberapa perlengkapan; Tas, botol minum, handuk dan handphone yang tergeletak di lahan semen yang tak jauh dari Amara berdiri.
Entah mengapa gadis itu menurut saja. Semua pertanyaan di benaknya dia simpan sendiri dan tak diucapkan.
Saat sudah berada di tempat yang mirip lobi, Amara melihat Pak Karyo, supir yang kini mengambil alih tugas Ayah Emir.
"Pak Karyo?" Amara berjalan ke arah pria paruh baya itu dengan tatapan bingung. "Ada apa?" tanyanya kemudian.
"Emm ... Neng Amara, Ibu cuma suruh saya untuk jemput saja" ucap Karyo terderngar ragu.
Tanpa banyak bertanya lagi, Amara langsung mengikuti supirnya itu.
Didalam perjalanan menuju rumah, jantung Amara tak henti-hentinya berdebar, ada rasa perih yang tak ia pahami.
Saat tiba di area komplek perumahan mewah, Amara melihat begitu banyak mobil yang masuk kearah yang sama dengannya, dan yang lebih membuatnya bertanya-tanya adalah banyaknya mobil dengan stiker berlambangkan chanel dari stasiun-stasiun TV terkemuka sedang terparkir didekat rumah rumah besar itu.
Sedangkan Pak Karyo yang sedang membawa laju mobil itu hanya diam tak berani menjawab apalagi memandang Amara yang ada di kursi penumpang.
Semakin mendekat ke area rumahnya, semakin pula terlihat ramai. Bahkan beberapa Petinggi di Negeri ini pun terlihat memasuki gerbang hitam tinggi yang kini sengaja dibuka lebar.
Dan yang membuat mata Amara membelalak tak percaya adalah beberapa karangan bunga yang bertuliskan 'TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA DR. Ir. ANDAR SALIM'.
Saat gadis itu membaca beberapa karangan bunga yang sejenis, dia langsung menepuk kursi Pak Karyo yang sedang memperlambat laju kendaraan.
Tanpa kata, Amara membuka pintu mobilnya dan berlari secepat kilat hingga menembus kerumunan orang-orang yang ada disana.
Air mata gadis itu mengucur deras, dadanya kembali sesak diiringi sesenggukan menahan suara tangisnya yang hampir pecah.
Siang tadi saat Amara sedang melakukan pemanasan, sebenarnya kabar berita di televisi tengah ramai dengan meninggalnya salah satu Anggota DPRD yang ambruk saat tengah bermain Sepak Bola.
Dan anggota DPRD yang diduga adalah Papa dari Amara. Andar Salim.
Tim Dokter mendeteksi bahwa Andar terkena serangan jantung saat tengah melakukan olahraga sejuta umat itu.
Tubuh yang sudah terbujur kaku di atas kasur dan dengan kain panjang berwarna coklat bercorak batik khas Solo telah menutupi tubuh sang Papa.
Amara berjalan perlahan ke arah tubuh tak bernyawa di hadapannya. Disamping mayat itu sudah ada Liana yang tengah terduduk sambil mengelus ujung kepala Suaminya.
"Pa-pah ..." suara parau gadis itu begitu pilu terdengar.
...Bersambung...