
...Sekali Kacung. Tetap Kacung!...
SAAT melihat Emir berlari sekuat tenaga mengejar mobil yang dinaiki Amara, Edo langsung melesat mengejarnya, seumur-umur baru kali ini Edo lari sore, bukan untuk olahraga melainkan mengejar Sang Bos.
Dulu saat di Jepang, Edo sering menemani Emir untuk olahraga lari, itupun dilakukan di dalam gym, bukan dijalanan umum seperti yang mereka lakukan sore ini--sungguh konyol.
Emir terlihat memegang kedua lututnya sendiri sambil terengah-engah, Edo tak kalah buruk dari itu. Berlari bak orang kesetanan di tengah ramainya jalanan Ibu kota disertai polusi yang dapat membuat kotor paru-paru adalah hal yang luar binasa. Ini sih habis lari bukannya sehat, melainkan sesak nafas dengan sakit paru-paru setelahnya.
"Ambil mobil, Do!" seru Emir masih mengatur nafas, yang saat itu membuat Edo langsung menganga. "Cepat!" Suara Emir kali ini kembali ke mode Komandan Perang, menggelegar--tak peduli para pejalan kaki melihatnya.
Mau tak mau Edo menurutinya. Karena percuma berbicara dengan Emir yang seperti ini. Tak akan masuk ke telinga. Akhirnya Edo balik kanan dan berjalan dengan gontai.
"Lari, Edo!" seru Emir yang membuat Edo tak berani menoleh, dan segera Pria tak berdaya itu kembali lari dengan perasaan dongkol yang hanya tertahan di hati.
Tak butuh waktu lama begi Edo membawa mobil CRV miliknya, dengan segera Emir masuk di samping kemudi.
"Ke Pondok Indah!" Perintah dari Emir ini membuat Edo bersiap membuka mulutnya untuk bertanya. "Aku yakin, Amara dibawa perempuan itu" ungkap Emir yang membuat Edo juga berpendapat sama.
Tapi kenapa Pondok Indah?--Tempat yang sama dimana rumah Amara berada. Itulah yang kiranya Edo pikirkan.
Saat di acara Reuni tadi, Emir sudah melirik Sandrina yang tengah asik berbincang dengan teman-temannya semasa mereka masih di SMA. Sudah gatal rasanya Emir ingin mendatangi Perempuan itu, tapi Sandrina seolah bersikap tak mengenalnya, sehingga membuat Emir merasa ragu untuk mendekat.
Dan disinilah mereka sekarang--di Kediaman Orang tua Sandrina. Rumah yang dulu sering dia dan Amara kunjungi hanya sekedar untuk bermain, rumah yang pernah jadi persembunyian Amara setelah Emir melupakan janjinya.
Emir segera berdiri saat melihat kedatangan Sandrina dengan tatapan menyalak.
"Katakan. Dimana Amara?" tanpa basa-basi, Emir pun langsung menuduh Sandrina yang terlihat semakin murka.
Sandrina berjalan semakin cepat ke arah Emir yang wajahnya terlihat berantakan. "Hei!" Sandrina mengangkat jari telunjuknya dan diarahkan tepat ke wajah Emir. "Kamu pikir, siapa Kamu? Datang dan duduk ke rumah orang sembarangan. Disini nggak terima Pengemis!" tuduh Sandrina dengan arogan.
Sandrina menatap Emir dengan tatapan menelanjangi. "Walaupun tampang dan cara berpakaianmu seperti ini. Kacung tetaplah Kacung!" maki Sandrina yang sudah kepalang benci melihat Emir.
Emir mencoba menyadari beberapa hal, dari awal perkenalannya dengan Perempuan judes di hadapannya ini--saat SMP, Emir sadar bahwa Sandrina memang tak pernah suka dengan keberadaan dirinya disekitar Amara. Dan dia harus kembali mengalah untuk menahan keegoisannya.
"Please, Sandrina. Beritahu aku dimana Amara" Emir benar-benar mengemis saat ini.
Sandrina duduk di sofa yang tak jauh darinya. menyilangkan kedua kaki dan menangkup lengannya di dada.
"Sejak kau meninggalkan Amara. Kau sama sekali tidak berhak tau tentangnya, apalagi mengharapkan bertemu!" ujar Sandrina dengan tatapan sinis.
...Bersambung...