
"Amara ada bersamaku," beritahu Melani pada Emir yang kini membelalakan matanya.
Beberapa hari yang lalu Melani dikejutkan oleh kedatangan Amara yang tiba-tiba di Apartemennya.
Biasanya Amara akan memberi kabar satu hari sebelumnya jika dirinya akan datang. Namun, ada yang berbeda dengan kedatangannya hari itu.
Melani tak pernah bertanya banyak hal sampai temannya itu duluan yang memberitahu. Saat itu Melani yakin ada sesuatu yang Amara sembunyikan, dan ternyata benar, kedatangan Emir menjelaskan banyak hal yang baru saja dia ketahui.
Terlebih berkas persalinan Amara sekitar empat tahun lalu. Padahal, dia dan suaminya sudah mengurus hal itu untuk ditutup rapat-rapat. Apalagi Sandrina, teman ekstrim satunya itu sangat bekerja keras mengerahkan semua kekuasaannya dan juga kekuasaan dari nama besar Ayahnya agar kasus Amara tak terkuak dan terkubur selamanya.
Berkas dihadapan Melani memang tak menjelaskan terperinci apa yang dialami Amara. Namun tetap saja, bagaiman perempuan bernama Helma itu bisa tau perihal ini? Dan siapa orang yang ada dibelakangnya sampai bisa menekan Amara dengan kenyataan yang sudah susah payah Melani dan Sandrina sembunyikan.
Sekarang permasalahannya, apakah Melani harus memberitahukan Emir tentang kejadian traumatis yang pernah dialami Amara?
Emir memang bukanlah orang asing. Melani pun sangat mengenal Emir. Dia adalah pria kedua yang begitu memperhatikan, menyayangi dan menghormati Amara, setelah Om Andar--Ayah Amara.
Jadi, jika Melani mengatakan segalanya kepada Emir, tak akan jadi masalah kan? Emir pasti bisa dipercaya. Apalagi setelah Melani tau kenyataan bahwa Emir juga mencintai Amara. Ya ... kenyataan yang sudah lama dia selidiki walau hanya sebatas tebakan semata, tapi dengan kedatangan Emir kali ini, Melani yakin sekali, bahwa pria dihadapannya masih memiliki rasa yang tak pernah pudar terhadap Amara.
"Mir," lirih Melani menatap wajah Emir yang menampakkan senyum lega setelah mendengar apa yang Melani katakan tadi. "Ada yang ingin aku sampaikan," ucap Melani dengan tatapan serius, sampai membuat senyum terhenti.
"Aku harap, apa yang akan aku sampaikan, bisa kamu simak dengan baik," tekan Melani.
Melani meraih air mineral didalam gelas yang tersaji di meja untuk membasahi tenggorokannya. Kemudian dia mulai bersiap untuk bercerita.
Kejadian yang menimpa Amara kurang lebih 5 tahun yang lalu. Saat itu Amara masih berumur 23 tahun. Perempuan rapuh itu sudah tak memiliki siapa pun. Ada pun Om nya, adik dari almarhum sang Ayah memang tinggal di kota yang sama--Jakarta, namun Amara tak pernah ingin menyusahkan siapapun.
Amara berprinsip, selama masih bisa berdiri diatas kakinya untuk menghidupi dirinya sendiri, dia pantang meminta belas kasih. Padahal kedua sahabatnya--Sandrina dan Melani adalah orang-orang yang memiliki latar belakang yang luar biasa hebat. Namun demi menjaga kemurnian persahabatan yang sudah mereka jalin sedari SMP, kedua sahabatnya itu akan menghormati setiap keputusan yang Amara buat.
Sampai pada suatu malam, saat itu hujan lebat mengguyur Ibu Kota Jakarta dengan begitu deras. Dan Amara terjebak di Terminal Lebak Bulus.
Sebagian wilayah Jakarta digenangi oleh air hujan, sehingga banyak angkutan umum yang terpaksa tak bisa beroperasi, dan sebagian penumpang yang tadi ikut duduk di dalam kursi terminal, sudah pergi satu persatu dijemput keluarganya menggunakan kendaraan beroda dua. Namun tidak dengan Amara, perempuan itu tak memiliki siapapun untuk dihubungi agar bisa menjemputnya. Jadi dengan terpaksa, Amara hanya menunggu dengan berharap hujan reda dan banjir dapat surut secepatnya.
Dalam penantiannya yang berharap hujan segera reda itu, seorang pria berjalan mendekati Amara yang sedang duduk seorang diri didalam terminal.
"Pulang ke mana, Neng?"
...Bersambung...