Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
98| Welcome Home



TAKSI yang membawa Emir, Amara dan Aidan telah sampai di rumah megah dengan pagar hitam kokoh yang menjulang tinggi.


Sudah satu bulan lebih Amara tak melihat rumah ini. Rumah yang menjadi saksi tumbuh kembangnya dengan sejuta kasih sayang dan juga secuil kepedihan.


Rumah yang beberapa tahun lalu dia dan Ibunya jual untuk pengobatan, kini bisa kembali dia tempati, bahkan Aidan pun bisa turut tinggal dirumah yang begitu banyak menyimpan kenangan hidupnya. Dan semua itu berkat Emir.


Ya. Lagi-lagi Emir membantunya.


Aidan terbangun saat pagar rumah itu dibuka. "Apa kita sudah sampai, Ma?" lirih bocah itu sambil mengucek matanya.


"Iya. Ayo bangun," sahut Amara sambil membantu Aidan untuk duduk.


"Mau Papa gendong?" tawar Emir pada Aidan, Dan anak itu pun mengangguk sambil merentangkan tangan kecilnya ke arah Emir.


Amara mengikuti langkah Emir yang kini sedang berbicara dengan Pak Mahdi -- penjaga rumah Amara.


"Tolong bantu saya turunkan koper ya, Pak?" pinta Emir.


"Baik, Pak Emir" sahut Mahdi.


"Selamat datang mbak Amara," ucap Mahdi saat melihat sosok Amara.


Amara menanggapinya dengan senyum canggung sambil menundukkan kepalanya sekilas.


Sebenarnya Mahdi termasuk pegawai baru yang di rekrut oleh Emir untuk menjaga rumah Amara pasca pria itu kembali menebusnya dari sitaan Bank. Awalnya Mahdi kenal Amara karena perempuan itu dulu datang sebagai pekerja juga, sama seperti dirinya. Namun, saat Mahdi melaporkan pada Emir prihal kejadian Helma yang tiba-tiba datang dan melabrak Amara dirumah itu -- Mahdi baru tahu, jika ternyata Amara bukanlah orang asing bagi pria yang mempekerjakannya.


Setelah Emir melihat Mahdi menuju bagasi mobil -- Emir menoleh ke arah Amara yang kini sudah berdiri disampingnya. Kemudian pria itu meraih tangan Amara untuk dia genggam dan membawanya masuk ke halaman rumah megah itu.


Melangkah masuk ke halaman rumah itu, Amara dibuat tertegun saat melihat kumpulan mawar putih bertengger disebelah kiri membentuk lingkaran. Begitu banyak -- sehingga terlihat seperti setangkai mawar putih yang besar.


Wanita itu melepas tautan jemarinya dari Emir, dan berjalan ke arah kumpulan mawar-mawar putih itu dengan antusias.


Emir menurunkan Aidan dari gendongannya dan menuntun bocah itu untuk menghampiri Amara.


Amara terlihat berjongkok untuk mengendus bunga mawar itu.


"Kamu suka?" tanya Emir yang sesungguhnya tak perlu lagi pria itu tanyakan.


Lihatlah wajah binar ceria Amara. Itu adalah raut wajah yang sama, saat dulu Emir berhasil menanam bunga mawar untuk pertama kalinya di halaman yang sama saat mereka masih remaja.


Saat mereka masih duduk dibangku SMA, Emir pernah meminta ijin pada Liana--Ibu Amara, untuk menanam mawar putih diantara bunga-bunga lainnya.


Dan saat Mawar putih yang Emir tanam itu tumbuh cantik diantara bunga yang ada disekitarnya, Amara meminta pria itu untuk menanam lebih banyak mawar putih di pekarangan depan.


Balkon kamar Amara adalah saksi dimana wanita itu dulu selalu tersenyum senang saat puas memandang mawar putih dan bunga lainnya yang Emir rawat di pekarangan rumahnya


Amara mendongak ke arah Emir yang berdiri dibelakangnya. Lalu dia berdiri menghadap Emir.


"Banget, Mir. Aku suka banget. Semua ini jadi mengingatkan aku saat masih tinggal disini," ucap Amara begitu senang. "Aku jadi kangen saat kita sekolah dulu, Mir," ungkapnya lagi.


Emir mendekat ke arah Amara dan meraih wajah wanita itu dengan tangan kananya.


"Rumah ini ... selamanya akan tetap menjadi milik kamu. Dan kita akan mengukir kenangan baru dirumah ini, bersama Aidan," ujar Emir menatap sayu sambil mengelus pipi Amara dengan ibu jarinya.


...Bersambung...