
PENERBANGAN Tokyo - Jakarta menempuh jarak kurang lebih delapan jam. Emir tiba di Bandara Soekarno Hatta hampir menjelang pukul empat, sore itu.
Menghirup kembali udara dari Negara kelahiran adalah hal yang membuat Emir selalu nyaman. Terlebih, seolah beban berat yang dia pikul terangkat sudah.
Suasana riuh dan bisingnya Bandara siang itu terasa ada yang berbeda. Terlebih saat sebuah nama disebut oleh dua orang perempuan yang baru saja melewatinya.
Apa mereka bilang?
Sandrina seorang Desainer muda asal Indonesia yang tengah meroket di Paris mengalami insiden kecelakaan lalu lintas?
Emir agak tidak yakin bahwa Sandrina yang mereka bicarakan adalah Sandrina sahabat dari Amara yang juga merupakan teman SMP mereka.
Sekali lagi untuk memastikan, Emir meraih gawainya, lalu dia menuju ke halaman pencarian dan mengetikan sebuah nama ...
Sandrina --
Dan seketika wajah yang diyakini Emir adalah perempuan itu langsung muncul dihalaman pencarian. Berbagai macam web dari hampir seluruh media lokal dan internasional mengeluarkan berita yang persis apa yang dikatakan oleh dua orang perempuan tadi.
Dalam pemberitaan itu dikatakan, bahwa Desainer muda kebanggaan anak bangsa tengah koma di rumah sakit Siloam Semanggi sejak pukul satu siang, hari ini.
Tunggu ...
Bukankah itu rumah sakit yang berlokasi di Jakarta? Emir pikir kejadian itu tidak disini, karena setahu Emir, Sandrina masih berada di New york saat terakhir Amara menghubungi sahabatnya itu.
Emir terpaku sejenak. Ini terlalu tiba-tiba. Emir khawatir jika Amara mengetahui berita ini, dia akan syok berat.
Tanpa pikir panjang, Emir langsung menghubungi ponsel Amara. Namun, sayangnya nada sambung tak terdengar. Emir yakin ponsel Amara mati, dia berpikir bahwa Amara tengah sibuk bersama Aidan prihal pertemuan dengan agen iklan itu.
Tapi ini sudah terlalu lama dari waktu yang terakhir kali Emir menghubungi wanita itu. Apakah mereka langsung mengambil gambar Aidan di hari yang sama?
Tak mau berasumsi, akhirnya Emir kembali melangkah menuju taksi yang sudah siap menanti penumpang. Sambil kembali menghubungi seseorang. Dan kali ini adalah Slamet -- sopir pribadi yang dia pekerjakan untuk Amara dan yang mengantar wanita itu menemui agen iklan hari ini.
"Halo, Pak ... Amara ada bilang selesai jam berapa?" tanya Emir tanpa basa-basi dalam sambungan telpon itu.
[Wah, tidak, Pak Emir. Sebelumnya saya minta maaf, saya tidak jadi mengantar, Non Amara] tukas Slamet. Dan langkah Emir terhenti.
"Tidak mengantar?" Emir mengulang perkataan Slamet dengan alis berkerut.
"Teman? Teman yang mana?" tanya Emir yang kembali mengulang perkataan sopirnya itu.
[Yang seperti Model itu, Pak. Yang rambutnya diwarnai seperti bule, cantik pokoknya, Pak]
Penjelasan Slamet masih belum bisa diterima Emir. Dengan tidak sabar, Emir kembali berkata, "Namanya, Pak? Saya butuh namanya!" tandas Emir.
[Sen ... Sendi, eh, Sandi --] sahut Slamet terbata dan terdengar sedang berusaha mengingat.
"Sandrina?!" sela Emir yang tak sabar.
[Nah, betul, Pak, itu nama --]
Tut!
Tanpa berniat mendengarkan penjelasan Slamet, Emir memutus sepihak panggilan itu.
Dengan lihai, jemarinya men-scroll layar ponselnya untuk kembali ke beranda berita yang mengabarkan tentang kecelakaan yang dialami Sandrina.
Jakarta Selatan, Jumat (10/07) sekitar pukul 13.00 WIB telah terjadi kecelakaan lalu lintas di daerah Semanggi - Jakarta Selatan.
Kecelakaan beruntun itu disebabkan dari mobil truk bermuatan besi yang oleng dan terguling. Sehingga mengakibatkan pada kendaraan lain disekitatnya yang saling menabrak dan berbenturan.
Dua korban dinyatakan meninggal di tempat dan delapan lainnya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dalam kecelakaan itu terdapat korban yang dikenal sebagai seorang Desainer yang baru-baru ini membuat gebrakan di ajang Paris Fashion Week.
Dalam mobil yang dikendarai sendiri oleh sang Desainer, ternyata terdapat seorang wanita berinisial (AS) yang berusia sekitar 28 tahun. Dan juga seorang anak lelaki yang diperkirakan berusia 6 tahun. Ketiganya kini sudah dipindahkan bersama-sama ke MRCCC Siloam Hospitals Semanggi atas permintaan dari pihak keluarga.
Berulang kali Emir membaca potongan berita online itu, dia menelaah setiap kata yang tersusun muak saat membacanya. Pria itu berharap inisial 'AS' bukanlah Amara-nya. Namun, sosok korban lain yang mengatakan ada seorang anak lelaki berusia hampir 6 tahun, membuat Emir tak bisa mengelak. Itu adalah kedua orang yang Emir sayangi.
"Sial!" desis Emir sambil mencekik ponselnya dengan sekuat tenaga.
Seolah dia baru menyadari, ternyata perasaan lega yang sempat dia rasakan siang ini hanyalah sebuah bentuk persiapan untuk menghadapi berita buruk. Sungguh! Dunia Emir seolah runtuh.
...Bersambung...