Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
144| Waktu Yang Tepat



"Nanti gimana sama kerjaan kamu, Mir?


Alih-alih bertanya masalah pekerjaan, nyatanya Amara merasa khawatir akan respon kedua orangtua Emir perihal keberadaan Aidan jika mereka bertemu.


Lain halnya Amara yang sedang dilanda gelisah. Mendengar pertanyaan wanita itu, Emir justru baru teringat bahwa Amara belum mengetahui kebenaran tentang dirinya yang sudah memutuskan untuk mundur dari Izekai Megatech untuk selama-lamanya.


Kemarin Edo sudah mengabarkan prihal beberapa aset pribadi milik Emir yang sudah dipindahkan.


Edo juga sempat menceritakan bagaimana kacaunya pertemuan internal antar petinggi Izekai yang mengetahui bahwa Emir memutuskan mundur dari perusahaan yang sebagian besar dirintis oleh lelaki itu sejak beberapa tahun yang lalu.


Mereka semua, terutama Tadaki -- ayah dari Helma sangat tidak menyangka bahwa Emir akan mengambil keputusan itu.


Seperti pepatah 'senjata makan tuan', Tadaki kini baru merasakan kepincangan dengan mundurnya Emir dari Izekai. Kini nasib ratusan karyawan tidak tau akan bagaimana.


Lain halnya Tadaki yang seperti kebakaran jenggot. Emir yang tahun ini sudah genap berusia dua puluh sembilan tahun itu sudah memiliki rencana lain. Dia dan Edo sebenarnya sudah mendirikan perusahaan bayangan yang bergerak dibidang yang sama dengan Izekai.


Edo yang begitu terperinci dan begitu dikenal dikalangan investor sejak dirinya bekerja dibawah Izekai, tentu saja dengan leluasa memanfaatkan data-data para investor itu untuk beralih pada perusahaan kecil yang dia dan Emir kembangkan.


Edo dan Emir adalah kombinasi lengkap bagi terbentuknya usaha mereka yang terhitung baru. Bedanya, kini posisi Edo bukan lagi Asisten pribadi Emir. Tetapi mereka adalah rekan bisnis yang memiliki kesamaan hak.


Maka saat Amara khawatir prihal pekerjaan lelaki itu jika mereka meninggalkan Jakarta, justru hal itu bukan lagi masalah bagi Emir.


"Bisa dilakukan dimanapun," ujar Emir menjawab kekhawatiran wanita yang masih terbaring lemah. "Kamu kenal Edo, kan? Dia bisa diandalkan," pungkasnya yakin.


Mendengar nama Edo, tentu saja Amara percaya. Dan jawaban Emir membuat dirinya tenang.


Tapi ...


"Kenapa harus kesana? Bagaimana jika Bunda ... dan Aidan--" Amara sungguh kesulitan merangkai kata.


Amara menelan ludahnya sekuat tenaga. Tenggorokannya tercekat, dia juga sangat rindu pada 'Bunda perinya'.


"Aku yang anak kandungnya saja tidak pernah dirindukan sampai Bunda sesakit itu tak bertemu aku," gurau Emir yang memang benar adanya. Mereka tertawa renyah.


Beberapa waktu lalu, Emir memberi kabar pada ayah dan ibunya tentang kondisi Amara. Pria itu berpikir bahwa sang Ibu bisa memberi dukungan mental agar Amara tidak merasa sendiri.


Perihal Aidan. Emir tak pernah menutupi apapun dari orangtuanya.


Sesaat Amara menerima lamaran Emir ketika mereka di Sydney tempo lalu, Emir pun menggunakan kesempatan itu untuk mengabari orangtuanya bahwa dia berhasil menemukan Amara.


Pada kesempatan itu dia juga menceritakan semua yang dia tahu tentang kehidupan yang dijalani Amara selama ini. Lelaki itu merasa lega ketika mendapati respon orangtuanya yang tidak terlalu banyak bertanya perihal kejadian perkosaan itu. Sang Ibu malah ngotot mau bertemu saat itu juga. Namun, Emir memberi pengertian bahwa Amara butuh persiapan.


Dan Emir berpikir sekaranglah saatnya. Lelaki itu juga tidak gegabah dalam mengambil keputusan untuk mempertemukan Amara dengan orang-orang dari masalalu wanita itu, dia tetap mendiskusikan hal ini pada Melani selaku Psikiater yang mendampingi pemulihan mental Amara selama ini. Dan Melani memberikan dukungan penuh terhadap niat Emir.


"Bunda sama Ayah ... ingin sekali bertemu kamu. Mereka juga ingin mengenal Aidan, boleh?" tanya Emir begitu hati-hati.


Tak dipungkiri bahwa Amara juga butuh sosok Fatma, pelukan hangat yang serupa dengan pelukan ibu kandungnya itu sudah sangat lama Amara impikan. Dia ingin bertemu untuk mengadukan semua keluh kesahnya selama ini.


Dan akhirnya Amara mengangguk untuk berkata, "Aku juga kangen mereka,".


...▪︎▪︎▪︎...


"Ada sesuatu yang ganjal pada kecelakaan itu, Mir," beritahu Beryl.


Kini mereka berada diruangan khusus bersama beberapa orang yang sangat Emir kenal.


...Bersambung...