
EMIR berdiri tegap menyambut kedatangan wanita yang beberapa menit lalu telah sah menjadi istrinya.
Binar matanya selaras dengan tarikan bibirnya yang mengembang. Tak bertemu Amara selama dua minggu membuat Emir tak karuan. Rasanya seperti dua tahun bagi Emir.
Padahal kisah pertemuan dan perjalanan perasaannya pada Amara terhitung lebih dari 20 tahun.
Saat pertamakali menyadari bahwa wanita itu telah mencuri perhatiannya, Emir langsung mengunci perasaannya dan berjanji bahwa hanya Amara lah yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.
Dia menjaga harapan itu agar selalu ada dan bertumbuh seiring dengan usahanya untuk memantaskan dirinya sendiri. Menggiring nasib agar mewujudkan garis takdir yang mungkin saja sudah Tuhan tulis di Lauhul mahfudz.
"Pa, itu Mama?" bisik Aidan yang kini berdiri disebelah Emir.
Keberadaan anak kandung Amara itu juga menjadi sorotan. Penampilan bocah itu seperti miniatur Emir. Tak ayal orang-orang yang hadir menyangka bahwa Emir adalah duda beranak satu.
Mendengar riuh sorakan dari beberapa teman Emir yang hadir, membuat lelaki itu menarik nafas dan memberanikan diri menatap dengan lekat kedatangan Amara ke arahnya.
Bagaikan dejavu, Emir seperti diterbangkan ke-23 tahun yang lalu. Tepat dimana pertama kali dia datang ke rumah ini saat ia seusia Aidan.
Amara masih tetap sama seperti kala itu. Menyambutnya dengan senyum yang manis dan begitu tulus. Tapi kali ini debaran yang dirasakan Emir sungguh jauh berbeda. Apalagi saat melihat penampilan wanita itu yang semakin matang. Amara begitu cantik dimatanya.
"Pa! Ini cincinya," bisik Aidan lagi yang membuat Emir tersadar dari keterpanaannya.
"Makasih, Boy" Emir mengusap kepala Aidan, lalu mengambil cincin yang ada dalam kotak beludru yang dipegang bocah lelaki itu.
Emir menatap wajah Amara dengan senyum yang selalu terpatri. "Hello Wife ...," gumam Emir sambil meraih lengan Amara dan memasukan cincin emas putih bertahta batu berlian kecil diatasnya. "Kita sudah sah!" ucapan Emir membuat Amara mengulum senyum.
Aidan yang terlihat berada di tengah kedua orangtuanya itu ikut tersenyum bahagia saat melihat interaksi dua orang dewasa itu. Kendati belum terlalu paham. Tapi dia yakin bahwa Mama dan Papanya saling menyayangi.
"Sekarang gantian Mama yang pasangkan ini," beritahu Aidan sambil menyodorkan kotak yang berisi cincin yang serupa. Namun milik Emir tak memiliki hiasan berlian diatasnya.
Amara sedikit menunduk ke arah anaknya. Lalu memeluk putranya dengan sayang dan mencium pipi Aidan di kanan dan kirinya. "Makasih anak Mama," tutur Amara sambil meraih cincin untuk sang suami.
Emir yang melihat kejadian itu tentu saja iri. Bahkan dia yang jadi pengantin prianya saja belum mendapatkan ciuman. Kalah dengan anak angkatnya. Tapi dari lubuk hati Emir. Tentu dia ikut bahagia melihat interaksi Amara yang kini lebih ekspresif.
"Kang Emir ...," desisan lembut Amara membuat Emir membeku menatap sang Istri. Entah keberanian dari mana Amara bisa bicara begitu. "I love You, Kang." Belum selesai dengan keterkejutannya di panggil semanis tadi. Kini Emir kembali dibuat lemas seketika dengan pernyataan Amara. Untung saja belitan cincin yang disematkan istrinya barusan membuat kakinya tegak kembali.
Kemudian Emir menyentuh ubun-ubun sang istri sambil bergumam Bismillah. Lalu tangannya beralih menangkup wajah wanita itu. Dan satu kecupan tersemat dikening istrinya. Begitu dalam dan cukup lama.
Amara merasakan desiran hangat saat sang suami memperlakukannya selembut dan semanis itu. Dengan rasa syukur yang mendalam, dia pun membalas dengan mencium tangan Emir penuh kasih.
Tepuk tangan menyadarkan dua insan itu bahwa kini mereka masih menjadi pusat perhatian.
Tiba-tiba Emir jadi tidak sabar ingin acara ini diselesaikan secepatnya saja. Dia sempat menyesal menyanggupi permintaan Sandrina untuk prosesi resepsi yang pastinya akan memakan waktu lama.
Pesta pernikahan yang niatnya sederhana dengan mengundang keluarga dan karib dekat saja, ternyata malah semewah dan seramai ini bagai reuni akbar.
Kondisi yang ramai dan hangat ini tentu saja tak pernah Amara bayangkan. Ternyata begitu banyak orang-orang yang turut bahagia bersama dirinya. Tak terkecuali Aidan yang kini sedang bercengkerama dengan Rossy--teman semenjak masih bayi. Keduanya masih terlihat akrab kendati sudah lama tak bertemu.
"Kita foto keluarga dulu ya," ujar seorang fotografer yang ternyata adalah teman SMP dari pengantin yang kini tengah berbahagia.
Sosok yang bernama Galuh yang pernah dipercaya Emir untuk mengabadikan Amara saat gadis itu menjadi pemandu sorak sebagai pengiring tim basket disekolahnya dulu. Dan kini Emir kembali mempercayakan temannya itu untuk mengabadikan momen yang sangat berharga.
Dipelaminan telah berkumpul perwakilan dari kedua belah pihak. Kedua orang tua Emir yang berada disisi pria itu. Dan juga Om Fahri beserta istrinya--Tante Dahlia yang hari ini dipercaya sebagai pendamping pengantin wanita.
Amara meminta Melani dan suaminya turut serta. Tentu saja Rossy--anak Melani yang lincah itu sudah ambil posisi bersama Aidan yang berdiri didepan Amara dan Emir. Sungguh manisnya kedua anak itu.
Terakhir adalah Sandrina. Sahabat Amara yang begitu berjasa dalam mengatur pesta pernikahannya menjadi begitu megah tapi juga terkesan hangat.
Kehadiran wanita itu yang kini berada dalam gendongan seorang lelaki yang Amara kenal sebagai Asisten Emir, begitu mencuri perhatian. Terlihat romantis, akan tetapi sebagian yang hadir tentu tau kecelakaan mobil yang dialami Desainer kondang itu telah membuat pergelangan kaki kirinya patah. Sehingga membuat dia kesulitan untuk berjalan.
Setelah semua siap pada posisinya. Galuh sebagai orang yang akan mengabadikan momen penting itu pun mulai bersiap dengan kamera kesayangannya.
"Semuanya siap ya?!" titah Galuh sambil mengarahkan kamera itu ke arah pelaminan yang telah dipenuhi mawar putih, bunga kesukaan Amara. "Tiga ... Dua ... Satu!"
Cekrek!
Dan senyum semua orang yang baru saja diabadikan dalam beberapa jepretan itu terlihat sangat bahagia dan tulus. Hal itu membuat Galuh merasa sangat puas dengan profesinya sebagai seorang fotografer. Sebab berkat orang-orang sepertinya lah, setiap momen dalam hidup dapat diabadikan menjadi sebuah foto yang kemudian akan menjadi kenangan dan cerita untuk masa depan.
...TAMAT...