
"Do! Jalankan rencanaku," titah Emir pada Edo -- sang asisten, dalam sebuah sambungan telpon.
Setelah kepulangannya dari rumah Helma, Emir bergegas menghubungi asistennya itu. Dia sadar, bahwa usahanya akan sia-sia dalam mempertahankan posisinya menjadi orang nomor satu di Izekai.
Bahkan Edo yang sudah mati-matian menghubungi para investor untuk memihak Emir pun dirasa percuma. Semua tak akan berjalan sesuai kehendaknya. Terlebih rapat besar pemegang saham untuk menurunkan posisi Emir hanya tinggal beberapa hari lagi.
Emir melempar ponselnya kesembarang arah. Lalu dia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Membuka setelan pakaiannya yang sedari pagi belum sempat dia ganti.
Emir berjalan gontai ke arah shower berada. Dalam kucuran air hangat yang membasahi tubuh kekarnya, Emir menghujat dengan berbagai makian kata kasar. Seolah detik ini adalah cara terbaik meluapkan semua perasaan perihnya dikhianati.
Dari awal membangun nama Izekai, Emirlah yang paling berusaha keras. Mengorbankan semua yang dia miliki ; uang tabungan, Motor kesayangan dari almarhum orangtua Amara, bahkan waktu -- yang membuat dirinya jauh dan tak bisa melindungi wanita yang sudah mengikatnya dari sejak mereka bertemu. Amara Salim.
Dan kini, karena sebuah ambisi sialan yang dimiliki Tadaki dan putrinya yang berusaha menguasai Emir dan juga semua kerja kerasnya melalui sebuah pernikahan, membuat Emir merasa jijik.
"Kalian pikir aku sebodoh itu," desis Emir menahan geram.
Emir berjanji. Mereka -- Tadaki, Helma dan orang-orang yang telah bersekutu menusuk Emir dari belakang, akan menyesalinya.
Berbeda dengan Emir yang sedang menenangkan dirinya untuk meredamkan amarah. Di kediaman mendiang nenek Helma, malah terdengar pekikan serta amukan diiringi suara barang yang jatuh berserakan.
Wanita yang dikenal anggun dengan karakter tenang itu nampaknya sudah tidak sanggup menjaga sikap palsunya.
Mendengar penolakan Emir dengan segala pernyataan dari pria itu membuat harga diri Helma seakan diinjak-injak.
Belum lagi caci maki yang akan dilontrakan keluarga besar ayahnya.
Pandangan orang-orang terhadap citra dirinya.
Dan ...
Dia tidak salah. Jika boleh memilih, Helma lebih menginginkan tak dilahirkan saja. Dari pada harus menanggung aib yang tak dia lakukan.
"Aku korbankan harga diriku dihadapanmu, Mir. Tapi ini balasanmu!" desis Helma dengan napas memburu.
Sesaat kemudian ...
Prang!!
"Aaakkh!" pekik Helma yang kini kembali melempar kembali perabotan yang tak bersalah.
Kali ini sasarannya adalah meja makan. Semua makanan yang sudah susah payah disajikan olehnya, kini berserakan dilantai.
Daging dengan olahan bumbu teriyaki yang Helma kira adalah kesukaan Emir, dia injak-injak sampai hancur tak berbentuk.
Ya! Makanan laknat itu ternyata adalah kesukaan dari perempuan manja bernama, Amara. Si benalu murahan yang tak tahu diri. Menikmati begitu saja hasil dari jerih payah yang selama ini membuat Helma bersusah payah.
"Baiklah, Mir. Kau yang memilih ini. Jangan salahkan aku!"
Dari perkataan Helma tersirat sebuah makna pembalasan yang sebenarnya tak ingin dia lakukan. Namun, sikap pria yang sudah sepuluh tahun terakhir ini bersamanya membuat Helma tak bisa menahan.
Dan tak ada lagi toleransi untuk orang-orang yang menganggapnya tak berharga. Helma sudah tak peduli lagi.
Menatap nanar pada barang-barang yang berserakan. Helma mencoba mengatur napas sambil berjalan ke arah buffet dimana dia meletakkan ponselnya.
Setelah meraih ponsel dan mencari nama kontak yang dia tuju, Helma akhirnya memutuskan sebuah panggilan. "Lakukan dengan bersih!" titahnya.
...Bersambung...