
MELIHAT nama Emir yang melakukan panggilan video itu, Amara langsung membenahi penampilannya. Dia merapihkan rambutnya menggunakan jemari, lalu melakukan peregagan pada wajahnya yang terasa kaku. Terakhir, membenarkan letak duduknya di atas ranjangnya.
Setelah dirasa siap, Amara mulai menggeser tombol terima pada panggilan video dilayar ponselnya.
[ Hai ...,] sapa Emir.
Wajah pria itu langsung muncul dari ponsel Amara dalam panggilan video itu.
"Hai," sahut Amara.
Mereka terlihat seperti anak puber yang baru jatuh cinta. Menggemaskan. Kemudian Amara membalas senyuman hangat dari Emir untuk menghilangkan sikap kikuk nya.
[Kamu suka dengan ponselnya?] tanya Emir.
Amara mengangguk. "Iya, ini keren," ucap wanita itu mengulum bibir merahnya.
Reaksi yang ditunjukkan Amara membuat Emir terkikik geli. Pasalnya mirip anak SMP yang baru saja diberikan hadiah.
Emir sengaja membelikan ponsel itu untuk Amara, pasalnya wanita itu masih menggunakan ponsel yang terbilang jadul dengan kondisi fisik yang sudah banyak retaknya.
Saat memberikan ponsel itu pada Amara, wanita itu sempat menolak keras. Ya, seperti sifatnya, Amara tak mau memiliki hutang budi.
Teringat bahwa Amara pernah bekerja dalam perjanjian yang diajukan oleh Edo--Asisten Emir --untuk bekerja sebagai tukang bersih-bersih, akhirnya Emir menggunakan alasan bahwa barang itu adalah salah satu bentuk bayaran atas kerja kerasnya.
Teringat akan hal itu, Emir merasa bersalah, karena dia tidak tahu, pekerja yang melakukan perjanjian itu ternyata adalah Amara. Dan kejadian itu membuat Emir memarahi Edo habis-habisan. Karena merasa asisten yang dikenal teliti dan handal itu melewatkan informasi penting mengenai data Amara. Padahal pria itu sedang dalam pencarian keberadaan Amara.
Setelah Emir berkata bahwa ponsel itu adalah salah satu bentuk bayaran atas kerja kerasnya, Amara pun tak akan segan lagi untuk menerimanya.
Dari ponsel canggih itu juga, Amara bisa memantau Aidan dari jauh, karena terhubung dengan alat GPS yang terpasang di jam tangan Aidan yang juga diberikan oleh Emir karena produk keluaran terbaru dari perusahaan pria itu.
Emir bilang sih, sebagai percobaan awal sebelum resmi meluncur ke pasaran.
[Kamu di Kamar?] tanya Emir.
Pasalnya pria itu melihat walpaper yang menjadi latar belakang Amara saat ini.
[Jagoanku mana?] tanya Emir lagi yang heran tidak melihat Aidan yang biasa menempeli ibunya sepanjang waktu.
"Aidan lagi pergi jalan-jalan," beritahu Amara.
Sejak pagi, Aidan dan Rossie sudah pergi. Keduanya diajak berleliling kota Sidney oleh Melani dan suaminya. Melani bilang ini adalah jalan-jalan terakhir sebelum Aidan pindah ke Jakarta -- sebagai bentuk kenang-kenangan.
[Kamu nggak ikut?] tanya Emir.
"Badan ku lagi nggak enak. Lemes," ungkap Amara yang membuat Emir panik seketika.
Wajah wanita itu memang terlihat sedikit pucat jika diperhatikan.
"Sakit apa??" tanya Emir yang kini mengubah posisi duduk bersandarnya menjadi tegak.
[Bawaan tamu bulanan,] sahut Amara menjawab kekhawatiran Emir.
"Pembalutnya ready ?" tanya Emir serius menatap ke arah Amara dalam bingkai ponsel Apelnya.
Amara terlihat terkekeh dalam panggilan video itu.
"Kok ketawa. Kamu kan selalu gitu kalo lagi menstruasi. 'Miir ... aku tembus.', 'Miir ... beli pembalutnya yang extra large pake sayap,' udah kaya pesen pizza, ada extra-nya segala," goda Emir.
Pria itu terkekeh geli saat menirukan cara bicara Amara saat menerawang sikap wanita itu dikala mereka masih remaja.
Ya. Sedari dulu Amara memang selalu bergantung padanya. Emir merasa dibutuhkan jika bersama Amara.
Dan Emir lupa, sejak kapan Amara sudah tak lagi manja padanya. Emir sebenarnya rindu dengan sikap Amara yang seperti itu. Rasa dominan sebagai seorang lelaki rasanya membuat Emir bak pahlawan yang selalu dinanti.
Melihat Amara yang masih terkekeh geli dalam panggilan video itu, Emir hanya bisa memandanginya saja dari balik layar ponsel miliknya.
"Aku kangen ...," ungkap Emir pada akhirnya.
...Bersambung...