
DULU wanita itu pergi dari Negara kelahirannya dengan membawa segudang derita dan juga buah tragedi dalam rahimnya.
Amara mempertahankan bayi tak berdosa itu hanya karena satu hal--dia tak ingin sendiri. Amara sadar betul akan semua resiko yang akan menimpanya saat memutuskan mempertahankan janin dari hasil pemerkosaan yang dialaminya.
Akan tetapi kekhawatiran itu seketika sirna saat dia membayangkan seorang janin dalam rahimnya berharap akan sebuah kehidupan darinya. Detak jantung janin itu menggugah rasa keibuan Amara untuk memberikan kesempatan pada si jabang bayi untuk melihat Dunia.
Berbagi suka dan duka bersama calon bayi-nya--mungkin lebih baik, daripada menyesali telah menjadi pemutus nyawa. Begitulah pikirnya.
Menapaki tanah kelahirannya bersama sang putra adalah hal yang tak berani Amara bayangkan selama ini.
Namun keberadaan Emir disampingnya, membuat wanita itu sedikit tenang.
Amara memang wanita yang naif. Amara yang tumbuh dan dibesarkan bak seorang putri, membuat wanita itu kesulitan saat hidupnya dihempaskan dalam kemalangan bertubi-tubi.
Dia tidak siap saat itu. Namun, kerasnya kenyataan hidup yang dialaminya pasca kedua orangtuanya meninggal, membuat Amara seolah mau tak mau harus siap bertanggungjawab akan dirinya sendiri. Dan kini ditambah Aidan--putranya yang malang.
Tapi dia kembali terngiang akan ucapan Emir--lelaki yang kembali hadir setelah sepuluh tahun tak bertemu. Lelaki yang tidak mempermasalahkan masalalunya. Lelaki yang bersedia menjadi Papa bagi putranya--walau tak ada ikatan darah diantara mereka.
"Kamu bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dariku, Mir. Kehidupanku terlalu rumit untuk kamu pahami. Aku ... bukan lagi Amara yang kamu kenal,"
"Yang lebih baik mungkin banyak. Tapi cuma kamu yang aku harapkan bisa menjadi pendampingku, Amara. Percayakan semuanya padaku, kamu hanya cukup menggenggam tanganku. Semua akan baik-baik saja"
Perbincangan dimalam pertama saat Emir melamarnya--membuat Amara yakin akan bisa mengahadapi lika-liku kehidupan bersama Emir untuk kedepannya.
Memikirkan kekhawatirannya, membuat Amara sakit kepala.
Benar kata Melani-- 'jangan memikirkan hal rumit yang belum tentu terjadi'. Dan mulai sekarang Amara pun akan mengikuti saran Melani untuk mempercayakan masadepannya bersama Emir.
Hampir tiga jam diatas pesawat. Kini ketiganya sudah menaiki taksi online menuju kediaman Amara.
Ratusan mobil mewah berdampingan di jalan aspal dengan angkutan umum yang sebagian badannya sudah berkarat. Menandakan bahwa Ibu Kota adalah milik siapa saja bagi yang ingin mencari peruntungan.
Didalam mobil--Aidan tertidur pulas dipangkuan Amara. Emir sendiri duduk disebelah Amara sambil menyanggah kaki Aidan di kedua paha pria itu.
"Tidurnya pulas sekali" ujar Emir menatap ke arah Aidan.
"Semalam dia enggak bisa tidur. Karena nggak sabar buat ke Jakarta," beritahu Amara sambil tersenyum geli saat mengingat hal itu. "Ini perjalanan Aidan kedua kalinya ke Jakarta" katanya lagi sambil mengelus rambut Aidan.
Emir mengalihkan tatapannya ke wajah sendu Amara. "Dan dia nggak akan hidup terpisah lagi sama Mama-nya" ucap pria itu dengan senyum hangat.
Amara membalas tatapan Emir. "Semua berkatmu. Terimakasih," ucapnya yang juga tersenyum.
Emir mendekatkan wajahnya ke arah Amara yang duduk disebelah kanannya. Karena jarak duduk mereka yang dekat, hal itu membuat Emir dengan mudah mengecup kening Amara.
CUP
Sontak Amara membelalakan matanya. Lalu.dia menoleh ke arah supir taksi yang masih serius berkendara, lalu kembali menatap tajam ke arah Emir yang sedang terkekeh kearahnya.
"Disini ada orang lain!" ujar Amara panik dengan suara hampir berbisik menahan malu.
Emir hanya tersenyum geli melihat tingkah Amara yang malu-malu dengan semburat merah di wajah wanita itu.
Kemudian dengan cepat Emir meraih tangan kiri Amara dan mengecup punggung tangan wanita itu--membuat Amara kembali menatap tajam ke arah Emir.
"I love you," lirih Emir berkata dengan senyum.
...Bersambung...